Selasa, 30 Mei 2017

Guru Cantik Dan Muda







Serbubet Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olah raga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar.
Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu.

Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa.

Pada suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Lisa. Dia orangnya cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Lisa.

Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat-cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat bu Lisa. Aku memberanikan diri berhenti dan menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama 1 minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.

Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Lisa pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Lisa.

Dan ketika kupamit Ibu Lisa memegang tanganku dan…

“Jangan pulang dulu, dong!” Ibu Lisa menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.
“Udah malam Bu, takut entar dimarahi…” Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.
“Jangan panggil aku Ibu Lisa, coba tebak berapa umurku?” ternyata umurnya terpaut 5 tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.
“Panggil aku Lisa.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu.”

Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.

Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Lisa kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.

“Aku punya 3 buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus.”

Kujawab dengan singkat, “OK!” lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Lisa hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

“Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?” Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang hanya tertutup kain tipis.

Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.

“Kamu kenapa, kok pucat”, aku terdiam.
“Kamu takut ya?” Aku tetap terdiam.
“Aku tau kamu suka aku.” Aku terdiam.
“Hey, ngomong dong.” Aku tetap terdiam.

Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.

Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Lisa membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.
“Kamu suka, ya?” aku mengangguk.

Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran.

“Ke.. ke… kenapa Lis?” kataku terbata-bata.

Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Lisa. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah,

“Aku… aku… ah…!”

Aku membiarkannya, ketika Lisa mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang kemaluanku dengan mesranya.

“Ah… crot… crot… crot…!” Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala kemaluanku.

Aku malu, malu setengah mati.

“Tenang, itu biasa kok.”

Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul,

“Ya aku berani, aku nekat!”

Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.

“Kamu mulai nakal, ya.”
“Ibu guru tidak suka.”

Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua.

Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.

Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow… batang kejantananku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku.

“Buka celana kamu, semuanya…!” Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya.

Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh bibir lubang kemaluannya,

“Crot… cret… creeett…!” Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum.

Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.

“Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku.

Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.

“Bles… sss… sek!” Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya.

Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.

“Oh Dig…!” Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku.

Selama ini Lisa hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku.

“Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun.

Aku merasakan batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Lisa. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.

“Ah… ah… ah, ah… oh!” Nafasnya memburu.
“Ah Dig… ah… ah… ooowww!” Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum.

Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang kemaluannya. “Ntar dulu ya Jedig Sayang.” Dia mengangkat tubuhnya sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain.

“Eit… sabar dong, kita belum selesai kok.” Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku.

Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… seperti di film-film itu.

Aku mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku.

“Blesss…” Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur.

Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi.

“Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww!” Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya.

Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.

Kembali aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.

“Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi Dig, terus.”

Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.

“Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!”
“Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!”

Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.

“Dig cepetan ya sayang…!”
“Aku capek.”

Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.

“Ah… oh… Ufff… aaah…!”
“Crot… cret… cret…!”

Muncratlah air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.

Beberapa bulan setelah percintaanku dengan Ibu Lisa… Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.

“Lisa… hey…!” Lisa menengok dan matanya melotot.
“Ups… Ibu Lisa!” Aku lupa, dia kan guruku.
“Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku.

Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tulisan itu.

Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Lisa. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Lisa.

Penjaga Warung Itu






Serbubet Aku adalah seorang karyawan pada sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kredit barang
keperluan rumah tangga. Namun pekerjaanku di lapangan, yaitu sebagai seorang kolektor (Collector). Jadi
kegiatanku sehari-hari adalah menarik uang tagihan dari pelanggan yang mengambil barang secara kredit
dari perusahaanku. Dalam pekerjaanku, sekali dalam sebulan, aku pasti akan bekerja di luar kota.


Pengalaman yang ingin ku ceritakan ini adalah peristiwa yang terjadi saat aku harus melakukan penarikan
di luar kota. Waktu itu, aku berangkat menggunakan sepeda motor. Karena pertimbangan kemacetan, aku
memilih untuk memilih jalan alternatif, yaitu jalan menuju luar kota yang melewati perkampungan. Jarak
yang harus ku tempuh memang lebih jauh, tetapi waktu yang ku tempuh untuk mencapai tujuan relatif lebih
cepat, karena jalan alternatif ini masih dalam kondisi baik dan jauh dari kemacetan.

Warung Remang-Remang Di tengah perjalanan, tiba-tiba langit menjadi gelap. Aku sadar bahwa aku tidak
membawa jas hujan, sehingga ku pacu motorku lebih cepat berharap tiba di tujuan sebelum hujan turun.
Ternyata tanpa disangka, hujan justru menghadangku di depan perjalanan. Mau tidak mau aku harus mencari
tempat untuk berteduh. Sialnya aku terjebak hujan justru di daerah hutan dan persawahan. Ku pikir tidak
kan ada tempat berteduh di tempat seperti ini, sehingga ku pacu motorku lebih cepat untuk bisa mencapai
daerah pemukiman warga berada tak begitu jauh di depan.

Dalam cepatnya aku memacu motorku, tiba-tiba melihat sebuah rumah tua dengan warung minum di depannya.
Aku langsung menghentikan motorku dan memutar balik menuju warung itu. Setibanya di warung itu, aku
langsung melompat masuk ke warung dan meninggalkan motorku di depan warung. Dengan nada bicara sesopan
mungkin aku minta izin untuk berteduh kepada pemilik warung yang ternyata, seorang gadis cantik yang
masih berusia belasan tahun. Wanita itu dengan sopan mempersilahkanku untuk duduk berteduh di warungnya.

Warung minum sederhana yang saat itu kebetulan sepi, memberikan kesempatan kepadaku untuk sedikit
bercakap-cakap dengan pemilik warung itu. Dari percakapan itu ku ketahui bahwa namanya Nurlaila, dia
bukan pemilik warung, tetapi anak dari warung yang ternyata hari itu kebetulan sedang pergi ke pasar
untuk membeli barang dagangan yang sudah habis. Lela panggilan singkatnya, dia berhenti sekolah saat
kelas I SMA, karena Bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Jadi sekarang
pekerjaannya adalah membantu ibunya menjaga warung minum kecil tersebut.

Kalau kuperhatikan, gadis ini sangat cantik alami, rambut panjang terikat di belakang, bibirnya tipis,
bulu matanya lentik, kulitnya putih, tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun proporsional dengan ukuran
dada dan pingulnya. Hanya saja permasalahannya, ia kurang pandai dalam berdandan dan perawatan kulit.
Penampilannya yang cukup sederhana, dan kecantikannya yang alami, sebenarnya cukup menggodaku, terutama
menggoda pikiran nakalku.

Dalam percakapan yang terjadi di tengah derasnya hujan itu, beberapa kali ku coba menggodanya.

“Boleh saya minta Susu?” Tanyaku.
“Susunya habis, Mas! kalau mau teh saja…” Jawabnya
“Saya lihat masih ada kok!” Godaku sambil melirik ke buah dada yang menonjok di dadanya.
Dia hanya tersenyum dan mengatakan “ah!” dengan wajah malu-malu. Jawabannya itu, bagiku terdengar cukup
seksi dan menggodaku untuk terus mengajaknya berbincang.

“nggak perlu pakai gula lagi deh!”
“Ah, Mas ini! ada-ada saja! Lela jadi malu nih diliatin begitu.”
“melihat juga belum, kok udah malu-malu sih?”
“Jangan gitu ah, Mas! ini buat anak Lela nanti kalau udah punya anak…”
“anak Lela bolehlah minum susunya, tapi kalau Mas kalengnya aja deh! nggak apa-apa!”
“ih..! nggak boleh, Mas! ntar kalengnya pecah!”

begitulah! suasana perbincanganku dengan Lela semakit hanya di tengah dinginnya hujan yang cukup lebat.
Akhirnya ku coba untuk meminta buatkan secangkir teh hangat, agar pembicaraanku bisa terus berlanjut,
mumpung masih hujan, dan mumpung warung sepi. Lela membuatkanku secangkir teh hangat dan menyuguhkannya
di depanku. Karena alasan hujan yang sekain lebat, aku minta izin untuk dudk di bagian dalam warung.
Lela tanpa berpikir macam-macam mengizinkanku untuk duduk di dalam warung tepat di dekatnya.

Dengan pikiran yang sebenarnya sudah cukup ngeres, aku terus mencoba menggodanya, dengan kata-kata dan
pertanyaan yang semuanya menjurus pada hal-hal yang merangsang.

“kalau boleh tahu, ukuran BH Lela berapa ya?”
“ih, Mas ini.! ngapain tanya begitu?”
“Yaa nggak apa-apa sih! biar Mas bisa membelikan BH buat Lela!”
“Hahaha…. nggak usah, Mas! Lela nggak pakai BH…”
“Serius?”
“Hahaha…..”

Perbincanganku dan Lela semakin hangat, kekakuan antara kami semakin hilang, suasana semakin mencair,
karena Lela terus saja punya jawaban yang bisa membuatku tidak bosan duduk menunggu hujan reda. Sikap
Lela yang terus merespon membuatku semakin berani untuk mengarahkan pada pembicaraan yang lebih
merangsang.

“Lela pernah lihat ini, nggak?” tanyaku sambil memberi isyarat mata untuk melihat ke bagian bawah
tubuhku.

Tepatnya bagian yang tersembunyi di dalam celanaku yang waktu itu mengembul karena tegang karena arah
pembicaraan yang sangat merangsang.

“Apa’an?” tanya Lela, dan ketika mengerti apa yang ku maksud, ia terus berkata. ” iih, nggak mau’ah!
ngeri… takut…!”
“Takut kenapa?” tanyaku.
“Abis gundul sih…! Hehehe….” Jawab Lela sambil tertawa.

Aku tahu pasti, Lela saat ini juga pasti sedang terangsang, hanya saja karena dia perempuan, tidak ada
bagian tubuh yang menegang seperti pada laki-laki. Dengan jawaban Lela seperti itu, lalu ku katakan
padanya:

“Mas tahu kok, CD Lela pasti sudah basah, ya…”
“Ah, Mas ini sembarangan aja kalau ngomong…! Tapi Mas kok tahu, ya?” Jawab Lela sambil menatapku dan
memperbaiki posisi duduknya dengan kaki menyilang.
“Lela pasti juga terangsang kan?” ku pegang pergelangan tangan Lela, ku tarik dan ku coba untuk
menyentuhkannya ke penisku yang tersebunyi di balik celana panjangku.

Lela sedikit berontak karena terkejut atas keberanianku memegang tangannya.

“Mas!”
“Lela nggak usah malu-malu…! Kalau belum kawin, Lela nggak akan perah lagi dapat kesempatan megang
punya laki-laki…”

Ku paksa tangannya untuk menyentuh baang penisku yang sangat tegang. Karena tanganku lebih kuat, Lela
akhirnya mengalah, dibiarkannya tanganku menarik tangannya untuk memegang batang penisku. Beberapa saat
kemudian, Lela kembali menarik tangannya dari menyentuh batang penisku yang masih tertutup celana.

“Udah!” katanya sambil menarik tangannya.

Tapi tangan Lela kembali ku tarik dan ku paksa kembali untuk menyentuh batang penisku. Lela menatapku,
lalu berkata:

“Mas! berpikir yang macam-macam! Maunya Mas, apa?”
“Mas pingin Lela memegang punya Mas!”
“Oke! tapi jangan berpikir lebih dari itu…!!”
“Ya… baiklah!”

Lela akhirnya memegang batang penisku, dan tanpa pikir panjang, ku buka celanaku dan ku minta Lela untuk
menggenggam penisku. Lela memalingkan wajahnya lalu berkata:

“Mas! Kenapa dikeluarkan?”

“kalau nggak begini, Lela nggak akan bisa memegang…..” Kembali ku raih tangan Lela lalu ku minta ia
menggenggam batang penisku.

Lela menurut saja keinginanku, namun wajahnya menatap ke arah lain. Ku gerakkan tangannya yang telah
menggengam tangan naik turun, Lela hanya diam tanpa kata. Dapat ku rasakan, Lela menikmati setiap
gesekan batang penisku yang tegang di telapak tangannya yang dingin.

Perlahan ku lepaskan genggaman tanganku di pergelangan Lela dan ku biarkan dia melakukannya sendiri.
Lela terus mengocok penisku dengan genggaman tangannya yang mencengkram erat. Lalu perlahan ku sentuh
dan ku elus pahanya yang masih tertutup rok panjang selutut. Lela membiarkan saja tanganku singgah di
pahanya. Keadaan ini ku manfaatkan dengan menarik roknya dan memasukkan tanganku untuk menyentuh
selangkangannya

Merasakan tanganku masuk ke daerah sensitifnya, Lela merapatkan pahanya. Namun aku tetap memaksakan
untuk menyentuh belahan vaginanya. Memang benar, CD Lela memang sudah sangat basah. Itu artinya Lela
juga sudah sangat terangsang. Aku terus melesakkkan jariku di selangkangannya.

“Lela..! Jangan ditolak, jika Lela merasa nikmat….”
“Lela hanya tidak ingin keterusan, Mas!”
“Ya! Mas juga mengerti…. Kita nikmati saja, mumpung masih ada kesempatan…!” Setelah aku mengatakan hal
itu, Lela meraih tanganku dan menarikku ke dalam rumahnya. di ruangan itu, Lela langsung menanggalkan
seluruh pakaiannnya.

Aku terpaku melihat apa yang terjadi di hadapanku, seakan tak percaya dengan apa yang ku lihat. Seorang
gadis yang baru ke kenal beberapa jam yang lalu kini telah berdiri di hadapanku dalam keadaan siap
dinikmati.

Lela menarik tanganku sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tipis di yang terdapat di dalam rumah
kecil tersebut. Aku pun ikut terjatuh di atas tubuhnya. Dalam posisi seperti itu, Lela membisikkan
sepatah kata di telingaku:

“Ini tidak pernah ku lakukan sebelumnya… Memberikan kenikmatan hanya untuk menikmati…”

Mendengar perkataannya yang penuh gairah dan makna itu, aku tidak buang-buang waktu. Langsung saja ku
lucuti seluruh pakaianku, dan langsung ku tancapkan kepala penisku ke belahan vagina Lela yang telah
mengangkang menanti kenikmatan birahi yang telah memuncak.

Di antara lebatnya hujan yang tak henti-hentinya mengguyur jalanan, aku dan Lela larut dalam kenikmatan
persenggamaan terlarang. penisku telah amblas dalam lobang vagina gadis yang masih berusia belasan. Aku
tak perduli lagi dengan apapun yang terjadi diluar sana, yang ada di benakku hanya menikmati gesekan
demi gesekan penisku di dinding vagina Lela yang basah. Menghujam, menghentak, menusuk, demi memburu
puncak kepuasan sengama.

Suara becek terdengar di dalam liang vagian Lela, seiring dengan suara desahan di bibir Lela yang
membisik di telingaku, menambah panas suasana birahi di diriku. Aku semakin bersemangat untuk menghujam
penisku hingga menyentuh bibir rahim Lela. Batang penisku terasa berdenyut-denyut menandakan bahwa aku
akan mencapai puncak kepuasan dalam percintaan terlarang dengan Lela.

Beberapa saat sebelum aku mencapai puncak, ku bisikkan pada Lela:

“Mas akan segera keluar…. Heh…”
“Di dalam saja, Mas!”

Tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya, puncak kenikmatan hubungan seks antara aku dan Lela,
ku selesaikan dengan menumpahkan sperma dalam lobang vagian Lela. Aku terhempas kelelahan mengejar
orgasme di atas tubuh gadis kecil anak pemilik warung. Batang penisku tetap ku biarkan amblas dalam
vagina Lela. Setelah permainan berakhir, aku baru menyadari apa akibat yang akan terjadi jika sperma
yang ku tanam akan membuahi sel telur di rahim Lela.

“Kenapa kamu membiarkan saya mengeluarkan di dalam?”
“Tenang saja! Lela sudah biasa kok!” begitu jawaban Lela yang sangat mengejutkanku.
“Maksud Lela? sudah biasa hamil…!?”
“Bukan!”
“Lalu…!?
“Lela sudah biasa melayani birahi laki-laki seperti Mas!”
“Jadi Lela….???”
“Ya! Lela memang bukan perawan seperti yang mungkin Mas kira…! Lela bekerja memang sebagai penjaga
warung, tetapi itu tidak cukup untuk kami bertahan hidup.

Ibu mengizinkan Lela untuk melakukannya, asal dengan laki-laki yang menurut Lela bersih dari penyakit
kelamin…”

Mendengar pengakuan itu, aku terperanjat dan bangkit dari tubuh Lela. Aku tidak menyangka gadis seusia
Lela telah menjual keperawanannya hanya demi bertahan hidup. Tapi di sisi lain, aku juga berpikir,
masalahnya bukan hanya urusan bertahan hidup, tetapi karena banyaknya lelaki yang memandang wanita hanya
sebagai pemuas nafsu. Salah satunya aku, yang dengan susah payah memancing pembicaraan yang merangsang,
hanya demi mendapatkan lobang kecil di selangkangan Lela.

“Kenapa Lela tidak minta bayaran dari, Mas!”
“Hehe…. untuk pertama Gratis kok, Mas! Biar Mas merasa dulu, gimana rasanya pelayanan Lela…” Lela
bangkit dari tempat berbaringnya, lalu mengenakan kembali seluruh pakaiannya.

Aku terdiam menatap Lela yang sedang mengenakan kembali pakaiannya. Ku tarik kembali tubuh Lela sehingga
ia jatuh kembali di atas kasur tipis tempat kami becinta, lalu ku katakan:

“Lela…! hujan masih lebat… Mas masih ingin bersama Lela… Berapa yang harus Mas keluarkan untuk yang
kedua…???”
“Kalau Mas bener mau lagi, Mas tinggal aja di sini malam ini menemani Lela…. Lela akan melayani Mas,
berapa kalipun Mas sanggup…. Gratis!”.

Perselingkuhan Yang Tidak Ku Duga






Serbubet Sempat bedekuk kencang jika aku melihat adegan video sampai mulutku melongo dan itu pun aku tidak menyangka apa yang aku tonton itu adalah rekaman istrtiku dengan suami adik iparku mereka berdua sedang berhubungan intim sungguh aku tidak bias mempercainya, kenyataannya istriku telah mengkhianati.

Erina, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu.

Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Erina menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.

Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar.

Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Vita terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Vita akan hal ini.

Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaanaE|

Erina melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Erina berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.

Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Vita dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.

“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Vita menggelengkan kepala.

“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.

“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Vita berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.

“Kakak kandungku sendiri!” kata Erina dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.

“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.

“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.

“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”

“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Erina. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.

“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”

“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,

“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”

“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.Cerita Sex Dewasa

“Apa?”

“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.

“Kamu pasti bercanda,” tukas Erina. Aku hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Vita dan Bob sengaja melakukan ini.”

“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Erina.

“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Vita sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”

“Itu bukan alasan!”

“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Erina menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.

“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”

“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya.

“Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”

“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.

“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”

Erina terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.

Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin.

Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.

Erina dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.

“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.

“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.

“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.”

Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.

“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Vita!” kata Erina.

Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.

“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Vita dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Erina menatapku tajam.

“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Erina menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.

“Erina, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.

“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.

Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat Erina menuangk minuman pada gelas ketiganya.

Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.

“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Erina yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.

Erina keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Erina terlihat sudah mengambil sebuah keputusan.

Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.

“Erina, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.

“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya.

Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku.

Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Vita, aku juga sama terlukanya dengan Erina. Meniduri Erina, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.

Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Erina bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan.

Ukuran payudara Vita breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.

Payudara Erina yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup.

Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.

“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Erina sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda.

Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Erina bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.

“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.Cerita Sex Dewasa

Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Erina mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Erina menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.
“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Vita diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan,

“Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.

“Aku merasa sangat penuh!”

Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku.

Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.

“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.

“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Erina segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat.

Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.

“Erina, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.

“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.
“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu.

Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.

Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.

“Aku merasa sangat ehmmaE|! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Vita lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.

“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar.

Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.

Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku.

Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.

Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya.

Erina merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.

“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Erina malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.

“Jangan bilang kalau kak Vita tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.

“Tidak, tidak pernah,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.

Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.

“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Erina dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.

“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri.

Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya.

Sentakanku yang terakhir membuat kaki Erina benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Erina bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.

Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur.

We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Erina crawled between my legs and started blowing me.

“Kamu benar-benar liar!” kataku.

“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapiaE| apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!

Erina merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Vita berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!

“Erina! Teganya kamu?” teriak Vita terdengar hamper menangis, tapi Erina Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Vita,” balas Erina said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.

“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Erina tak membiarkanku. Dia ingin agar Vita melihat aksi kami berdua.

“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan aE~a night out aloneaE?,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.

“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Erina. Vita menggelengkan kepala.

“Kakak keliru,” kata Erina, lalu menambahkan dengan nada sinis,Cerita Sex Dewasa

“Nah, sekarang impas kan?” tangis Vita benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Erina menjauh dan pergi menyusul Vita.

Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya.

“Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Erina tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya.

Aku hendak mulai menjawab, tapi Erina sudah berada di ruangan ini.

“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Vita terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Erina dengan marah. Wajah Vita berubah merah oleh rasa malu.

“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Vita lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.

“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Erina yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”

“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Erina dengan tajam.

“Aku mau menolaknya!” jawab Vita, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”

“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Erina tak percaya.

Vita tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Vita barusan.

“Erina, Vita dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”

“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Erina asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Vita mulai merasa tak nyaman.

“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Vita. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Vita sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.

“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”

“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.

“Ya. Vita, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”

“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.

“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Erina tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.

“Aku tak masalah jika Vita bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”

“Menakjubkan,” kata Erina, tak tahu harus berkata apalagi.

“Erina, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Vita, masih memelukku. Erina masih tetap menggelengkan kepala.

Kutarik kembali Vita dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Vita masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya.

Dan dia membantu mempercepatnya.

“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Erina. Vita memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.

“Erina, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob.

Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Erina, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.

Vita dan aku tak menunggu jawaban Erina lagi. Kupanggul Vita menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.

Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.

“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Vita tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.

“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Erina. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.

“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Vita dengan keras. Vita teriak terkejut.

“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.

“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Vita dan tidak ingin melihat dia disakiti.

“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Vita, mengejutkanku, tapi kurasa Erina sudah mengira akan hal ini.

“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Erina dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar.

Vita berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Vita malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.

Erina menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Vita pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.

“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Erina komplain. Vita tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Erina dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Erina kembali komplain.

“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Vita barusan. Isteriku hanya tersenyum.

“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Vita, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Erina. Segera saja nafas Erina mulai tersengal.

“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Erina tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Vita.

“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Vita.

“Tapi aku kan adikmu!” jawab Erina. Vita tak menghiraukannya.

“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Vita, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.

“Wow! Vita, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Vita hanay mengangkat bahu.

“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Erina dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Erina. Mengerang keras Erina mulai orgasme.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Erina juga. Erina membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.

Vita meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.

“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Erina dengan wajah menyeringai. Vita hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang.

Dia bergerak menaiki tubuh Erina dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Erina. Erina meronta beberapa saat, tapi Vita lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Erina.

“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Erina!” perintah Vita. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona.Cerita Sex Dewasa

Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Vita yang tak pernah kusangka dimilikinya. Erina mencoba memprotes, tapi Vita sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Erina menelusup ke dalam lubang vaginanya.

“Ya, begitu! Tepat di situ!” ceracau Vita. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Erina mendorong tubuh Vita dari atasnya.

“Hey!” protes Vita, tapi Erina cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Erina langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Vita ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Erina.

Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme.

Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Erina melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Vita. Vita mengerang.

Erina terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Vita sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Erina mengisyaratkan padaku untuk mendekat.

Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Vita. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Vita akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

“Tunggu!” teriaknya, tapi Erina tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Vita kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.

“Hentikan, ini sakit!” erang Vita. Erina menampar pantat isteriku dengan keras.

“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Vita hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.

“Ya!” Vita semakin mengerang keras.

“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Erina menampar pantat Vita lagi. Erina merangkak ke bawah tubuh Vita dan mulai mempermainkan kelentitnya.

Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Vita. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.

“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.

“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Vita. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.

Kusodomi Vita dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Erina. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Vita dan aku rebah kecapaian sedangkan Erina meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.

Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Erina. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya.

Dan itu membuat Erina merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.

Kuposisikan dia dalam dogy-style, Vita memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Erina dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Erina lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya.

Denyutan liar dinding vagina Erina tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.

Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Vita menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.

“Aku lapar,” Erina said.

“Aku juga,” timpalku.

“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Vita tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Vita sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.

“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Vita terkembang.

“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Vita pada adiknya.

“Mmm, aku belum tahu,” jawab Erina dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya,

“Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”

“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.

“Dia benar,” Vita menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Erina tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Vita dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.

“Erina, beri Bob kesempatan,” kata Vita dengan lebih serius. Erina menarik nafas.

“Akan kupikirkan.”

“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”

“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Erina dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.

“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Vita, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Erina semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.

“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”

Alis Vita’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Erina. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.

“Itu issue untuk besok saja,” jawab Vita.

“Kalau memang jadi,” Erina menambahkan.

“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Vita melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”

“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Erina menimpali aE~tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Vita dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”

“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Vita.

Erina memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Vita dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.

“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Vita. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.

“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Vita tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.

“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Vita menambahkan.

“Setuju.”

“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Vita. Aku menyeringai.

“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”

“Hukuman?” Tanya Vita, matanya berbinar.

“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”

“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Vita curiga. Aku hanya tersenyum lebar.

Baca Juga Cerita Sex Tante Vina

Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi.

Untuk pertama kalinya Vita dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.

Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.

Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.

Rabu, 24 Mei 2017

Akibat Mencuri Di Mall







Serbubet Pada suatu hari sekitar jam 1 siang di sebuah mall di hebohkan seorang gadis yg masih berumur 20 tahunan tertangkap tangan oleh satpam sedang mencuri sebuah pakaian di mall tersebut. Di ruang security gadis itu di intrograsi oleh beberapa satpam mall itu, wanita yg di ketahui dari identitasnya bernama Desi itu terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah universitas di kota itu.

Saat proses intrograsi tiba tiba terdengar suara telp di meja keamanan itu.

“iya pak, kami sudah berhasil menangkapnya…..oh baik pak akan segera di laksanakan.” kata seorang satpam yg sedang interogasi, rupanya orang yg menelpon itu adalah pemilik dari mall tersebut.
“Sekarang kamu ikut sy” kata satpam itu.
“Kemana pak? tolong jangan di bawa ke polisi.” tanya Desi dgn berlinang air mata.
“Sudah ikut saja, jangan banyak bicara” jawab satpam itu.

Lalu Desi di bawa ke lantai atas dan masuk ke sebuah kantor yg besar dan megah. kemudian satpam itu menghadapkan Desi pada seorang pria setengah baya yaitu Budi, pemilik Mall tersebut.

“Kamu boleh pergi, nanti sy panggil lagi” kata Budi
“Siap pak….” kata satpam itu dgn tersenyum dan memberi hormat, kemudian meninggalkan Budi dan Desi di ruangan itu.

Budi memeriksa dompet Desi dan beberapa surat di dalamnya, kemudian duduk berhadapan di sofa dgn Desi.

“Jadi nama kamu Desi, umur 20 tahun, mahasiswi…kamu tahu apa yg sedang kamu hadapi sekarang ini?” tanya Budi
Desi hanya bisa tertunduk diam, air matanya berlinang.
“sy bisa memenjarakanmu, sy punya cukup banyak koneksi polisi dan sy bisa yakin kan mereka untuk tdk melepaskan kamu karena kamu adalah kriminal komplotan pencurian di mall. kamu paham itu?” tanya Budi

Desi mengangguk.

“oke, sekarang sy minta kamu jawab. untuk apa mahasiswi seperti kamu melakukan pencurian seperti ini? apakah untuk hura-hura? untuk narkoba? atau apa? ” tanya Budi.

Desi menarik nafas panjang, kemudian perlahan ia mulai bercerita, bahwa ia tengah mengumpulkan uang untuk mengganti uang semesteran yg sudah terpakai sebelumnya, dan dia tdk mau orang tua nya tahu bahwa uang itu sudah terpakai.

“oke, sy sementara percaya cerita kamu, tp itu tdk membenarkan kamu untuk mencuri, dan setiap kejahatan harus menuai konsekensi, agar jera. jadi dgn terpaksa sy harus melaporkan kamu ke polisi supaya tdk ada lagi orang yg berfikir untuk mencuri di tempat sy.” jawab Budi.
“Sy mohon jangan pak, jangan laporkan sy ke polisi. sy takut nanti sy di keluarkan dari kampus kalo sy di tangkap polisi dan orang universitas tahu. orang tua sy akan sangat marah dan malu.” kata Desi

Budi duduk diam sebentar, lalu memandangi Desi dgn seksama, di lihatnya bahwa Desi ini wajahnya cukup manis dan cantik, tubuhnya ideal tdk gemuk dan yg sangat menarik perhatian Budi adalah toketnya yg cukup besar dan bulat, sedari tadi Budi memandangi toket yg terbungkus kaos itu seperti macan yg hendak menerkam.

“oke, sy punya penawaran untuk kamu, silahkan kamu pilih. yg pertama, kamu masuk penjara, polisi mengabari ke orang tua kamu dan ke kampus. atau…kamu bekerja untuk sy.” tanya Budi
“sy memilih untuk bekerja pak, apa pun akan sy lakukan. sy bisa mencuci, mengepel, menyapu, bahkan jadi ob di kantor ini pun sy mau pak. ” jawab Desi dgn mata yg berbinar binar, penawaran pak Budi ini seperti sebuah harapan besar baginya.
“bukan pekerjaan itu yg sy maksud..” jawab Budi
“kalau boleh tau, apa ya pak pekerjaan nya…” tanya Desi

Pak Budi tdk langsung menjawab, namun ia berdiri memutari sofa itu dan berdiri di belakang Desi dan berbisik di telinga nya.

“kamu harus jadi pelacur sy, kamu harus tidur dgn sy.” bisik Budi

Wajah Desi pucat pasi, ini jelas tdk seperti bayangan nya. namun dinginnya tembok penjara dan rasa malu bila di keluarkan di kampus juga menghantui nya.

“Silahkan kamu pertimbangkan” kata Budi
“tp pak… sy ini masih perawan… sy belum pernah tidur dgn laki laki” jawab Desi
“ya itu terserah kamu, pilihan ada di tangan kamu, memilih keperawanan atau penjara?” tanya Budi

Desi tertunduk, untuk beberapa saat ia hanya bisa terdiam. namun kemudian Desi mulai berbicara.

“pak, sy sudah memutuskan untuk menuruti kemauan bapak, tp tolong setelah itu jangan ada tuntutan apa pun lagi sama sy.” jawab Desi

Budi pun tersenyum, ia mendekati Desi dari arah belakang dan berbisik lagi.

“oke, setuju” bisik Budi sambil memeluk tubuh Desi dari belakang, dan mulai menciumi telinga serta leher Desi.
“kamu harum sekali Desi, “bisik Budi lagi, dan sementara itu kedua tangan Budi sudah meremas remas toket Desi yg bulat.

Desi hanya bisa terdiam pasrah, namun didalam hati nya ia mulai menikmati setiap sentuhan dan ciuman serta rangsangan yg di berikan kepada nya.

“lepas semua baju kamu” kata Budi.

Desi pun dgn sedikit malu dan enggan perlahan mulai membuka seluruh pakaian nya. sementara itu Budi pun sudah dalam keadaan telanjang.

Budi memandangi keindahan tubuh Desi dgn seksama, ternyata sesuai perkiraan nya, tubuh Desi sangat indah. putih bersih dan memiliki toket bulat yg besar serta puting yg berwarna pink.Budi pun mendekati Desi dan langsung menerkam toket indah itu, di remasnya, di jilat dan di sedotnya seperti bayi yg kelaparan, bergantian Budi menikmati toket kiri dan kanan, tak lama Desi pun terlihat memejamkan matanya dan mendesah.

“eemmmmhhh.. pelan pelan pak, geli…” ujar Desi
“indah sekali toket kamu Desi, sy sangat menyukainya”kata Budi lagi, sambil meremas remas toket itu dan kemudian terus menyedotnya kanan kiri bergantian.

Tangan kanan Budi mulai turun dan bermain di kemaluan Desi yg ternyata hanya di tumbuhi sedikit bulu. jadi tangan nya mulai bermain di clitoris nya.

Budi sangat berpengalaman, dan tahu benar bagaimana memperlakukan seorang perawan di sex pertamanya.

Desi mulai menjepit pahanya, pertanda birahi sudah mulai merasuk kedalam setiap sumsum tulangnya. lubang memex nya pun sudah mulai dibasahi oleh air kenikmatan.

Budi pun mendudukan Desi di ujung sofa dan membuat kakinya terbuka lebar sehingga memex indahnya yg rapat dan tembem itu terlihat dgn jelas.

“wah, bener-bener masih perawan,” ujar Budi dalam hati.

Ia pun mulai menciumi dan menjilati Desi mulai dari pahanya hingga akhirnya mencapai clitorisnya.

Desi sudah tdk dapat mengontrol dirinya, tubuhnya sudah di rasuki kenikmatan yg di rasakan di selangkangan nya yg di jilati Budi dgn lembut. Desi merasakan getaran nikmat yg muncul dari ujung kaki nya hingga ke ujung kepalanya, pantat nya otomatis mengeras, otot memex nya yg perawan itu pun berkedut-kedut kencang.

Desi mengejang, tangan nya terkepal pertanda akan mencapai orgasme pertamanya saat di jilat oleh Budi.

“ooogghh….ooogghh…. ouugghhh…….” hanya gumaman dan desahan yg bisa keluar dari mulutnya.
“ooohhhhhh…..niikkmmmaatttttt……” dan Desi pun merasakan orgasme pertamanya, memex nya kini sudah dalam keadaan yg basah sama sekali.

Budi pun berdiri dan tersenyum.

“Bagaimana? nikmat?” tanya Budi.

Desi pun tersenyum malu dan mengangguk.

“Sekarang kamu sudah siap untuk tahap selanjutnya,”kata Budi

Ia pun mulai mendekatkan batang kont0lnya yg sudah mengeras ke arah lubang memex Desi. di gesek-gesekkan nya ke cairan yg tadi keluar di lubang memex itu dan perlahan ia mulai menusukan kont0l nya ke lubang perawan itu.

Ternyata tdk cukup sulit,- walaupun lubang itu masih kecil dan sempit namun sudah basah kuyup.

Perlahan batang kont0l itu masuk sedikit demi sedikit dan, ada cairan darah yg keluar dari dalam memex itu tanda bahwa slaput dara nya telah robek.

Desi menggigit bibirnya dan mengepalkan tangan nya menahan perih.namun karena sudah cukup basah perlahan ia sudah bisa menikmati kenikmatanya.

Budi pun bergerak perlahan sekali, di pompanya batang kont0l nya sedikit demi sedikit.

“masih sakit Desi?” tanya Budi

Desi menggeleng, pertanda rasa nyeri itu sudah mulai hilang, namun Budi tdk serta merta memompa nya lagi tempo permainan nya sengaja di buatnya selambat mungkin.

Desi mulai melipatkan kakinya di pantat Budi pertanda ia ingin Budi lebih dalam menusuk memex nya. Budi pun mulai menusuk lebih dalam dan menusukan semua kont0lnya sampai mentok.

Desi menarik nafas, dan mulai menjepit memex nya. dan Budi pun mulai mempercepat laju permainan nya

“Aaagghhh…damn… memex perawan memang nikmat sekaliii..” gumam nya

Desi pun mulai mendesah lagi, ia pun mulai bisa mengimbangi permainan Budi dgn mengoyangkan pinggulnya.

“ternyata sex itu nikmat sekali” pikir Desi dalam hati
“ooogghhh…..ooogghhh…ahhhh…ahhhh….” mulut Desi terus mendesah desah keenakan, membuat Budi semakin bernafsu dan memacu kecepatan nya.

Desi terus bergoyang dan menjepit jepitkan memex nya, matanya terbelalak, ia merasakan kenikmatan yg lebih dari orgasme nya yg pertama tadi. seluruh tubuhnya mengelinjang, bergetar.

“oooggghh……oooggghh….nnniikkmmaattttt….” kata Desi dgn teriakan yg tertahan.
tubuhnya bergetar, memexnya berkedut kecang dan kemudian mengeluarkan cairan dalam jumlah yg cukup banyak.

Sementara Budi pun sudah hampir mendapat orgasme nya, di cabutnya kont0lnya dan di kocok di hadapan wajah Desi,

“creeeeettttt…creeeeettttt…creeeeettttt..” sperma itu pun berhamburan muncrat ke wajah Desi.

Budi dan Desi terbaring lemas di sofa. dan setelah beberapa menit istirahat, Budi mengambilkan Desi minum dan mengantarnya untuk membersihkan diri di kamar mandi. setelah keduanya memersihkan diri dan kembali berpakaian, Budi mengambil sebuah amplop dari meja nya.

“Desi, ini ada sedikit uang untuk membantu kamu membayar uang kuliah, ingat lain kali kau jangan mencuri lagi. Kalau kamu butuh uang, datang saja kemari. oke?” kata Budi sambil menyimpan amplop itu ke dalam dompet Desi.

Desi pun di antar melalui pintu belakang dan langsung ke arah jalanan sepi. di jalan ia melihat uang yg di berikan Budi. ternyata isinya adalah sebuah cek yg bernilai dua puluh juta rupiah, dan sebuah nota yg berisikan nomer hp dan nama Budi.

Desi pun tersenyum, melenggang pulang walau dalam keadaan lemas.

Karyawan Ku Yang Lugu






Serbubet Beberapa tahun yg lalu aqu bertemu dgn seorang dokter muda yg baru mulai praktek yg sekarang menjadi suamiku. Pesta pernikahanku memang cukup meriah, terutama untuk ukuran kota kecil. Tak lama setelah itu suamiku, yg telah dipindah-tugaskan ke kota lain, memboyongku ke tempat kediamanku yg baru.

Benar saja ternyata tepat apa seperti apa yg telah kuperkirakan. Di kota ini aqu kesepian dan segera merasa jenuh. Nikmatnya kehidupan perkawinan, seperti yg pernah digambarkan kakak-kakakku, ternyata tak kualami.

Dalam keadaan hampir tak tahan lagi seorang wakil perusahaan farmasi, yg kebetulan menjadi relasi suamiku, datang mengunjungiku. Dimintanya kesediaanku untuk menjadi manager penyalur obat-obatan produksi perusahaannya.

Singkat cerita aqu mulai bekerja. Pada suatu hari aqu harus melaqukan kunjungan ke kota kecil di Jawa Barat. Kali ini aqu ditempani asistenku dan seorang karyawan yg orangnya lucu dan cukup tampan namun masih single. Sesuai rencana untuk malam pertama ini kami menginap di Bandung. Kupilih kamar yg baik dan bersih untukku, lalu aqu mandi menyegarkan diriku.

Sehabis mandi kebiasaanku memang memakai celana pendek tipis dgn lingerie dan atasan mirip daster namun hanya sebatas perut yg agak longgar aqu rebahan di sofa panjang. Biasanya dgn baju ini kulaqukan untuk memancing gairah suamiku. Ini membuatku nyaman. Sulit sekali bagiku untuk memicingkan mataqu malam ini. Akhirnya daripada kesal sendirian aqu call karyawanku untuk menemani di kamarku. Rupanya dia juga belum tidur. Dia kuajak ngobrol di teras kamar yg berada dia dalam. Sembari ngobrol sana-sini aqu tak tahan juga melihat dia. Kuperhatikan dia memang ganteng dgn kumis tipisnya. Akhirnya iseng kuminta dia memijatku, sembari aqu mendengarkan cerita-ceritanya yg jenaka.

Tak banyak bicara aqu kemudian rebahan dgn posisi terlentang. Rupanya dia agak sungkan menanggapi permintaanku. Namun sebagai karyawan yg setia ia mau saja. Tangannya aqu tarik untuk memijat kakiku. Ahhh … nyaman rasanya sekali tangannya. Makin mala makin keatas membuat jantungku berdegup kencang. Dasterku sengaja aqu singkap agar dia terangsang. Otomatis kelihatan perutku. Betul juga … aqu rasakan nafasnya naik turun. Tak tahan aqu tengkurap dan tangannya kupegang dan kuminta dia memijat punggungku. Dia mengelus punggungku dgn lembut. Setelah beberapa saat kuminta ia memijit pinggangku kemudian aqu suruh meremas pahaqu. Kemudian sembari rebahan kusuruh dia menduduki bokong, maksudnya supaya tekanan pijatannya lebih terasa. Santai saja kubiarkan ia mengurut dan memijati punggungku yg agak terbuka, karena jenis daster atas yg kukenakan tersingkap memang seperti itu. Aqu sengaha perlihatkan lingerie hitam aqu kelihatan karena celana pendek aqu juga berkolor hingga mudah melorot jika aqu bergerak. Namun dia bilang minta maaf sembari melihat bokong yg seksi. “Tak apa …pegang saja. Remas saja bokong aqu suka kok” pinta aqu agar dia tak termangu dalam kelu. Gimana mau mijit kalau hanya dipandang saja.

Rupanya saat dia memijit punggung dan bokong kurasakan ada ganjalan di bokong. Yah .. akhirnya dia ngaceng juga. Namun aqu pura-pura tak merasa karena remasan tangannya yg kuat membuat aqu keenakan dan ini aqu bernafsu dan bergairah. Kubiarkan saja tangannya menggeraygi tubuhku, punggung, kaki dan sesekali memijat pundaqu. Kondisi membuat aqu tak tahan juga dibuatnya. Akhirnya aqu berdiri. Dia Kaget. Maaf bu. Kenapa? ada yg salah bu?” dia setengah bertanya.

Kulepas bajuku dan celanaqu akhirnya aqu hanya mengenakan dalaman lingerie. Jembutku yg lebat menyembul dari cd yg sangat mini dan tipis. Kulirik celananya rupanya kemaluannya sudah ngaceng. Melihat aqu melepas baju dia tambah kaget, apalagi tanpa basa-basi kulepas celananya dan juga kaonsya serta kupegang kemaluannya yg sedari ngaceng. Sebelum dia sempat berucap kucium dia dan dia gelagapan mendapat serangan mendadak dariku. Sembari terus kumainkan lidahku di mulutnya, tanganku tak mau diam memegang kemaluannya tentunya sembari meremas dan mengocoknya dgn sentuhan lembut tanganku. Rupanya aksiku ini membuat dia kelabakan kelihatan dari desahan mulut saat aqu ciuman.

Setelah itu kuteruskan ke arah bawah hingga ke sekitar selangkangannya. Namun kali ini aqu hanya menciumi batang kemaluan sekedarnya saja. Sempat kulirik dia menatapku dgn pandangan heran. Namun kuteruskan saja menciumi paha dan betisnya. Waktu ujung kemaluannya kuemut dan kujilat dia menjerit, … “Aduh ahhhh” Setelah itu kecupan-kecupan bibirku bergerak menuju ke atas lagi, hingga aqu berhenti di sekitar selangkangannya.

Tubuh dia terlihat berkeringat, padahal udara malam itu cukup dingin. Rupanya apa yg baru kulaqukan tadi telah memacu birahinya. “Enak nggak ?” … tanyaqu ingin memastikan. “Aduh enakkk bu, aqu nggak pernah ngebaygin seperti ini rasanya.” Jawabannya membuat hatiku berbunga-bunga. Jangan panggila aqu bu, ya. Panggil namaqu saja. Dia tak sempat menggangguk karena keenakan.

Dgn tetep di teras dan dgn penuh semangat aqu mulai menjilati ‘kemaluannya’ dan ‘batang kemaluannya’nya. Lidahku menyapu semua sudut ‘kemaluan’ yg besar dan keras itu. Tak lupa kujilati juga ‘buah zakar’nya, hingga dia menjerit keenakan. Apalagi waktu pantatnya kugigit-gigit lembut. Karena masih ingin merangsang lebih jauh lagi kudorong bagian bawah pahanya ke atas. Lalu kujilati lagi kemaluannya. “Aduh Eva, aduh, ampun Eva,” … dia mengerang keras sekali. Karena kuatir didengar orang kuhentikan jilatanku itu. Langsung ‘batang kemaluan’ dia aqu kulum dalam dan setelah itu kuemut-emut dgn bernafsu. Beberapa saat kemudian dia menarik tanganku lembut, … “aqu! … belom pernah ngalamin yg seperti begini … Terima kasih ya bu!” Eh dia panggil aqu bu lagi. Tak apa yg penting kami merasakan kenikmatan.

Sebelum timbul pikiran macam-macam di benak pemuda itu cepat kutarik ‘batang kejantanan’nya ke mulutku dan kuemut-emut dgn penuh gairah. Setelah itu di kuminta dia berbaring. Dgn aqu di atas kutunggangi dia dan kuberi kode bahwa aqu ingin oral seks 69. Dia nampak bingung. Ia menjatuhkan tubuhnya ke arah bawah, dalam posisi 69 berlawanan arah dgn tubuhku. Akhirnya tanpa banyak bicara kamu juga akan tahu sendiri, begitu pikirku. Sembari setengah nungging kupegang kemaluannya sedangkan kemaluanu kedekatkan ke wajahnya yg tampan itu ke arah selangkanganku. Kuperintahkan dia menjilatinya seluruh bagian ‘kemaluan’ku. Sementara aqu asik bermain dgn kemaluannya, dipeluk dan ditariknya bokong, lalu dijilatinya ‘kemaluan’ku seperti tadi telah kulaqukan padanya. Kalau tak kugigit bibirku pastilah aqu sudah menjerit-jerit kegelian. Sewaktu dia kembali menjilati kemaluanku hampir saja aqu mencapai puncak orgasmeku. “sayg, udah ah aqu nggak tahan,” … kataqu memintanya berhenti. Rupanya di asik bermain dgn kemaluanu yg berjembut lebat. Bu …. aqu suka kemaluan ibu yg berjembut lebat .. wow aqu bangga di katakan begitu.

Kumulai lagi menjilati dan mengemut ‘senjata kejantanan’ yg keras itu. Sembari tentunya tanganku sendiri mengusap-usap ‘kemaluan’ku yg tadi sudah dirangsang. Lama-kelamaan mulai terasa cairan kental agak asin di mulutku. Kelihatannya dia sudah mendekati saat-saat puncaknya. ‘Nanti waktu keluar siramin ya ke atasnya aqu.’ Ia bertanya heran, … “Mau seperti begitu, ditumpahin sperma aqu?” Kuyakinkan dia, … “Mau dong kan enak … Oh iya nanti kalau kamu udah keluar punya aqu kamu usapin ya, biar aqu juga puas.” Setelah itu kembali kuemut-emut ‘batang kemaluan’nya, sembari kukocok-kocok keras. Tak terlalu lama kemudian terdengar dia mengerang dan mengaduh.

Sesuai permintaanku tadi ditariknya ‘tonggak kejantanan’nya dari dalam mulutku. Lalu aqu mengambil alih dgn mengocok dgn tanganku. Kuatur posisi diriku sembari tanganku terus meremas-remas pahanya. Waktunya mulai mengocok kemaluannya’ aqu mengaduh kaget. Cairan yg tadinya kuharap akhirnya keluar dan jatuh di dadaqu dan leherku, ternyata begitu kuat semburannya sehingga tertumpah di wajahku. Mendengar eranganku rupanya semburan demi semburan cairan air mani tersiram ke wajahku. Aqu menikmati itu semua sebisaqu. Sementara itu kurasa telapak tangannya yg kasar meraba selangkangan dan celah pahaqu, berusaha membawaqu juga diriku ke puncak orgasme. Dalam keadaan terangsang mulutku mencari ‘batang kejantanan’. Ternyata masih dalam keadaan sangat keras, dan tetap besar, walaupun sudah mengalami ‘ejaqulasi’nya. Dgn cepat kumasukkan ‘barang kepunyaan’ itu ke dalam mulutku dan kuemut-emut lagi. Dia mengerang keenakan dan mengaduh kegelian. Dalam keadaan itulah aqu juga mencapai puncak pengalamanku di malam ini.

Melihat keadaanku yg sudah lemah lunglai aqu berbaring santai. Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi ia kembali membawa handuk. Dibersihkannya seluruh tubuhku dgn telaten dan penuh perhatian. Aqu diangkatnya ke tempat tidurku. Wow … indah sekali. Setelah merebahkan tubuhku dia mau pamit kembali ke kamarnya. Namun aqu tahan. Aqu bilang “temani aqu malam ini”. Diapun mengangguk mau. Sembari merebahkan tubuhnya. “Peluklah aqu sayg” pintaqu. Kali ini aqu yg ingin dipeluknya. Sembari aqu bisikan kata “Kemaluanmu enak, aqu bangga sama kemaluanmu. Enak dijilat, diemut, disedot, dimasukin ke kemaluan yg pasti nikmat, apalagi sembari menikmati sperma kamu yg muncrat ….”.

Demikianlah selanjutnya aqupun terlelap dalam pelukan karyawanku, seolah-olah dalam pelukan lengan pasangan hidupku yg sejati. Malamnya kami terjaga dari terlelap dgn kemaluannya meregang. Melihat itu aqu tak kuasa untuk menelan air ludahku. Kugarap dia dan lalu kujilat dan kuremas dgn Posisi seks woman on toppenuh nafsu. Rupanya kemaluannya terbangun makin keras dan menantang. Kemaluannya jadi tambah besar. Aqu makin bernafsu mengerjainya dan melumatnya dgn penuh perasaan. Akhirnya dia pasrah malam ini harus melayani nafsuku untuk kedua kalinya. Ronde ke dua malam ini kulalui dgn gairah yg memuncak. Kali ini dia lebih pengalaman dari pergumulan pertama tadi. Sedikit perlawanan dari dia membuatku pergumulan makin seru dan membuatku makin puas dan buas. Aqu tak bisa menahan diri untuk tak liar kali ini. Akhirnya kami bercinta lagi. Kali ini lebih dahysat karena dia lebih berani dan tak malu-malu lagi dan bisa mengimbangi aksi liarku. Berbagai gaya dan posisi kami laqukan dgn liarnya, membuatku semakin tak kuasa menahan gejolak liarku. Pergumulan kali ini membuat terkuras tenagaqu walau begitu aqu sangat puas karena aqu mendapatkan kenikmatan yg kudambakan dari pemuda ini.

Selama di hotel tak terhitung lagi kami bercinta. Seringnya aqu keluar kota membuatku aqu nyaman dan menikmati pergumulan seru dgnnya setiap kami bercinta.

Selasa, 23 Mei 2017

Rani, Anak Om Ku






Serbubet Aqu lihat kembali catatanku. Benar, itu rumah nomor 27. Pasti itu rumah Om Purnomo, saudara jauh bapakku. Kuhampiri pintunya dan kutekan bel rumahnya. Tak lama kemudian dari balik pintu muncul wajah yg sangat cantik.

“Cari siapa Mas?” tanyanya.
“Apa betul ini rumah Om Purnomo? nama saya Dodok.”
“Oh.. sebentar ya, Pa.. ini Dodoknya telah datang”, teriaknya ke dalem rumah.

Kemudian aqu dipersilakan masuk, dan setelah Om Purnomo keluar dan menyambutku dia pun berkata dgn ramah,

“Dodok, papimu barusan nelpon, nanyain apa kamu telah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Rani, terus anterin Dodok ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi.” Aqu datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh papi aqu disuruh tinggal dirumah Om Purnomo. Rani ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Tubuhnya tak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi wajahnya sangat lucu, dgn bibir yg agak penuh. Di sini aqu diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dgn kamar Rani.

Aqu telah 3 bulan tinggal di rumah Om Purnomo, dan karena semuanya ramah, aqu jadi betah. Lebih lagi Rani. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya soal pelajaran sekolah, dan aqu berusaha membantu. Aqu sering mencuri-curi untuk memperhatikan Rani. Kalo di rumah, dia sering memakai daster yg pendek hingga pahanya yg putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yg baru mekar juga sering bergoyg-goyg di balik dasternya. Aqu jadi sering membaygkan betapa indahnya tubuh Rani seandainya telah tak memakai apa-apa lagi.

Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Rani sedang belajar sembari tiduran di atas karpet.

“Sepi sekali, sedang belajar yah? Tante kemana?” tanyaqu.
“Eh.. Dodok, iya nih, aqu minggu depan ujian, nanti aqu bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem.”
“Iya deh, aqu ganti pakaian dulu.”

Kemudian aqu masuk ke kamarku, ganti dgn celana pendek dan kaos oblong. Terus aqu tidur-tiduran sebentar sembari baca majalah yg baru kubeli. Tak lama kemudian aqu keluar kamar, lapar, jadi aqu ke meja makan. Terus aqu teriak memanggil Rani mengajak makan bareng. Tapi tak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Rani telah tidur telungkup di atas buku yg sedang dia baca, mungkin telah kecapaian belajar, pikirku. Napasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yg putih. Bentuk bokongnya juga bagus.

Memperhatikan Rani tidur membuatku terangsang. Aqu merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yg kupakai. Tapi karena taqut ketahuan, aqu segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku telah hilang, maka itu aqu cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Rani. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aqu tak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Rani telah berubah, dan dia sekarang telentang, dgn kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalem bagian bawahnya kelihatan.

Celana dalemnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayg di bawahnya. Aqu sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku tegak sekali di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dgn napasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aqu dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Purnomo telah pulang. Aqu pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.

Dan aqu memang ketiduran sampai agak sore, dan aqu baru ingat kalo belum makan. Aqu segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aqu naik lagi ke atas, dan membaca majalah yg baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yg mengetuk, dan ternyata Rani.

“Dodok, aqu baru dibeliin kalkulator nih, nanti aqu diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih”, katanya sembari menunjukkan kalkulator barunya.
“Wah, ini kalkulator yg aqu juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aqu baca dulu manualnya. Nanti aqu ajarin deh, kayaknya sih tak terlalu beda dgn komputer”, sahutku.

“Ya telah, dibaca dulu deh. Rani juga mau mandi dulu sih”, katanya sembari berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aqu masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Rani dgn pandanganku. Ketika mengambil handuk, tubuh Rani terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aqu melihat baygan tubuhnya dgn jelas di balik dasternya. Aqu jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur.

Kemudian sewaktu Rani berjalan melewatiku ke kamar mandi, aqu pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tak lama kemudian aqu mulai mendengar suara Rani yg sedang mandi sembari bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membaygkan Rani yg sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku agak tegang. Karena tak tahan sendiri, aqu segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aqu menewajahnnya.

Aqu mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aqu mendekatkan wajahku ke celah itu, dan ya Tuhan… aqu! Melihat Rani yg sedang menyabuni tubuhnya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Tubuhnya sangat indah, jauh lebih indah dari yg kubaygkan.

Lehernya yg putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yg kecoklatan, perutnya yg rata, bokongnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aqu tak berlama-lama mengintipnya, karena selain taqut ketahuan, juga aqu merasa tak enak mengintip orang mandi. Aqu segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yg tak karuan.

Malamnya sehabis makan, aqu dan Om Purnomo sedang mengobrol sembari nonton TV, dan Om Purnomo bilang kalo besok mau keluar kota dgn istrinya seminggu. Dia pesan supaya aqu membantu Rani kalo butuh bantuan. Tentu saja aqu bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tak lama kemudian Rani mendekati kita.

“Dodok, tolongin aqu dong, ajarin soal-soal yg buat ujian, ayo!” katanya sembari menarik-narik tanganku. Aqu mana bisa menolak. Aqu pun mengikuti Rani berjalan ke kamarnya dgn diiringi Om Purnomo yg senyum-senyum melihat Rani yg manja. Beberapa menit kemudian kita telah terlibat dgn soal-soal yg memang butuh konsentrasi.

Rani duduk sedangkan aqu berdiri di sampingnya. Aqu bersemangat sekali mengajarinya, karena kalo aqu menunduk pasti belahan dada Rani kelihatan dari dasternya yg longgar. Aqu lihat Rani tak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, tegak di balik celana dan kelihatan menonjol.

Aqu merasa bahwa Rani tahu kalo aqu suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tak berusaha merapikan dasternya yg semakin terbuka sampai aqu bisa melihat putingnya. Karena telah tak tahan, sembari pura-pura menjelaskan soal aqu merapatkan tubuhku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Rani pasti juga bisa merasakan kemaluanku yg tegak. Rani sekarang cuma diam saja dgn wajah menunduk.

“Rani, kamu cantik sekali..” kataqu dgn suara yg telah bergetar, tapi Rani diam saja dgn wajah semakin menunduk. Kemudian aqu meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aqu jadi makin berani mengusap-usap pundaknya yg terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya.

Aqu merasa napas Rani telah memburu seperti suara napasku juga. Aqu jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku telah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Rani mencengkeram dan menahan tanganku. Wajahnya mendongak kearahku.

“Dodok aqu mau diapain..” Rintihnya dgn suara yg telah bergetar. Melihat mulutnya yg setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aqu jadi tak tahan lagi. Aqu tundukkan wajah, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya.

Ketika bibir kita bersentuhan, aqu merasakan bibirnya yg sangat hangat, kenyal, dan basah. Aqu pun melumat bibirnya dgn penuh perasaan, dan Rani membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dgn pelan-pelan tubuh Rani aqu bimbing, aqu angkat agar berdiri berhadapan dgnku. Dan masih sembari saling melumat bibir, aqu peluk tubuhnya dgn gemas. Buah dadanya keras menekan dadaqu, dan kemaluanku juga menekan perutnya.

Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalem mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat napas Rani semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dgn gemas mulai meremas-remas bokongnya. Bokongnya sangat empuk. Aqu remas-remas terus dan aqu semakin rapatkan ketubuhku hingga kemaluanku terjepit perutnya.

Tak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dgn gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Rani tinggal memakai celana dalem saja. Aqu memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aqu mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Rani mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaqu.

Tiba-tiba aqu berhenti menciuminya. Aqu renggangkan pelukanku. Aqu pandangi tubuhnya yg setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dgn puting yg tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Rani mengerang lagi lebih keras sembari mendongakkan kepalanya, dan menekan bokong dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aqu ciumi buah dadanya dgn ganas, putingnya aqu mainkan dgn lidahku, dan buah dadanya yg sebelah aqu mainkan dgn tanganku.

“Aduuhh.. aahh.. aahh”, Rani semakin merintih-rintih ketika dgn gemas putingnya aqu gigit-gigit sedikit.

Tubuhnya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Rani kemudian menelusup kebalik pakaianku dan mengusap kulit punggungku.

“Doodookk.. aahh.. pakaian kamu dibuka dong.. aahh..” Aqupun mengikuti keinginannya. Tapi selain pakaian, celana juga kulepas, hingga aqu juga cuma pakai celana dalem. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan buah dadanya.

Kemaluanku semakin keras karena Rani menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalemnya. Bulu kemaluannya aqu usap-usap, dan kadang aqu garuk-garuk. Aqu merasa kemaluannya telah basah ketika jariku sampai ke mulut kemaluannya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dgn keras.

Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Bokong Rani ikut bergoyg, dan semakin rapat menekan, sehingga kemaluanku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aqu putar-putar, jariku yg lain juga mengusap bibir kemaluannya. Rani menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dgn pahanya,dan tubuh Rani tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

“aahh aahh Doodookk.. adduuuhh aahh aahh aahh”,

Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dgn pelan.

“Dod.. aqu boleh yah pegang punya kamu”, tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aqu yg masih tegang sekali merasa senang sekali.
“Iyaa.. boleh..” bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalemku.
“Aahh…” Aqupun mengerang ketika tangannya menyentuh kemaluanku. Terasa nikmat sekali. Rani juga terangsang lagi, karena sembari mengusap-usap kepala kemaluanku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dgn ganas. Dan kemaluanku mulai di genggam dgn dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yg keluar diratakan keseluruh batangku.

Tubuhku semakin menegang. Kemudian kemaluanku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan bokongnya juga ikut digesekkan ketubuhku. Tak lama kemudian aqu merasa tubuhku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aqu merasa aqu telah hampir orgasme.

“Raannniii.. aqu hampir keluar..” bisikku yg membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.
“Aahh.. Ranniii.. uuuhh.. aahh..” akhirnya dari kemaluanku memancar cairan yg menyembur kemana-mana. Tubuhku tersentak-sentak.

Sementara kemaluanku masih mengeluarkan cairan, tangan Rani tak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku telah diperas habis oleh tangannya. Aqu merasa air mani yg mengalir dari sela-sela jarinya membuat Rani semakin gemas. Air maniqu masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aqu merasa lemas sekali.

Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Rani berlumuran air maniqu ketika dikeluarkan dari celana dalemku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aqu bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aqu melihat ke arah jam.

“Astaga, sekarang telah jam 11! Wah, telah malam sekali nih, aqu ke kamarku dulu yah, taqut Om curiga nanti..” kataqu sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Rani mengangguk, aqu bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aqu tidur nyenyak sekali.

Pagi itu aqu bangun kesiangan, seisi rumah rupanya telah pergi semua. Aqu pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tak bisa konsentrasi sedikit pun, yg kupikirkan cuma Rani. Aqu pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aqu sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti pakaian, Rani keluar dari kamarnya, telah berpakaian rapi. Dia mendekat dan wajahnya menunduk.

“Dodok, kamu ada acara nggak? Temani aqu nonton dong..”
“Eh.. apa? Iya, iya aqu tak ada acara, sebentar yah aqu ganti pakaian dulu” jawabku, dan aqu buru-buru ganti pakaian dgn jantung berdebaran. Setelah siap, aqu pun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kita pergi dgn mobilnya. Aqu segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aqu baru sadar kalo dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataqu tak bisa lepas melirik kepahanya.

Sesampainya di bioskop, aqu beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aqu tahu Rani merasa kemaluanku telah tegang karena menempel di bokongnya. Rani meremas tanganku dgn kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yg menonton tak begitu banyak, dan di sekeliling kita tak ditempati.

Kami segera duduk dgn tangan masih saling meremas. Tangannya telah basah dgn keringat dingin, dan wajahnya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aqu telah tak tahan, segera kuusap wajahnya, kemudian kudekatkan ke wajahku, dan kita segera berciuman dgn gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut.

Tanganku segera menyelinap ke balik pakaiannya. Dan karena tak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan buah dadanya yg sebelah kiri aqu remas dgn gemas. Mulutku langsung dihisap dgn kuat oleh Rani. Tanganku pun semakin gemas meremas buah dadanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke buah dada yg kanan, dan Rani mulai mengerang di dalem mulutku, sementara kemaluanku semakin meronta menuntut sesuatu.

Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dgn arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sembari berciuman, di keremangan cahaya, aqu bisa melihat celana dalemnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi kupingku sampai aqu terangsang sekali. Celana dalemnya telah basah.

Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalemnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dgn penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sembari mendesis-desis. Tubuhnya tersentak-sentak beberapa saat.

“Dodok.. aduuuhh.. aqu tak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa..” rintihnya. Aqu pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.
“Dodok.. sekarang aqu mainin punya kamu yaahh..” katanya sembari mulai meraba celanaqu yg telah menonjol.

Kubantu dia dgn kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam kemaluanku, aqu merasa nikmat luar biasa. Kemaluanku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.

“Dodok.. ini telah basah.. cairannya licin..” rintihnya di kupingku sembari mulai digenggam dgn dua tangan.

Tangan yg kiri menggenggam pangkal kemaluanku, sedangkan yg kanan ujung kemaluanku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala kemaluan dan meratakan cairannya.

“Rani.. teruskan sayg..” kataqu dgn ketegangan yg semakin menjadi-jadi.

Aqu merasa kemaluanku telah keras sekali. Rani meremas dan mengurut kemaluanku semakin cepat. Aqu merasa air maniqu telah hampir keluar. Aqu bingung sekali karena taqut kalo sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.

“Rani.. aqu hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..” kataqu dgn suara yg tak yakin, karena masih keenakan.
“Waahh.. Rani belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aqu gemes..” rengeknya.
“Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaqu, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai.

Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaqu. Dan aqu diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari kemaluanku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan kemaluanku makin berdenyut ketika dia bilang,
“Nanti aqu boleh yah nyiumin ininya yah..” Aqu pengin segera sampai kerumah.

Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sembari berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku telah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan bokongnya dgn gemas. Rani kubimbing ke ruang keluarga. Sembari berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dgn sama gemasnya.

Pakaiannya kulucuti satu persatu sembari tetap berciuman. Sembari melepas pakaiannya, aqu mulai meremasi buah dadanya yg masih dibalut beha. Dgn tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalemnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.

Tubuhnya yg telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aqu memeluk seorang gadis dgn telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yg sering aqu impikan tapi tak terbaygkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataqu. Kemudian tangan Rani juga melepaskan pakaianku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalemku, Rani melaqukannya sembari memeluk tubuhku. Kemaluanku yg telah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya.

Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yg sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dgn ketat. Bibir kita saling melumat dgn napas yg semakin memburu. Tanganku meremas bokongnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi buah dadanya dgn bergantian. Tangan Rani juga telah menggenggam dan mengelusi kemaluanku. Tubuh Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yg semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dgn bebas.

Kemudian sembari tetap meremasi kemaluanku, Rani mulai merendahkan tubuhnya, sampai akhirnya dia berlutut dan wajahnya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi kemaluanku yg semakin keras di dalem genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Kemaluanku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak.

Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala kemaluanku. Aqu melihatnya dgn gemas sekali. Kepalaqu sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala kemaluanku. Tangannya masih menggenggam pangkal kemaluanku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala kemaluanku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan kemaluanku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dgn lidah tetap memutari kepala kemaluanku.

Aqu semakin mengerang, dan karena tak tahan, kudorong kemaluanku sampai terbenam kemulutnya. Aqu rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan kemaluanku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalem mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aqu tekan-tekan agar kemaluanku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yg melingkar-lingkar membuat aqu merasa telah tak tahan. Apalagi sewaktu Rani melaqukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

Ketika akhirnya aqu merasa air maniqu mau muncrat, segera kutarik kemaluanku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap menghisap kemaluanku. Maka aqu pun tak bisa menahan lebih lama lagi, air maniqu muncrat di dalem mulutnya dgn rasa nikmat yg luar biasa.

Air maniqu langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot kemaluanku sampai air maniqu muncrat berkali-kali. Tubuhku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yg tiada taranya. Meskipun air maniqu telah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Aqupun akhirnya tak kuat lagi berdiri dan akhirnya dgn napas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dgn mata terpejam.

“Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataqu berbisik.
“Ah.. aqu juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aqu mainin kamu.”

Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataqu memandangi tubuhnya yg terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aqu merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi buah dadanya yg sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas buah dada yg kiri.

Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan buah dada dan putingnya. Aqu terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aqu mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku.

Pahanya mulai aqu renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sembari mulutku terus menciumi buah dadanya, jariku mulai memainkan clitorisnya yg telah mulai terangsang juga. Cairan kemaluannya kuusap-usapkan ke seluruh perwajahan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan kemaluannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian.

“Ahh.. Doodookk.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyg-goyg. Bokongnya juga mulai terangkat-angkat. Aqu pun segera menurunkan kepalaqu ke arah selangkangannya, sampai akhirnya wajahku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dgn dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga kemaluan dan clitorisnya terbuka di depan wajahku.

Aqu tak tahan memandangi keindahan kemaluannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan kemaluannya. Cairan kemaluannya kusedot-sedot dgn nikmat. Mulutku menciumi mulut kemaluannya dgn ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai bokongnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaqu sampai aqu terbenam di selangkangannya. Aqu jilati terus, clitorisnya kuputar dgn lidah, kuhisap, kusedot, sampai Rani meronta-ronta. Aqu merasa kemaluanku telah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

“Doodook.. aqu tak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintihnya berulang-ulang.

Mulutku telah berlumuran cairan kemaluannya yg semakin membuat nafsuku tak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari kemaluannya. Sekarang giliran kemaluanku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sembari aqu duduk mengangkang juga. Pahaqu menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika kemaluanku digeser-geserkan di kemaluannya. Rani juga merasakan hal yg sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan kemaluanku digeser-geserkan di clitorisnya.

“Raniii.. aahh.. enakkk.. aahh..”
“aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”

Kita saling merintih. Kemudian karena kemaluanku semakin gatal, aqu mulai menggosokkan kepala kemaluanku ke mulut kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aqu mulai mendorong pelan sampai kepala kemaluanku masuk ke kemaluannya.

“Aduuuhh.. Doodook.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya
“Tahan dulu sebentar… Nanti juga hilang sakitnya..” kataqu membujuk

Kemudian pelan-pelan kemaluanku aqu keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalem sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi telah tak bisa bersuara.

Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan kemaluanku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aqu mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalem. Kali ini kita sama-sama mengerang dgn keras. Tubuh kita berpelukan, mulutnya yg terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dgn keras sekali sehingga aqu merasa ujung kemaluanku telah mentok ke dinding kemaluannya.

Kita tetap berpelukan dgn erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dgn kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yg tiada taranya. Setelah itu bokongnya sedikit demi sedikit mulai bergoyg, maka aqu pun mulai menggerakkan kemaluanku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goygan bokong Rani juga semakin cepat.

“Doodook.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayg.. aqu hampir niihh..” rintihnya.
“Iya.. nihh.. tahan dulu.. aqu juga hampirr.. kita bareng ajaa..” kataqu sembari terus menggerakkan kemaluan semakin cepat.

Tanganku juga ikut meremasi buah dadanya kanan dan kiri. Kemaluanku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalem kemaluannya sampai bokongnya terangkat dari karpet. Dan aqu merasa kemaluannya juga menguruti kemaluanku di dalem. Kemaluanku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn..

”Raaniii.. aqu mau keluar niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Rani juga keluar sekarang niiihh.”Aqu pun menghunjamkan kemaluanku keras-keras yg disambut dgn bokong Rani yg terangkat ke atas sampai ujung kemaluanku menumbuk dinding kemaluannya dgn keras.

Kemudian pahanya menjepit pahaqu dgn keras sehingga kemaluanku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Kemaluannya berdenyut-denyut. Air maniqu memancar, muncrat dgn sebanyak-banyaknya menyirami kemaluannya.

“aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan kemaluannya masih berdenyut, mencengkeram kemaluanku, sehingga air maniqu berkali-kali menyembur. Bokongnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga kemaluanku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tak akan berakhir.

Bokongku masih ditahan dgn tangannya, pahanya masih menjepit pahaqu erat-erat, dan kemaluannya masih berdenyut meremas-remas kemaluanku dgn enaknya sehingga sepertinya air maniqu keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.

“aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita telah tak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

Ketika telah mulai kendur, kuciumi Rani dgn kemaluan masih di dalem kemaluannya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sembari saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aqu menyadari kalo Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur.

Aqu menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena kemaluanku. Dan ketika kemaluanku kucabut dari sela-sela kemaluannya memang mengalir darah yg bercampur dgn air maniqu. Kita terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaqu, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dgn berpelukan.

Aqu terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Rani masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aqu bangun dan kuselimuti tubuhnya pelan-pelan. Kemudian aqu segera ke kamar mandi, kupikir shower dgn air hangat pasti menyegarkan. Aqu membiarkan tubuhku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aqu telah mandi sekitar 20 menit, ketika aqu merasa kaget karena ada sesuatu yg menyentuh punggungku. Belum sempat aqu menoleh, tubuhku telah dilingkari sepasang tangan.

Ternyata Rani telah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan tubuhnya merapat di punggungku.

“Aqu ikut mandi yah..?” katanya.

Aqu tak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yg ada di dadaqu, sembari menenangkan diriku yg masih merasa kaget. Sembari tetap memelukku dari belakang, Rani mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaqu. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aqu juga merasakan buah dadanya yg menekan punggungku.

Usapan tangan Rani mulai turun ke arah perutku, dan kemaluanku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tak lama kemudian tangan Rani sampai di selangkanganku dan mulai mengusap kemaluanku yg semakin tegak. Sembari menggenggam kemaluanku, Rani mulai menciumi belakang leherku sembari mendesah-desah, dan tubuhnya semakin menekan tubuhku.

Selangkangan dan buah dadanya mulai digesek-gesekkan ke bokong dan punggungku, dan tangannya yg menggenggam kemaluanku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala kemaluanku berulang-ulang sehingga aqu merasakan kenikmatan yg luar biasa.

“Raniii oohh.. nikmat sekali sayg.”
“Doodookk uuuhh”, erangnya sembari lidahnya semakin liar menciumi leherku.

Aqu yg telah merasa gemas sekali segera menarik tubuhnya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aqu sekarang memeluk tubuhnya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan kemaluanku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yg nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Rani. Tangan kiriku segera meremasi buah dadanya dgn gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya.

Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Rani pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit kemaluanku, dan bokongnya mulai bergerak-gerak yg membuat aqu semakin merasa nikmat. Wajahnya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dgn keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yg semakin licin. Kepala kemaluanku juga mulai dikocok-kocok dgn lembut.

“Rani aqu tak tahan nih aduuuhh.”
“Iya Dod.. aqu juga telah tak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”

Tubuh Rani segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aqu segera mengarahkan dan menempelkan ujung kemaluanku ke arah bibir kemaluannya yg telah menganga lebar menantang.

“Dodok.. cepat masukkan sayg cepat uuhh ayoo.” Aqu yg telah gemas sekali segera menekan kemaluanku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar kemaluannya. Rani menjerit keras sekali. Wajahnya sampai mendongak.
“aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aqu yg telah tak sabar mulai menggerakkan kemaluanku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dgn kasar yg membuat Rani semakin keras mengerang-erang. Buah dadanya aqu remas-remas dgn dua tanganku.

Tak lama kemudian Rani mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoygkan bokongnya. Kemaluannya juga mulai berdenyut meremasi kemaluanku. Aqu menjadi semakin kasar, dan kemaluanku yg telah keras sekali terus mendesak dasar kemaluannya. Dan kalo kemaluanku sedang maju membelah kemaluannya, tanganku juga menarik bokongnya ke belakang sehingga kemaluanku menghunjam dgn kuat sekali. Tapi tiba-tiba Rani melepaskan diri.

“hh sekarang giliranku aqu telah hampir sampai.” katanya. Kemudian aqu disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Rani yg mulai menurunkan tubuhnya. Kemaluanku yg mengacung ke atas mulai dipegang Rani, dan di arahkan ke bibir kemaluannya.

Tiba-tiba Rani menurunkan tubuhnya duduk di pangkuanku sehingga kemaluanku langsung amblas ke dalem kemaluannya. Kita sama-sama mengerang dgn keras, dan mulutnya yg masih menganga kuciumi dgn gemas.

Kemudian bokongnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Rani melaqukannya dgn ganas sekali. Bokongnya juga diputar-putar sehingga aqu merasa kemaluanku seperti dipelintir.

“Doodook.. aqu.. aqu.. telah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sembari terus menghunjam-hunjamkan bokongnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke buah dadanya yg bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu perwajahan buah dadanya. Buah dadanya kemudian kusedot dan kukenyot dgn keras, membuat gerakan Rani semakin liar.

Tak lama kemudian Rani menghunjamkan bokongnya dgn keras sekali dan terus menekan sembari memutar bokongnya.

“Sekaranggg aahh sekaranggg Dodok, sekaranggg”, Rani berteriak-teriak sembari tubuhnya berkelojotan.

Kemaluannya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Rani orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan tubuhnya berangsur mengendur.

“Dod, makasih yah.., sekarang aqu pengin ngisep boleh yah..?” katanya sembari mengangkat bokongnya sampai kemaluanku lepas dari kemaluannya. Rani kemudian menundukkan wajahnya dan segera memegang kemaluanku yg sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataqu sampai menyentuh tenggorokannya.

Tangannya kemudian mengocok pangkal kemaluanku yg tak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan kemaluanku. Aqu benar-benar telah tak tahan. Ujung kemaluanku yg telah sampai di tenggorokannya masih aqu dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari kemaluanku yg ada dalem mulutnya. “Raniii isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Rani yg merasa kemaluanku hampir menyemburkan air mani semakin menyedot dgn kuat. Dan…

”aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” air maniqu menyembur dgn deras berkali-kali dgn rasa nikmat yg tak berketelahan. Rani dgn raqusnya menelan semuanya, dan masih menyedot air mani yg masih ada di dalem kemaluan sampai habis. Rani terus menyedot yg membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Rani masih juga menjilati kemaluanku, air maniqu yg sebagian tumpah juga masih di jilati.

Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sembari saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aqu telusuri. Dan aqu pun semakin menyadari bahwa tubuhnya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sembari terus berpelukan.

Pagi-pagi ketika aqu bangun ternyata Rani telah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan pakaian tanpa lengan yg serasi dgn kulitnya yg halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang telah habis. Maka aqu pun segera mandi dan bersiap-siap.

Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aqu menikmati jalan berdua dgnnya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di dalem mobil dalem perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yg ringan.

Ketika ngobrol tentang sesuatu yg lucu, Rani tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yg pendek tersingkap. Aqu pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yg indah, meletakkan tanganku ke pahanya yg terbuka.

“Ayo.. nakal yah..” kata Rani, bercanda.
“Tapi suka kan?” kataqu sembari meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Rani memang memberi sensasi tersendiri, sampai aqu merasa kemaluanku menjadi tegang sendiri.
“Dodok.. telah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya telah bangun.. pingin lagi yah? Rani jadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Rani menggodaqu. Aqu cuma senyum menanggapinya, dan memang aqu telah kepingin mencumbunya lagi.
“Dodok, pakaiannya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aqu semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aqu yg meneruskan aksiku.

Sembari menyetir aqu pun mengeluarkan ujung pakaianku dari celanaqu. Kemudian tanpa menunggu, tangan Rani langsung menyelinap ke balik pakaianku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari kemaluanku yg semakin tegang.

“Ati-ati, masih siang nih, kalo ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataqu. Rani diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menewajahn apa yg dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas kemaluanku yg masih di dalem celana. Kemaluanku semakin tegang dan berdenyut-denyut.

Karena terangsang juga, Rani mulai berusaha membuka ritsluiting celanaqu, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala kemaluanku. Cairan pelumas yg mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang kemaluanku.

“Dodok.. aqu pengin ngisep ininya.. aqu pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku..” katanya sembari agak mendesah. Aqu juga ingin segera merasakan apa yg dia ingini. Yg ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.

Tapi harapan kita ternyata tak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Rani telah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.

“Eh, telah pada pulang yah..” Rani menyapa mereka.
“Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayg.. telah belanja kan?” kata maminya Rani.
“Iya deh, sebentar Rani ganti pakaian dulu. Eh, Dodok, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aqu”, kata Rani sembari tersenyum penuh arti. Aqu cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dgn celana pendek dan T-shirt. Kemudian aqu ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es.

Tak lama kemudian Rani menyusul ke dapur. Dia pun telah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Rani mulai mengajariku memasak.

“Telah Mami istirahat saja sana, kan ini juga telah ada yg ngebantuin..” kata Rani.
“Iya deh, emang Mami cape banget sih, telah yah, Mami mau coba istirahat saja”, kata Maminya Rani sembari keluar dari dapur. Aqu yg sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Rani tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalem celanaqu dan memegang kemaluanku yg masih tidur.

“Eh.. kok ininya bobo lagi.. Rani bangunin yah?” tangannya dikeluarkan kemudian Rani mengambil salad dressing yg ada di depanku, masih sembari merapatkan tubuhnya dari belakangku.

Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke kemaluanku yg langsung menegang. Sembari merapatkan tubuhnya, buah dadanya menekan punggungku, Rani mulai meremasi kemaluanku dgn dua tangannya. Nikmat yg aqu rasakan sangat luar biasa. Aqu segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas bokongnya yg bulat itu.

Tanganku aqu turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sembari meremas pahanya dgn gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aqu baru menyadari kalo Rani ternyata telah tak memakai celana dalem. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi bokongnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan kemaluannya dan mulai memainkan clitorisnya yg telah sangat basah terkena cairan yg semakin banyak keluar dari kemaluannya. Tangan Rani juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok kemaluanku.

“Rani.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang telah tidur..” kataqu berbisik karena merasa agak tak aman.

Rani kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.

Tak lama kemudian Rani kembali dan bilang semuanya telah tidur. Aqu segera memeluk Rani yg masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Rani kupepet ke dinding. Kita berciuman dgn gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yg ditemui. Kemaluanku langsung ditarik keluar oleh Rani dan aqu segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yg menganga langsung kuserbu dgn jari-jariku.

Tangan Rani menuntun kemaluanku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala kemaluanku ke belahan kemaluannya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Rani tak mengerang, mulutnya terus kusumbat dgn mulutku. Kemudian karena telah tak tahan, aqu segera mengarahkan kemaluanku tepat ke mulut kemaluannya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas.

Kaki Rani satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sembari kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aqu maju-mundurkan kemaluanku, dan Rani berusaha menggoyg-goygkan bokongnya juga. Kemaluannya berdenyutan terasa meremasi batang kemaluanku. Tak lama kemudian aqu merasa Rani hampir orgasme.

Denyutan kemaluannya semakin keras, tubuhnya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aqu merasa Rani orgasme. Kontraksi otot kemaluannya membuat kemaluanku merasa seperti diurut-urut dan aqu juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Rani tak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan bokongku yg masih menghunjam-hunjamkan kemaluanku dan mendesakkan tubuhnya ke dinding.

Kemudian sementara kemaluanku masih di dalem dan kaki Rani masih di pinggangku, aqu melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Rani ada di pangkuanku dgn punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Rani masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati kemaluanku yg masih di dalem kemaluannya.

Sementara aqu menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Rani ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yg saling menempel. Belahan kemaluannya kubuka dan aqu melihat pemandangan yg sangat indah. Kemaluanku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalem kemaluan Rani, dan di atasnya aqu melihat clitorisnya yg sangat basah.

Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Rani mulai mendesis-desis lagi, dan bokongnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan kemaluanku menjadi semakin masuk. Aqu merasa kemaluannya mulai berdenyutan lagi meremas-remas kemaluanku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aqu melihat buah dadanya yg menantangku untuk segera memainkannya. Dgn tak sabar segera buah dadanya yg kiri kulumat dgn mulutku, yg membuat kepala Rani mendongak merasakan kenikmatan itu. Sembari melumati buah dadanya, lidahku juga memainkan putingnya yg telah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dgn gemas. Tanganku dua-duanya meremasi bokongnya yg bulat.

“Ya Tuhan Doodookk aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sembari kadang menjilati dan menggigit kupingku.
“Doodook.. aahh.. aqu hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayg”, rintihnya dgn gerakan yg semakin liar.

Bokongnya semakin keras menekan dan berputaran, yg membuat kemaluanku juga seperti dipelintir dgn lembut.

Aqu pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dgn terus memainkan buah dadanya bergantian yg kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting buah dadanya, sampai Rani tiba-tiba menggigit kupingku dgn keras dan setelah menghentakkan bokongnya dia memelukku dgn eratnya.

“hh Dodddiii.. hh. hh.” Aqu merasakan Rani orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yg pertama.

Denyutan kemaluannya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yg aqu rasakan membuatku merasa telah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Rani masih ingat keinginannya untuk menghisap kemaluanku.

“Dodok.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”.

Maka setelah turun dari pangkuanku, Rani segera jongkok di depanku dan langsung mengulum kemaluanku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aqu merasa orgasmeku telah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Rani, dan kutekan agar kemaluanku semakin masuk di mulutnya, kemudian aqu juga membantu memasuk-keluarkan kemaluanku di mulutnya, dan

“aahh Rani aqu keluarrr terus isaappp.. aahh..” dan memang Rani dgn lahapnya terus menghisap air maniqu yg langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Kemaluanku yg masih mengeluarkan air mani terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal kemaluanku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.

Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.

“Dodok.. makasih yah, tapi aqu belum puas, habis kurang bebas sih, nanti malem lagi yah..!” aqu yg merasa hal yg sama cuma mengangguk.
“Ran, aqu nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu.”
“Maksudmu..? apa selama ini belum?”
“Aqu pengin melaqukan hal yg lain sama kamu.., tunggu saja..”
“Ihh.. apaan sih.., Rani jadi merinding nih”, kata Rani sembari memperlihatkan bulu-bulu tangannya yg memang berdiri, dan sembari tersenyum aqu mengelusi tangannya. Kemudian tubuhnya kupeluk dari belakang dgn lembut. Aqu merasa bahagia sekali.