Jumat, 30 Juni 2017

Peganti Suami






Serbubet Kehidupan malam baru saja berangkat menanjak gulita. Suasana desa Baturan terasa lenggang. Angin berembus menyelusup celah-celah rumah Ibu Risma yg hanya ditemani putra laki-laki semata waygnya. Pikirannya gelisah menanti pagi. Pagi yg kelam sekelam mimpinya kemarin malam. Suami yg sangat dicintainya, yg telah menghidupinya dgn segala kemewahan dunia dan kemanjaan birahi, terkena skandal “Desa Gate”.

Kasus korupsi penyalahgunaan subsidi kesejahteraan masyarakat desa. Sebagai kepala desa, suami ibu Risma bertanggung jawab atas lancarnya dana tersebut di terima masyarakat prasejahtera. Rupanya nasib menentukan lain. Masyarakat sekarang mulai kritis dan penegakkan hukum sangat diperhatikan aparat pemerintah. Masyarakat sangat antipati melihat kebobrokan aparat desanya. Maka dijebloskanlah suami ibu Risma ke penjara. Segala perbuatannya selama sekian tahun diam-diam diintip oleh aparat pemerintah yg bernaung dalam badan yg bernama PKKN “Pemberantas Korupsi Kolusi dan Nepotisme”. Bukti-bukti yg telah dikumpulkan, meja pengadilan telah siap membeberkan dalil-dalil pembenaran atas kasus suami ibu Risma. Bila terbukti hukumnya MATI.

Dgn berdandan seadanya dan pikiran yg masih gundah. Ibu Risma melangkah masuk menemui suaminya. Penjagaan sangat ketat. Empat orang polisi mendampingi percakapan ibu Risma dan suaminya. Ibu Risma menjauh memandangi jendela yg terkurung besi kokoh. Saat suaminya berusaha membuka percakapan dgn putranya.
“Bapak kapan pulang” dgn tatapan lugu putranya bertanya pada bapaknya. Deg jantungnya serasa disetrum berpuluh-puluh watt listrik tegangan tinggi. Jantungnya serasa hangus dan jiwanya serasa terbang mendengar pertanyaan putranya. Tidak tahukah putranya, besok bapaknya akan dihukum mati. Vonis sudah keluar, segala banding sudah tidak berguna. Masyarakat dan pemerintah begitu bersatu menentang segala bentuk ketidaksenonohan oknum pemerintah.

Ibu Risma segera merangkul putranya seraya melangkah keluar. Besok pukul 12.00 siang eksekusi mati atas diri suami ibu Risma akan dijalankan. Permintaan terakhir suaminya, meminta persetubuhan dgn istrinya. Didalam ruang yg tertutup dgn lampu yg temaram, ibu Risma dan suaminya bugil saling menatap tubuh satu persatu. Dirabanya dada suaminya yg bidang. Suaminya memagut bibir ibu Risma dan meremas buah dadanya yg masih kencang. Dihisapnya puting buah dada ibu Risma.
“Ahh..” desahan napas ibu Risma memantul setiap dinding ruang 3×4 tersebut. Desiran darah dan birahinya memuncak, menghilangkan kekalutan pikirannya. Puting buah dada ibu Risma mengeras pertanda birahinya memuncak. Kemaluan suaminya menegang siap memasuki kemaluan ibu Risma yg telah sekian lama tidak tersentuh senjata tumpul. Dalam kondisi masih berdiri, BLESS.. sedikit kesat kemaluan suaminya menerobos dinding kemaluannya.
“Ahh.. trus pak..ahh..masukkan yg dalam..ahh..” dgn suara sedikit serak mengandung birahi, ibu Risma sangat menikmati kemaluannya diterjang dan dimaju mundurkan oleh suaminya.

Dinding-dinding kemaluannya mencengkeram batang kemaluan suaminya. BLEP..BLEPP..SRETT..SRETT.. bunyi kemaluan dan kemaluan yg sangat klasik. Dinding-dinding kemaluannya sedikit demi sedikit mengeluarkan cairan pertanda kepuasan duniawai telah direngkuh. Matanya memejam merasakan sensasi yg luar biasa. Otot-otot kemaluan mulai mengendur dan cairannya membahasi lubang kemaluannya. Suaminya semakin cepat memainkan kemaluannya. Maju mundur maju mundur, pantatnya bergoyg.
“Ahh..aku mau keluar.. bu..” semakin keras goygan badan suaminya. Desiran nafsu birahi ibu Risma kembali memuncak. Otot-otot kemaluan ibu Risma mulai berkedut-kedut mencekram lebih kuat kemaluan suaminya.
“Ahh..keluar pak..keluar sama-sama.. ahh..” Crot-crort..crroott.. semburan air mani suaminya bercampur dgn cairan ibu Risma, Banjir! Lubang kemaluannya basah oleh cairannya dan air mani suaminya. Satu dua menetes air mani suaminya keluar dari celah-celah lubang kemaluannya. Dirangkulnya suaminya, seraya menangis.

Enam bulan telah berlalu. Kematian suaminya masih menyisakan kesedihan yg mendalam. Rumah yg jauh dari keramaian serta hanya ditemani oleh putra semata waygnya, benar-benar membuat stress pikiran ibu Risma. Pikirannya kembali menerawang saat ibu dan putra tersebut menonton TV. Ibu Risma membaygkan saat-saat percintaannya dgn suaminya. Begitu romantis dan indahnya hidup saat itu. Airmatanya tak kuasa menerobos celah-celah kelopak matanya.
“Ibu, jangan menangis ya..” dgn lugu, seorang putra berumur delapan tahun menghapus airmatanya.
“Tidak, nak.. Ibu hanya kangen dgn bapakmu” matanya sembab memandang putranya. Diusapnya rambut putranya dgn kasih sayg. Diciumnya rambut putranya, pipi dan bibir putranya. Putra kecil yg lugu itu membalas ciuman ibunya dgn kasih sayg. Ibu Risma seperti menemukan gairah hidup, semangat membara.

Desiran darahnya perlahan-lahan berusaha naik, menguasai saraf-saraf birahinya. Ibu Risma benar-benar terlena dgn keadaan itu. Dilumatnya bibir putranya dgn sedikit nakal. Seolah-olah roh suaminya masuk kedalam raga putranya. Putra kecil berumur delapan tahun, pandai memberikan rangsangan birahi kepada ibunya. Diremasnya buah dada ibu yg masih terbalut pakaian. Satu persatu dibukanya kancing pakaian ibunya. Ibu Risma membiarkan kenakalan tangan putranya. Pikirannya berkecamuk antara dua sisi black and white.

Antara birahi dan sayg bedanya sangat tipis. Saat sekujur tubuh telah dirasuki saraf-saraf nakal birahi, saat itulah nafsu akan muncul. Lumatan bibir kedua putra manusia yg dibatasi oleh status hidup, Ibu dan Putra makin menjadi-jadi. Ibu Risma begitu agresif melumat bibir putranya. Dgn pakaian yg telah terbuka dan buah dada yg menggantung, ibu Risma membuat kemaluan putranya menjadi keras. Perlahan-lahan dibukanya celana pendek putranya. Kemaluan kecil tersebut tidak malu-malu lagi mendongak ke atas. Sepertinya kemaluan kecil tersebut masih bingung menunggu intruksi dari ibunya. Dgn lembut tangan ibu Risma meremas kemaluan kecil putranya.

Berkali-kali diusapnya ujung kemaluan putranya. Terlihat mata si kecil merem melek merasakan sensasi yg sangat luar biasa dan pertama baginya. Dgn tanpa disangka-sangka, ibu Risma melepaskan pagutan-pagutan dibibir putranya. Bibirnya kemudian mencium kemaluan putranya. Dari ujung kemaluan kecil tersebut hingga kedua pentol putranya dilumatnya tanpa sisa. Dikulumnya kemaluan tersebut, dihisapnya dgn perlahan-lahan, maju-mundur kepala ibu Risma memasukkan kemaluan putranya hingga memenuhi rongga-rongga mulutnya.

Birahi ibu Risma meledek-ledak membakar setiap sendi-sendi tubuhnya. Menjalar dari atas menyelusupi setiap tubuhnya hingga memuncak, membuatnya kehilangan daya pikir. Dilepasnya seluruh pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa ditutupi sehelai benang pun. Kedua buah dadanya menggantung bebas menantang seakan ingin memamerkan kepada putranya. Jamah diri ibumu sayg, reguk setiap tubuhku, nikmati nikmati kenikmatan duniawi ini bersama ibu. Seakan mengerti atau naluri purbanya menuntun, sikecil segera menghisap puting ibunya. Srep srep bunyi hisapan mulut putranya menghisap buah dada ibunya. Hisapan yg berbeda saat sikecil menyusui mencari air buah dada ibunya.

Hisapan tersebut membuat sekujur tubuh ibu Risma meregang menahan geli. Begitu tidak tahan birahinya. Dgn perlahan ibu Risma merebahkan badannya di sofa merah tersebut. Kedua pahanya terbuka menantang, mempertontonkan lebatnya rambut-rambut kemaluannya. Berkedut-kedut kemaluan ibu Risma pertanda birahinya begitu memuncak. Dituntunnya kemaluan putranya memasuki lubang kemaluannya. B l e s.. tiada kata-kata yg dapat diucapkan, hanya erangan napas birahi ibu Risma dan bunyi paha keduanya beradu menimbulkan bunyi persetubuhan yg khas. Mata putranya sedikit terpejam merasakan sensasi pertama baginya. Otot-otot kemaluannya sedikit memerah, menampakkan goresan.

“Ah ah ah” dari mulut putra kecilnya terdengar sembari menggoygkan badannya. Maju dan mundur.
“Trus trus sayg.. ah.. ohh..” Ibu Risma melenguh memejam matanya. Rupanya kenikmatannya telah sampai. Pikirnya, meskipun kemaluan putranya tidak begitu besar khas kemaluan putra-putra, rupanya bisa juga membuat dirinya terlena. Cengkeraman dinding kemaluannya tidak begitu erat mencekram kemaluan putranya. Dgn bebasnya kemaluan putranya maju dan mundur mengikuti irama persetubuhan kedua orang manusia. Bles..bless..bless..
“Ibu.. aku mau piipiiss..” Sambil menarik badannya, sehingga crroott.. croott.. keluar air mani dari ujung kemaluan putranya.

Muka dan buah dada ibu Risma terciprat oleh air mani putranya. Putranya hanya mematung memandang kemaluannya yg masih tersisa ceceran air mani. Sedikit demi sedikit ceceran air maninya jatuh pada paha ibu Risma. Ibu Risma hanya tersenyum melihat sikap putranya yg terkesan bingung. Mungkin dia berpikir akan keluar air kencing, sehingga menarik kemaluannya. Padahal kalau di keluarkan didalam sensasinya akan lain. Dasar putra-putra, pikir ibu Risma.

Dukun Dan Suami Yang Cabul






Serbubet Namaku Mia, karyawati sebuah bank swasta terkenal, yang semenjak beberapa lama aku mengalami frigiditas dalam persetubuhan, terutama sejak melahirkan anak pertamaku. Atas anjuran suamiku, aku dibawa suamiku ke dukun yang bernama Ki Alugoro yang bermukim di desa kecil di luar Jakarta untuk menyembuhkan frigiditasku.

Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu-gebu, mungkin karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku).
Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena kontol Ki Alugoro memang benar-benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan-ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar-benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah seks yang lumayan tinggi. Hanya saja, karena ukuran kontol suamiku jauh lebih kecil dari kontol Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh.
Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura-pura belum sembuh? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya). Mula-mula terbersit pikiran untuk berbuat begitu, tapi setelah kupikir-pikir lagi kok gengsi juga ya? Masak seorang istri baik-baik datang ke laki-laki lain supaya disetubuhi walaupun kalau mengingat kontol Ki Alugoro yang luar biasa besar itu aku sering tidak bisa tidur dan gairahku untuk bersetubuh memuncak habis.
Sering-sering aku harus memuaskan diri dengan dildo yang kubeli tempo hari di depan suamiku sehabis kami bersetubuh karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku. Malah sering suamiku sendiri yang merojok-rojokkan dildo itu ke dalam tempikku.
Untunglah, entah karena mengerti penderitaanku atau tidak, ternyata suamiku mempunyai angan-angan untuk melakukan persetubuhan three in one atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain, terutama setelah dia melihat aku disetubuhi Ki Alugoro tempo hari. Pantesan sejak itu, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan angan-angannya. Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku, seperti dengan Ki Alugoro tempo hari.

Setelah beberapa lama dia menceritakan angan-angannya tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan angan-angan tersebut. Pada awalnya aku pura-pura mengira dia cuma bercanda. Namun dia semakin mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius.

Dia jawab, ”Ya aku serius!” Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme dengan Ki Alugoro tempo hari, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya (rupanya, waktu melihat tempikku dianceli kontol gede Ki Alugoro, diam-diam dia mengocok-ngocok kontolnya sendiri sampai orgasme.)
Tentu saja hal itu sebetulnya sangat aku harapkan. Inilah yang namanya dildo dicinta, kontolpun tiba. Secara terus terang, seperti aku tuturkan diatas, aku tidak pernah merasa puas dengan kontol suamiku yang kecil, terutama setelah tempikku dianceli oleh kontol Ki Alugoro yang luar biasa itu. Wah, rasanya sampai tidak bisa aku katakan.
Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, apalagi di pagi hari apabila malamnya kami melakukan persetubuhan karena suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna dan aku tidak sampai orgasme.
Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan angan-angannya (padahal sebenarnya aku sudah sangat mengharapkan, kapan rencana itu diwujudkan?).

Tetapi untuk meyakinkan keseriusannya aku pura-pura terpaksa mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutanyakan apakah dia tidak cemburu melihat istrinya ditelanjangi dan tempiknya dianceli dengan kontol orang lain? Dia bilang sama sekali tidak.
”Karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan terpuaskan dalam persetubuhan” jawabnya mantab waktu itu.
”Tentu saja aku akan mencarikan kau temanku yang mempunyai kontol besar dan keras. Setidak tidaknya sama dengan kontol Ki Alugoro tempo hari” janjinya lebih lanjut.
Sejak itu dia rajin menawarkan nama-nama temannya untuk mensetubuhiku.
”Terserah kaulah, kan kau yang punya rencana aku disetubuhi temanmu” jawabku waktu itu.
Akhirnya di suatu hari suamiku berbisik padaku, ”Aku telah mengundang Edo untuk menginap di sini malam ini”
Hatiku berdebar keras mendengar kata-kata suamiku itu, karena Edo teman suamiku itu adalah salah seorang idola di sekolahku dulu dan dia adalah cowok yang menjadi rebutan cewek-cewek dan sangat kudambakan jadi pacarku semasa SMA. Suamikupun kenal baik dengan dia karena kami memang berasal dari satu kota kabupaten yang tidak seberapa besar. Terus terang kuakui bahwa penampilan Edo sangat oke.

Bentuk tubuhnya pun lebih tinggi, lebih kekar dan lebih atletis dari tubuh suamiku karena dia dulu jago basket dan olah raga yudo. Walaupun Edo adalah cowok yang kudambakan semasa SMA dulu, tetapi kami belum pernah berpacaran karena dia memang agak acuh terhadap cewek dan disamping itu, banyak sainganku cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia. Apalagi waktu itu sudah menjelang EBTANAS, dan setelah itu dia sibuk dengan persiapan masuk universitas. Waktu itu aku kelas 1, sedang dia kelas 3 SMA.
Ketika Edo datang, aku sedang mematut-matut diri dan memilih gaun yang seksi dengan belahan dada yang cukup rendah agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kuamati gaun yang kukenakan terlihat sangat ketat melekat pada tubuhku sehingga lekukan-lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Susuku kelihatan sangat menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Tubuhku memang ramping dan berisi.

Susuku yang subur juga kelihatan sangat kenyal. Demikian pula pantatku yang cenderung nonggeng itu menonjol seakan menantang laki-laki yang melihatnya. Dengan perutku yang masih cukup rata dengan kulitku yang puber (putih bersih) membuat tubuhku menjadi sangat sempurna. Apalagi wajahku memang tergolong cantik. Dan terus terang, dari dulu aku memang bangga dengan tubuh dan wajahku. Tiba-tiba aku baru tersadar, pantas saja suamiku mempunyai angan-angan untuk melihat aku disetubuhi oleh laki laki-lain. Ingin membandingkan dengan film BF yang sering kami lihat mungkin.
Setelah mematut-matut diri, aku keluar untuk menyediakan makan malam. Setelah makan malam, Edo dan suamiku duduk mengobrol di teras belakang rumah dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan sedikit minuman keras pemberian teman suamiku yang baru pulang dari luar negeri.

Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu hanya kami berdua ditambah Edo saja di rumah. Pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumahnya selama beberapa hari, sedang anakku satu-satunya tadi siang dijemput mertuaku untuk menginap di rumahnya.
Ketika hari telah makin malam dan udara mulai terasa dingin, tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku, ”Aku telah bicara dengan Edo mengenai rencana kita. Dia setuju malam ini menginap di sini.
”Tapi walaupun demikian kalau kamu kurang cocok dengan pilihanku ini, kamu tidak usah takut berterus terang padaku!” bisik suamiku selanjutnya.
”Tapi kujamin kontolnya memang gede, aku beberapa kali melihatnya waktu kencing di kantor. Tapi soal kekerasannya, kamu sendiri yang dapat membuktikannya nanti” lanjutnya lagi.
Mendengar bisikan suamiku itu, diam-diam hatiku gemetar sambil bersorak gembira, tetapi aku pura-pura diam saja, tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima.

Dalam hati aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan cemburu melihat istrinya disetubuhi lelaki lain secara sadar dan seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain yang sudah amat dia kenal (kalau dengan Ki Alugoro kan dalam rangka penyembuhan?).
Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan berganti pakaian memakai baju tidur tipis tanpa BH, sehingga susuku, terutama pentil susuku yang besar itu terlihat membayang di balik baju tidur.
Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Edo kelihatan terpana untuk beberapa saat.
Akan tetapi mereka segera bersikap biasa kembali dan suamiku langsung berkata, ”Ayo..!” katanya dengan senyum penuh arti kepada kami berdua dan kamipun segera masuk ke kamar tidur.
Di kamar tidur suamiku mengambil inisiatif lebih dulu dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh susuku dari luar baju tidur.
Melihat itu, Edo mulai mengelus-elus pahaku yang terbuka, karena baju tidurku tersingkap ke atas. Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri tengkurap di atas tempat tidur. Sebenarnya nafsuku sudah mulai naik karena tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah idolaku waktu di SMA dulu, apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur tipis tanpa BH.

Akan tetapi kupikir aku harus berpura-pura tetap tenang untuk melihat inisiatif dan aktivitas Edo dalam memancing gairah birahiku. Aku ingin tahu sampai seberapa kemahirannya.
Beberapa saat kemudian kurasakan bibir Edo mulai menyusur bagian yang sensitif bagiku yaitu bagian leher dan belakang telinga. Merasakan gesekan-gesekan itu aku berpikir bahwa inilah saat untuk merealisasikan angan-angan suamiku. Seperti mengerti keinginanku, Edo mulai mengambil alih permainan selanjutnya.

Aku langsung ditelentangkan di pinggir ranjang, kemudian tangannya yang kiri mulai memegang sambil memijit-mijit susuku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang kanan mengelus-elus dan memijit-mijit bibir tempikku yang masih dibalut celana dalam, sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Edo yang berada di susuku mulai memelintir dengan halus ujung pentilku yang besar dan mulai mengeras.
Masih dalam posisi terlentang, kurasakan jemari Edo. terus meremas-remas susuku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu sebenarnya nafsuku belum begitu meninggi, tetapi rupanya Edo termasuk jagoan juga karena terbukti dalam waktu mungkin kurang dari 5 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya.
Kini Edo mulai membuka baju tidurku dan beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku. Lalu aku merasakan hembusan lembut hawa dingin AC di tempikku yang berarti celana dalamku telah dilepas oleh Edo. Kini Edo telah menelanjangi diriku sampai aku benar-benar dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.
Aku hanya bisa pasrah saja merasakan gejolak birahi dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi laki-laki idolaku dihadapan suamiku sendiri.
Kulirik Edo penuh nafsu menatap tubuhku yang telah telanjang bulat sepuas-puasnya.
Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Aku ditelanjangi oleh laki-laki idolaku dan yang sebenarnya aku harapkan kehadirannya.
Belum pernah aku bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain, kecuali dengan Ki Alugoro dalam keadaan setengah sadar dalam rangka penyembuhan tempo hari, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.
Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Edo.
Maka, secara reflek dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kontol Edo yang telah tegang dari luar celananya. Ini kelihatan karena bagian bawah celana Edo mulai menggembung besar.

Aku mengira-ngira seberapa besar kontol Edo ini. Kemudian aku mengarahkan tanganku ke arah retsluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kontol Edo yang ternyata memang telah ngaceng itu. Aku langsung tercekat ketika terpegang kontol Edo yang seperti kata suamiku ternyata memang besar.
Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus kontolnya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan ini. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain.
Sebagai seorang wanita dengan nafsu birahi yang lumayan tinggi, keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Edo pada bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang mulai menjalari diriku dan tempikku.
Setelah beberapa saat aku memegang sambil mengelus-elus kontol Edo, tiba-tiba Edo berdiri dan membuka celana beserta celana dalamnya sehingga kontolnya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Setelah membuka seluruh pakaiannya, kini Edo benar-benar bertelanjang bulat.
Sehingga aku dapat melihat dengan jelas ukuran kontol Edo dalam keadaan ngaceng, yang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran kontol suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. kontol Edo ini mencuat lurus ke depan agak mendongak ke atas, sedang kontol suamiku jauh lebih kecil, agak tunduk ke bawah dan miring ke kiri. Aku betul-betul terpana melihat kontol Edo yang sangat besar dan panjang itu.

kontol yang sebesar itu memang belum pernah aku lihat (waktu dengan Ki Alugoro aku tidak sempat memperhatikan seberapa besar kontolnya, karena aku agak malu-malu dan setengah sadar). Batang kontolnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut-rambut keriting yang lebat. Kulitnya kelihatan tebal, lalu ada urat besar disekeliling batangnya dan terlihat seperti kabel-kabel di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kenyal, penuh, dan mengkilat.
Kemudian dia menyodorkan kontolnya tersebut ke hadapan wajahku.
Aku melirik ke arah suamiku, yang ternyata tambah asyik menikmati adegan ini sambil tersenyum puas dan mengelus-elus kontolnya, karena melihat aku kelihatan bernafsu menghadapi kontol yang sebesar itu. Aku sebenarnya sudah amat terangsang, tetapi untuk menunjukkan pada Edo, aku agak tidak enak hati.
Tapi entah kenapa, tanpa kusadari tiba-tiba aku telah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam kontol itu yang terasa hangat dalam telapak tanganku. Kugenggam erat-erat, terasa ada kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku hampir penuh menggapai lingkaran batang kontolnya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan pernah memegang kontol sebesar ini, dari seorang laki-laki lain secara sadar dan penuh nafsu dihadapan suamiku.
Kembali aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati adegan ini, malah kali ini bukan hanya mengelus-elus, tetapi malah sambil mengocok kontolnya sendiri, yaitu adegan istrinya yang penuh nafsu birahi sedang digauli oleh laki-laki lain, yang juga merupakan idolaku dulu.
Tiba-tiba muncul nafsu hebat terhadap idolaku itu, sehingga dengan demonstratif kudekatkan mulutku ke kontol Edo, kujilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan kuhisap-hisap dengan nafsu birahi yang membara. Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati kontol itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku.
Kuluman dan hisapanku itu membuat kontol Edo yang memang telah berukuran besar itu menjadi bertambah besar, bertambah keras dan kepala kontolnya jadi tambah mengkilat merah keungu-unguan.. Dalam keadaan sangat bernafsu, kontol Edo yang sedang mengaceng keras dalam mulutku itu mengeluarkan semacam aroma yang khas yang aku namakan aroma lelaki.
Aroma itu menyebabkan gairah birahiku semakin memuncak dan lubang tempikku mulai terasa berdenyut-denyut hebat hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap kontol itu seperti hisapan sebuah vacuum cleaner.
Kuluman dan hisapanku yang amat bernafsu itu rupanya membuat Edo tidak tahan lagi. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas tempat tidur.
Aku pun kini semakin nekat dan semakin bernafsu untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar.
”Do…” kataku pelan dan aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa.
Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya diantara pahaku, Edo berbisik, ”Ssttt…………!” bisiknya sambil kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak. Itu berarti bahwa sebentar lagi kontolnya akan bercumbu dengan tempikku. Benar saja, aku merasakan ujung kontolnya yang hangat menempel tepat di permukaan tempikku. Tidak langsung dimasukkan di lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, ini membuat tempikku tambah berdenyut-denyut dan terasa sangat nikmat.

Dan makin lama aku makin merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan di tempikku itu.
Beberapa saat Edo melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih pinggangnya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya.

Aku benar-benar menanti puncak permainan ini. Edo menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kontolnya tepat di antara bibir tempikku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang tempikku. Aku benar-benar menanti tusukannya.
”Oocchh.. Ddoo, please..” pintaku memelas.
Sebagai wanita di puncak birahi, aku betul-betul merasa tidak sabar dalam kondisi seperti itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Edo dan kontolnya yang besar dan panjang. Ada rasa deg-deg plas, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos kontol yang lebih besar dan lebih panjang.
”Ooouugghhh……” batinku yang merasa tak sabar benar untuk menunggunya.
Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka bibir-bibir tempikku. Dan lebih dahsyat lagi aku merasakan ujung kontol Edo mulai mendesak di tengah-tengah lubang tempikku..
Aku mulai gemetar hebat, karena tidak mengira akan senikmat ini aku akan merasakan kenikmatan bersetubuh. Apalagi dengan orang yang menjadi idolaku, yang sangat kukagumi sejak dulu.
Perlahan-lahan Edo mulai memasukkan kontolnya ke dalam tempikku.
Aku berusaha membantu dengan membuka bibir tempikku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit kontol sebesar itu masuk ke dalam lubang tempikku yang kecil.
Tangan Edo yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang kontolnya yang diarahkan masuk ke dalam lubang tempikku.
Pada saat Edo mulai menekan kontolnya, aku mulai mendesis-desis, ”Sssshhhhh…… Eddooo…… ppelan-ppelan Ddooo… ssshhhh…… desisku gemetar. Edo lalu menghentikan aktivitasnya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Edo melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan kontolnya.

Setelah itu kontol Edo mulai terasa mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam lubang tempikku. Seluruh tubuhku benar-benar merinding ketika merasakan kepala kontolnya mulai terasa menusuk mantap di dalam lubang tempikku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batang kontol itu setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Edo sambil membuka pahaku lebih lebar lagi.
Kini aku mulai merasakan tempikku terasa penuh terisi dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya kontol itu masuk ke dalam lubang tempikku.
Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Edo ketika hampir seluruh kontolnya itu amblas masuk.
Aku sendiri tidak mengira kontol sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk kedalam lubang tempikku yang kecil. Walaupun belum seluruh kontol Edo masuk ke dalam tempikku, rasanya seperti ada yang mengganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak aneh. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menikmati rasa yang nyaman dan nikmat.
Ketika hampir seluruh batang kontol Edo telah amblas masuk ke dalam lubang tempikku, tanpa sengaja aku terkejang sehingga berakibat bagian dinding dalam tempikku seperti meremas batang kontol Edo. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan kontol Edo seperti berkerojot di dalam lubang tempikku akibat remasan tersebut.

Aku terlonjak bukan karena kontol itu merupakan kontol dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain kontol suamiku dan Ki Alugoro, akan tetapi karena aku merasakan kontol Edo memang terasa lebih istimewa dibandingkan kontol suamiku maupun kontol Ki Alugoro, baik dalam ukuran maupun ketegangannya.
Selama hidupku memang aku belum pernah melakukan persetubuhan dengan laki-laki lain selain dengan suamiku dan Ki Alugoro dan keadaan ini memberikan pengalaman baru bagiku. Aku tidak menyangka ukuran kontol seorang laki-laki berpengaruh besar sekali terhadap kenikmatan bersetubuh seorang wanita.
Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Edo erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Edo. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Edo menarik kontolnya dari tempikku. Tapi dan belum sampai tiga perempat kontolnya berada di luar tempikku, tiba-tiba dia menghujamkannya lagi dengan kuat.
Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkan kepadaku secara tiba-tiba itu.
Begitulah beberapa kali Edo melakukan hujaman-hujaman ke dalam lubang tempikku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat sangat ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang tempikku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat kontol Edo yang seperti kabel-kabel yang menjalar-jalar itu.

Biasanya suamiku kalau bersetubuh semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Edo melakukan gerakan yang konstan seperti mengikuti alunan irama musik evergreen yang sengaja aku setel sebelumnya.
Tapi anehnya, justru aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kontolnya dengan rytme seperti itu.
Tahap ini sepertinya sebuah tahap untuk melakukan start menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan tempikku baik bagian luar maupun dalam berdenyut-denyut hebat seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.
Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kulihat suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Edo.
Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali rasa puas di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Edo sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah BF.

Keadaan ini tiba-tiba menimbulkan suatu kepuasan lain dalam diriku. Bukan saja disebabkan oleh kenikmatan persetubuhan yang sedang kualami bersama Edo, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain karena aku telah dapat melaksanakan angan-angan suamiku. Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini akan kulaksanakan sepuas-puasnya.
Tiba tiba Edo semakin mempercepat hunjaman-hunjaman kontolnya ke dalam lubang tempikku.
Tentu saja ini membuat aku semakin bernafsu sampai-sampai mataku terbeliak-beliak dan mulutku agak terbuka sambil kedua tanganku merangkul pinggulnya kuat-kuat. Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau kontol Edo yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang tempikku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman kontol dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir tempikku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya kontol Edo. .
”Ooukkhhss.. sshhh.. Ddoo ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Ddoo… mmmmhhhh…!” rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat ditempikku. .
”Hhhmmh.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..” Edo mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya.
Gejolak birahi Edo ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan kontolnya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang kontol Edo terus menyusupi lubang tempikku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya.
”Aarrggccchhhhhh…!!” aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona.
Mataku memandang Edo dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya.
Edo kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Edo tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang kontolnya yang besar itu, sehingga dinding tempikku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin.
Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun tempikku disetubuhi oleh Edo, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku, ”Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii… kkontolmu Ddoo…!! Oougghh.. terusshh…. teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri.

Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.
Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyedot, saling bergumul.
Edo mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya, pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang kontol Edo masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga tempikku, akibatnya Edopun semakin mudah menyodokkan kontolnya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal kontolnya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot… crot… seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya kontol itu di dalam tempikku
Edo melihat ke arah selangkanganku, tempikku mencengkeram kontolnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan tempikku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang kontolnya yang semakin tambah mengeras.
Edo mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Edo terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Edo langsung menyedot pentil susuku yang begitu menantang itu.
Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya.
Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Edo yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka.
Edo begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini.
”Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh… tteerruss Ddooo…” aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Edo, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.
Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar tempikku.
Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Edo erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar.
”Aaaaccchhh…… Dddooo… mmmmmhhhhhh… konnttolmmmuuu… aakkkuu…… kkeeelluuaaarrrr……” jeritku keenakan.
Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme.
kontol Edo masih terus menggenjot lubang tempikku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Edo menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan.
Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Edo yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan……
”Aaacchhh….. oooccchhh… Mmiiaaa… teemmpiikkmmuuu…… nniikkkmaattttt… sseekkalliiii… adduuhhh…… aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr…” erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam tempikku
Kemudian untuk beberapa saat Edo masih membiarkan kontolnya menancap di dalam tempikku.
Akupun tidak mencoba untuk melepas kontol itu dari tempikku.
Setelah agak beberapa lama, Edo mengeluarkan kontolnya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang tempikku. Walaupun kontolnya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Edo menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat.
Suamiku dengan segera menggantikan Edo dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan kontolnya yang kecil itu ke dalam lubang tempikku.
Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Edo, maka ketika suamiku menghunjamkan kontolnya ke dalam lubang tempikku, kurasakan kontol suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot lubang tempikku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit kontol suamiku sebagaimana ketika kontol Edo yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang tempikku.

kontol suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang tempikku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang tempikku yang barusan diterobos oleh kontol yang begitu besar dan panjang.
Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan kontolnya ke dalam lubang tempikku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena kontol suamiku tidak berada dalam lubang tempikku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang tempikku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan tempik sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku.
Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan kontol Edo yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Edo. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali.
Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku.
Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Edo yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng kontolnya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Edo menusukkan kontolnya ke dalam tempikku dari belakang dengan garangnya.
Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja tempikku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan.
Hal ini membuat Edo semakin bernafsu menghujam-hujamkan kontolnya ke dalam tempikku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini.
Tak berapa lama tubuhku mengejang dan…
”Dddooo…… oooccchhhh… aacchhh… Ddooo… akk… aakkuu… mmaaauu… kkkeelluuuaaaarrrrrr……” rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu.
Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Edo menarik kontolnya dari lubang tempikku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang tempikku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami.
Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Edo yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku.
Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Edo ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Kemudian Edo melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyedot-nyedot pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.
Kali ini rupanya Edo ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Edo membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya.
Selanjutnya dengan spontan kuraih kontol Edo dan memandunya ke arah lubang tempikku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Edo dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, ”Occhhh… oocchhh… acchhh… sssshhhh…” desahku dibuai kenikmatan.
Sementara itu Edo dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, ”Oocchhh… oocchhh… Mmiiaaaa… ttteeemmpppiikkmuuu… mmmhhhhh…”
Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Edo dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.
Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat.
”Ooooccchhhhh…… mmmmhhhhhh… ooocccchhhh…… mmmmhhhhhh……” pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Edo.
Tapi ternyata Edo belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang tempikku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Edo mengacungkan kontolnya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang tempikku dan menghunjamkan kembali kontolnya tersebut ke lubang tempikku dengan garang.
Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika kontol Edo mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang tempikku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya kontol Edo yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan kontol besarnya ke lubang tempikku.
Aku merasakan betapa lubang tempikku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap kontol Edo yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.
Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena kontol Edo yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam tempikku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita)
Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Edo tiba juga pada puncaknya.
”Mmmiiiaaaa… ooocchhh…………… ooocccchhhhhh… Mmmiiiiaaaaaaaa…………………… ttteeemmmppikkkmmmuuu… ooccchhhsss… aakkkuu… kkkellluuaaarrrrrr……” rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam tempikku dalam waktu yang amat panjang.
Sementara itu kontolnya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang tempikku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam tempikku sampai titik penghabisan.
Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, kontol Edo masih tetap terbenam dalam tempikku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.
Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Edo mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan.
Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya.
Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali.
Kulihat kontol Edo mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Edo segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan kontolnya ke dalam tempikku kembali.

Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.
Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Edo sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam tempikku yang kalau tersentuh kontolnya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat.
Edopun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan kontolnya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh!
Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.
Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Edo. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Edo. Kuakui malam itu Edo memang hebat.

Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Alugoropun tidak sehebat ini, karena dengan Edo aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Alugoro cuma sekali. Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Edo masih tetap saja kelihatan bugar. kontolnya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang tempikku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun kontol Edo masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum.

Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.
Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Edo tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Edo berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi.
Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri.
Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Edo semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Edo sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku.

Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii.
”Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!” anganku saat itu.
Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh!
Sampai di suatu hari, Edo membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama.
Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh.
”Wuih, pasti lebih seru nih” pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di tempikku, apalagi sambil melihat juga Edo bersetubuh dengan cewek lain.
”Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami” pikirku lagi.
Aku malah menambahkan usul kepada Edo, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Alugoro maupun dengan Edo, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya.
Soalnya kontol suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu.
Ketika hal itu aku katakan pada Edo, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan?
Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut.
Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya.

Ibu Astrid Guru Yang Keenakan







Serbubet Ya masa masa di putih abu abu tak pernah dilupakan apalagi soal asmara selama disekolah aku pernah berpacaran selama 4 kali, dimana waktu kelas 1 aku bisa mendapatkan cewek yang cantik dan banyak digandrungi oleh pria lain kerena kepopuleran dia waktu disekolah, tak berapaa lama kami putus kemudian aku mendapatkan pacar baru lagi sebaliknya dia manis dengan warna kulit sawo matang tapi juga tak bertahan lama hanya 1 tahun kita pacaran.

Untuk pacar selanjutnya kami sudah kenal lebih dulu dan akrab bisa dibilang kita sahabat tapi mungkin karena ada rasa diantara kita, ya kita sepakat untuk menjalin hubungan, suatu ketika saat boring di depan tv aku putuskan untuk keluar di teras rumah , karena orang tuaku juga tidak ada dirumah aku keluar bentar di warung untuk membeli rokok.

Sesampainya ke warung yang aku tuju rupanya malah tutup, awan sudah terlihat mendung petang aku berfikir untuk pulang atau mencari rokok di toko sebelahnya yang jaraknya tidak jauh juga, ya aku putuskan untuk jalan lagi dan akhirnya mendapatkan rokok di warung tersebut, hujan germis sudah turun, saat aku ingin pulang aku melihat orang yang aku kenal.

“Eh ibu Astrid dari mana , aku sapa dia dengan senyum dan dia juga menyapaku”

“lho kamu disini lex, ngapain habis beli rokok ya”

“Ibu kok tau, hehe”

“lha iya Ibu juga sedah memandangi kamu dari kejauhan dari sana, boleh merokok tapi jangan kebanyakan ya Lex, kalau sehari 1-2 batang gak papa, jaga kesehatanmu”

“hehehe iya bu, aku dengan senyum dan menggaruk garuk kepalaku, oiya Ibu Astrid guru privat adekku yang masih bersekolah SD, biasanya Ibu Astrid kalau datang seminggu 2 kali harinya juga tidak menentu, kadang rabu dan jumat, atau selasa dan kamis. Ibu Astrid sering member les pada adekku sudah 4 bulan.

“lha ibu astrid mau kemana nih, mau kerumahku kan, keburu hujan bareng aja bu”

Dari dulu aku sudah terpesona dengan kecantikan ibu Astrid, murah senyum , baik hati, kadang aku juga sering mengintip ibu Astrid sedang memberi pelajaran kepada adekku, lama kelamaan aku jatuh hati kepada ibu Astrid jangan pada kaget ya kalau Ibu Astrid adalah pacar selanjutnya setelah aku putus dari pacar ketigaku, tapi awalnya aku takut mengungkapkan rasa cintaku pada dia.

Terang saja umur aku dan Ibu Astrid cukup jauh dia usianya yang 27 tahun sedangkan aku 18 tahun, tapi aku sangat cinta kepada dia, hujan dikala itu sudah membasahi kami saat pulang kerumah, sampainya di rumah aku tawarkan untuk kuambilkan handuk.

Saat mengasihkan handuk aku baru sadar kalau ibu Astrid semakin cantik dengan rambut yang basah dan nampak tubuhnya yang seksi serta gundukan payudaranya juga membekas di pakaiannya, aku langsung berpikiran yang tidak tidak, aku buatkan minuman tehh hangat sebelum dia mengelesi adekku.

Pukul berapa ibu mau member pelajarannya ke pada adekku, “
“masih satu jam lagi kok”
“ya sudah nikmati dulu teh yang aku buatkan ini untuk menghangatkan tubuh yang kena hujan tadi”
“kami asyik mengobrol, sampai tak sadar kalau minumannya habis, aku tuangkan lagi kedalam gelas”

Sebelumnya sewaktu aku membuat minuman teh hangat tersebut sempat ada pikiran ngeres yang datang, aku membayangkan jika bu Astrid telanjang karena pakaiannya basah dan itu membuat aku semakin memunculkan hasratku.

“terimakasih lex malah kamu jadi repot begini kedatangan ibu yang basah karena hujan tadi”

“ah gak masalah bu, tenang saja, sudah biasa kok aku sering membuat minuman jika ada tamu bapak atau ibuku”

“aku yang posisinya di samping ibu Astrid sempat bingung kenapa kamu berdiri lex”

Aku langsung merangkul tubuh bu Astrid itu dan gak tau kenapa aku senekad itu bisa langsung memeluk tubuhnya , ibu Astrid berusaha untuk melepaskan dekapanku, tapi aku dengan kuat masih menahan dan aku dorong.

Kamu kenapa lex, Ibu astrid juga mendorong aku untuk melepaskan pelukanku, tapi pelukanku semakin kuat.

Aku berbisik pelan, “Aku mencintaimu, Bu!” dan kulihat Bu Astrid semakin terkejut. Ia diam terpaku untuk sesaat. Aku memanfaatkan waktu sesaat itu untuk merenggut lepas kancing-kancing kemejanya.

“Aku menginginkanmu, Bu!”

Kulihat payudara Bu Astrid yang bulat berisi di balik bra putihnya. Bu Astrid hanya memandangku seakan tak percaya apa yang baru saja terjadi. Ia sudah tak lagi meronta, sepertinya sudah pasrah akan apa yang akan terjadi.

Pelan-pelan kuturunkan roknya, lalu kulepaskan bra putih itu. Di depanku kini tampak jelas payudara Bu Astrid yang sungguh indah, pinggang ramping, pinggul seksi, dan kaki-kaki jenjangnya. Tubuh Bu Astrid kini hanya tertutupi oleh celana dalam putih.

Tanpa menunggu aku mulai mencumbui tubuh seksi Bu Astrid. Mula-mula dari payudaranya. Kumainkan lidahku, kuciumi dengan penuh nafsu, sesekali lidahku memainkan putingnya yang menantang. Kurasakan tubuh Bu Astrid tergetar pelan, dan ia mulai mendesah pelan.

Kulanjutkan cumbuanku turun ke arah perut, dan semaki ke bawah. Kulepaskan penutup terakhir tubuhnya. Saat itu kudengar suara Bu Astrid memohon pelan.

“Ja.. Jangan, Lex!”

Tapi aku tak peduli, aku mulai mencumbu sela-sela paha itu. Harumnya liang kewanitaan Bu Astrid membuatku semakin bergairah. Kepalaku kusisipkan di antara kedua paha Bu Astrid, dan mulai mencumbu liang kewanitaan yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

Kumainkan lidahku di sana, kadang bibirku memainkan klitorisnya hingga tubuh Bu Astrid bergetar, dan desahan-desahan pelan terdengar dari bibir Bu Astrid saat jariku menyusup ke dalam vaginanya.

“Mmmh, ya!Oh.. Ya, enak.. Oh.. Oh!”

Lidah nakalku terus menari-nari di sana, menyalurkan kenikmatan yang mulai membius kesadaran Bu Astrid. Sekarang Bu Astrid mulai hanyut dalam permainan cumbuanku, desahan dan erangannya mengimbangi tarian lidahku pada klitorisnya. Kedua pahanya menjepit kepalaku.

“Yaa.. Ya!Oh.. Oh, ya sayang.. Teruskan.. Oh.. Oh!”

Tak lama kemudian kurasakan getaran hebat tubuh Bu Astrid. Erangannya pun terdengar semakin keras,

“AH.. Ya, ya.. Oh sayang.. Aku.. Aku keluar.. Oh ya.. Ooohh!” Bu Astrid menggelinjang hibat dan liang kewanitaannya mulai dibanjiri cairan vaginanya, membuat vagina Bu Astrid semakin becek. Aku menyapukan lidahku, menjilati cairan itu.

Aku melihat wajah cantik Bu Astrid, kini bersemu merah, matanya terpejam, nafasnya terengah-engah, bibirnya mengeluarkan desahan-desahan pelan. Keringat membasahi tubuhnya. Bu Astrid membuka matanya, lalu memandangaku.

Masih belum hilang rasa ingin tahu dalam pandangan itu, seakan bertanya ‘Mengapa kamu melakukan ini pada ibu?’ tetapi bibirnya tetap terkatup.

Kusambut bibir Bu Astrid dengan bibirku. Selama beberapa saat kami berpagutan. Dan kurasakan Bu Astrid mulai membalas ciumanku.

Aku mulai melepaskan semua pakaianku. Kini kami berdua sudah tak mengenakan apa-apa lagi. Senjataku sudah tegang sejak tadi, seperti sebuah rudal yang siap ditembakkan. Ukurannya memang tidak seperti milik bintang film porno yang sering kulihat, tapi cukup besar juga. Bu Astrid memandangku dengan tatapan ragu bercampur takut.

“Maaf, Bu!” kataku pelan.

Kutuntun penisku ke lubang vagina Bu Astrid. Kurasakan Bu Astrid sedikit menolak saat kepala penisku menyentuh klitorisnya.

“Ja.. Jangan, Lex! Ja.. Jangan dimasukkan, nan.. Nanti..”

“Ibu nggak usah khawatir, Lex tanggung jawab,” kataku, “Lex mencintai Ibu!”

“Ta.. Tapi Lex..”

Belum selesai Bu Astrid bicara, aku sudah menusukkan senjataku hingga masuk setengahnya.

“Ah.. Lex!” Bu Astrid mulai meronta.

“Tenang Bu!” kupegangi kedua tangannya.

Kurasakan lubang vagina Bu Astrid yang masih sempit itu menjepit penisku dan meremas-remasnya.

Aku bertanya-tanya, apa Bu Astrid masih perawan. Kudorong penisku hingga menyusup lebih jauh. Bu Astrid merintih,

“Sa.. Sakit Lex..”

“Iya.. Iya Bu! Lex pelan-pelan masukinnya.”

Mungkin Bu Astrid memang masih perawan, pikirku. Kulihat titik-titik air mata mulai basahi matanya, dan ada sebagian yang jatuh ke pipinya.

“Lex.. Hentikan! Ja.. Jangan diteruskan!” desah Bu Astrid.

Kepalang tanggung, pikirku. Dan kulesakkan penisku hingga masuk seluruhnya, sampai-sampai Bu Astrid menjerit.

“Ah.. Lex, sakit Lex!”

“Tak apa-apa, Bu. Cuman sebentar sakitnya.”

Kudiamkan penisku di dalam vagina Bu Astrid selama beberapa saat, kurasakan pijatan lembut dinding vagina pada penisku. Terasa nikmat sekali. Lalu aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, mengocokkan penisku di dalam vagina Bu Astrid. Bu Astrid mengerang, pada awalnya tedengar rintihan kesakitan, namun lambat laun berganti desahan kenikmatan.

“Ya.. Ya, Oh ya sayang!”

Peluh membanjiri tubuh Bu Astrid, matanya terpejam seakan-akan menjemput kenikmatan yang datang bertubi-tubi. Desahannya mengiringi gerakan pinggulku.

“Oh, ya.. Oh.. Ouh. Terus sayang! Enak, ja.. Jangan berhenti, oh..”

Aku terus memompa penisku keluar masuk, menggesek dinding vagina yang basah itu. Kulihat tangan Bu Astrid meremas-remas payudaranya sendiri. Kenikmatan sudah menjalari seluruh tubuhnya. Desahan dan erangan terus menggema di ruangan itu, berbaur dengan deru suara hujan di luar.

Tak lama kemudian kulihat Bu Astrid menggelinjang hebat, dan dari bibirnya terdengar erangan panjang menandakan ia telah mencapai klimaks. Kurasakan cairan hangat basahi penisku di dalam vaginanya.

“Oh, oh.. Ya.. Ooohh, sayang! Aku keluar, oh.. Oh..!”

Dan tanpa sadar tangannya meraihku dan memelukku erat sambil terus mengerang merasakan kenikmatan puncak yang menguasai tubuhnya.

“Oh.. Oh, ya ough!”

Nafasnya tersengal-sengal.

“Ya, nikmat sekali, oh..!”

Akupun merasa sudah hampir mencapai klimaks, maka kupercepat gerakan pinggulku. Dan sepertinya gerakanku memacu kembali gairah Bu Luna. Kurasakan pinggul seksi Bu Astrid mengimbangi gerakan pinggulku.

“Oh.. Ya.. Oh, lagi sayang.. Oh!” desah Bu Astrid,”Lebih cepat lagi.. Oh.. Oh!!”

Dan tak lama kemudian kurasakan penisku berdenyut-denyut.

“A.. Aku hampir keluar Bu!” kataku,”Keluarin di mana?”
“Oh.. Keluarin saja.. Di dalam.. Nggak apa-apa..”

Dan seketika itu juga aku mencapai puncak, penisku memuntahkan banyak cairan mani ke dalam vagina Bu Astrid, memenuhi rongga kewanitaannya.

“Ough.. Bu! Aku keluar, Bu! Oh nikmat sekali, oh..!”

Bu Astrid menggelinjang lagi, ia mencapai klimaks lagi sesaat setelah aku orgasme.

“Ya.. Oh, ya sayang.. Aku juga keluar.. Oh.. Oh..”

Tubuh kami bersimbah pelu, aku merasakan sangat lelah. Tubuhku kurebahkan di sofa di samping tubuh Bu Astrid. Nafas kami tersengal-sengal. Kulihat wajah Bu Astrid yang bersemu merah tampak cantik, ia tersenyum.

“Kau.. Kau nakal Lex!” katanya pelan,”Tapi aku senang.”

“I.. Ibu tidak marah?”

Bu Astrid mencium bibirku. “Aku memang marah pada mulanya, tapi-sudahlah-semuanya sudah terjadi,” katanya, “Kau hebat!”

Hujan masih turun dengan derasnya. Adikku menelpon, katanya ia belum bisa pulang karena hujan belum reda. Dan aku menghabiskan sore itu berdua bersama Bu Astrid. Kami masih sempat bermain cinta sekali lagi sebelum kedua orangtua dan adikku pulang.

Setelah hubunganku dengan bu Astrid semakin dekat, dia semakin akrab bila ibu Astrid dirumah sendiri kadang aku diminta untuk datang kesana dan sebaliknya jika rumahku sepi ibu Astrid berkenan untuk datang kerumahku, kisah cintaku dengan ibu Astrid hanya bertahan 7 bulan karena habis lulus aku meneruskan di PTS luar kota. Demikian sedikit ceritaku dengan guru les privat adekku.

Emily : Elegi Yang Tak Terlupakan

Tags





Serbubet “Mulai sekarang kamu tak usah menemuiku lagi. Kita putus..!”

Seuntai kalimat meluncur cepat menikam jantungku menghentikan sejenak udara yang mengalir disaluran pernafasanku. Kalimat itu keluar dari bibir seorang gadis cantik yang telah kupacari selama hampir 3 tahun.

Gadis bertubuh semampai dan seksi, dengan rambut panjang sering dibiarkan tergerai itu, sedang memandang tajam padaku dengan wajah dingin dan sorot mata yang mengandung kebencian. Gadis itu berdiri tepat didepanku sambil mengacungkan telunjuknya ke wajahku.

“Ada apa denganmu, Emily ?” Aku mencoba tenang dan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Dia masih melototiku. Masih saja memandangku dengan tangan terkepal.

“Tak ada alasan apapun yang perlu kau dengar, Jay“ Ucapnya dingin.

“Setidaknya aku mesti tahu, kenapa kau memutuskan aku begitu saja“ Aku masih saja mencoba mengorek alasannya, meskipun aku tahu tak akan ada jawaban yang kelak keluar dari bibirnya.

Emily memalingkan wajahnya. Seakan tak ingin memandangku sama sekali. Bahkan jariku yang mencoba meraih tangannya ditepiskannya dengan kasar.

“Aku tak ingin berdebat denganmu tentang ini, Jay. Aku sudah bosan dengan hubungan kita. Aku tak bisa melanjutkannya lagi. Itu saja…!“

Dingin…, sangat dingin tatapan mata itu. Sinarnya memancar menyusup lewat mataku yang sedang balas menatapnya, sorot mata itu seakan menusuk tajam dan mengoyak-ngoyak hatiku yang tak pernah lekang mencintainya.

“Dan aku minta mulai sekarang kau tak usah menemuiku…”

Clebbbbbbb

Sakit rasanya. Terasa lebih sakit dari jatuh pada ketinggian 20 kaki saat menolong Emily yang terjebak tebing tinggi dan tak bisa turun saat kami melakukan pendakian minggu lalu. Terasa lebih sakit saat mengalami patah lengan waktu tabrakan dengan sepeda motor ketika hendak menjemputnya yang terjebak hujan deras di halte menunggu jemputan yang tak kunjung tiba sebulan yang lalu. Terasa lebih sakit ketika saat harus menjadi bulan-bulanan preman yang mencoba mengganggunya dua bulan yang lalu. Terasa lebih sakit dari semuanya….

“Aku mohon, Emily. Jangan mengambil keputusan sepihak seperti itu. Jangan lupakan apa yang telah kita lalui bersama, Emily…” Ucapku mencoba memohon.

Saat itu aku sangat berharap Emily akan tersenyum manis kepadaku dan berkata ‘ini hanya candaanku, Jay’. Ya, aku berharap dia mengatakan itu…

“Kisah tentang kita telah berakhir, Jay“ Emily tersenyum sinis. “Dan itu adalah kenangan terburuk dalam hidupku…”

Aku tercekat. Mataku nanar memandangnya. Semua harapanku untuk tetap bersamanya dihempaskannya begitu saja.

“Selamat tinggal, Jay“ Ucapnya datar dan kemudian berlalu dari hadapanku, lalu masuk ke dalam mobil New Kia Picanto berwarna Merah Muda miliknya dengan satu hempasan kuat pada pintu mobilnya.

“Tidak! Aku tak bisa menerima keputusanmu Emily. Aku terlalu mencintaimu…” Jeritku tak peduli dia mendengarnya atau tidak.
Aku masih berdiri terpaku, saat Emily pergi meninggalkanku sendirian di parkiran kampus. Laju mobilnya yang semakin menjauh seakan ikut menyeret separuh hidupku bersamanya. Tak bisa kumengerti keputusan sepihak yang diambilnya.

Sungguh rasanya aku tak ingin mempercayai semua ini. Emily yang sekarang telah berubah 180 derajat. Dia bukan lagi Emily yang ku kenal. Lenyap segala hal indah dan nyaman pada dirinya. Emily yang ku kenal adalah seorang gadis lembut, manja, dan selalu memberi senyum manis untukku, rela mengurai airmata kala aku bersedih, dia selalu ada untukku dengan hati penuh cinta.

Emily yang sekarang benar-benar telah berubah. Entah karena apa.

“Cari non Emily, Den?” Tanya Bi Inah sopan saat aku datang malam itu ke rumah Emily.

“Iya, Bi. Orangnya ada, Bi?“

“Bibi tak melihat pasti Den. Tapi tadi bibi dengar suara Non Emily kayak lagi ngobrol sama seseorang didalam kamarnya…”

Ngobrol dengan seseorang dikamarnya? Dengan siapa Emily dalam kamarnya? Tak biasanya dia mengajak temannya masuk kamarnya. Selama ini tak ada satupun yang boleh masuk ke kamar itu kecuali aku.

Segera aku melangkah masuk. Bibi pembantu yang sedang berdiri menghalangi jalan masuk aku dorong dengan pelan, membuat bibi menjerit kecil saat tanpa sadar tanganku menyentuh gundukan payudaranya. Aku cuek saja, terus melangkah dan menaiki tangga menuju ke lantai atas tempat kamar Emily berada. Tak ada suara apapun kudengar dari dalam kamar. Kutempelkan telingaku ke pintu kamarnya. Hening.

“Emily? Buka pintunya. Ini aku, Jay. Kumohon buka pintunya. Kita harus bicara, Emily“ Tak sabar aku langsung mengetuk pintunya dan mengucapkan kalimat permintaan itu padanya.

Suara langkah kaki terdengar pelan. Lalu gerakan berputar pada hendel pintu, dan seraut wajah cantik yang selalu kurindu muncul dari balik pintu kamar itu.

“Heh??? Kamu??? mau apa kesini?” Suara tak sedap terdengar dari mulut Emily. Wajahnya masam dengan ekspresi yang tak ingin diganggu.

“Kita mesti bicara, Emily.”

“Bicara soal apa..? Apa kamu tak dengar apa yang aku katakan di kampus tadi? Oh, baiklah. Aku akan ulangi. Buka lebar-lebar kuping budekmu itu. Kita Putus. Titik!“ Dan Brakkkk !. Pintu kamar dibantingnya dengan keras.

Aku berdiri terpaku memandang pintu kamar yang hampir saja jebol karena dibanting Emily. Ada apa denganmu Emily? Mengapa kau berubah drastis tanpa alasan yang jelas?
Aku masih tetap berdiri memandang pintu kamar itu ketika pintu kamar itu terbuka lagi, Emily muncul dari balik pintu. Hatiku agak sedikit terhibur dan seberkas harapan muncul disana. Siapa tahu Emily berubah pikiran, memohon maaf atas perlakuannya barusan, lalu kami…

“Sekali lagi kamu menemuiku dan menggangguku…, maka jangan salahkan aku jika berlaku kasar sama kamu! Ingat! Sekali lagi kamu ingat baik-baik, Bodoh! Jangan ganggu aku lagi!” Untuk kedua kalinya pintu kamar itu dibanting, mengeluarkan bunyi benturan keras.

Aku tercenung. Semua sudah terjawab kini. Hati Emily sudah benar-benar terkunci untukku, seperti pintu kamarnya yang telah dikuncinya rapat-rapat.

“Baiklah Emily“ Ucapku setengah berteriak agar dia bisa mendengarnya meski pintu kamarnya tertutup rapat. “Aku merasa tak pernah sekalipun menyakitimu. Aku merasa tak berbuat salah padamu, kecuali atas pradugamu padaku yang tak pernah kau jelaskan padaku. Aku akan pergi, dan tak akan menemuimu lagi. Semua kenangan indah yang pernah kita lalui akan kuhapus dan kutinggalkan didepan pintu kamarmu ini“

Setelah mengucapkan serentetan kalimat itu aku melangkah gontai keluar dari rumah Emily. Rumah yang mungkin tak akan pernah ku injak lagi selamanya.

Ku starter sepeda motorku. Sejenak pandanganku ku arahkan ke kamar Emily, lampunya masih menyala. Namun harapan terakhirku melihat Emily menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan melambaikan tangannya mengucapkan ‘Selamat Jalan Jay’, ternyata itu hanyalah keinginan semu semata.

“Selamat tinggal Emily…” Bisikku pelan diiringi luruhan air mataku membasahi pipi.

Sebuah mobil Honda Jazz warna hitam kulihat diparkir didepan rumah Emily saat malam itu aku melintas lewat di depan rumahnya. Tak tahu itu mobil siapa, yang pasti bukan milik Emily juga bukan milik Papanya.
Mungkinkah ada seseorang yang datang menemui Emily?. Tak mungkin ini tamu Papa Emily, karena aku tahu pasti dari cerita Emily bahwa Papa dan Mamanya sedang berada diluar negeri untuk waktu sebulan.
Ataukah ini mobil pacar baru Emily? Emily punya pacar sekarang?, dan pacarnya itu sedang menemuinya sekarang? Beribu pertanyaan dan praduga berkutat dalam otakku.

Ada perasaan geram dalam hatiku. Inikah penyebab Emily memutuskan aku? Jadi alasannya selama ini sebenarnya bukan seperti apa yang diucapkannya, tetapi alasannya yang sebenarnya adalah karena dia sudah mempunyai seorang pacar yang tajir?
Brengsek ! inikah bukti ikrar yang diucapkannya kala kami masih bersama, tak akan terpisahkan oleh godaan apapun dan tak akan lekang oleh hujaman sengsara sebesar apapun?

Dengan mengendap aku melihat ke dalam rumah melalui jendela. Tak kelihatan siapapun. Lampu dalam rumah temaram. Gagal melihat lewat jendela, aku menuju ke pintu rumah. Aneh. Pintunya tak dikunci. Ada perasaan was-was dalam hatiku. Dengan pelan ku buka pintu dan kupertajam pandanganku ke dalam rumah. Tak ada siapapun.
Segera kuloloskan tubuhku masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu. Ku berjalan berjinjit agar tak menimbulkan suara. Sepi. Dimana Emily dan pemilik mobil itu? Jangan-jangan mereka…

Aku melangkah menuju ke arah tangga lalu naik dengan mengendap-ngendap menuju ke arah kamar Emily. Bersyukur Emily teledor kali ini dengan tidak mengunci pintu rumah.
Dengan tetap mengendap-ngendap aku mendekati pintu kamar Emily. Dadaku mulai berdegub kencang. Samar-samar kudengar suara erangan nikmat… Eh bukan…! Itu erangan kesakitan…!
Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi pada Emily? Aku makin berdebar.
Kali ini Emily teledor lagi. Pintu kamarnya tak ditutup dengan sempurna. Dengan sangat pelan aku mendorong pintu kamar lalu mencoba mengintip dari celah yang sedikit terbuka. Suara itu semakin jelas terdengar, suara erangan kesakitan…!

Tubuhku terasa limbung, dadaku terasa panas, saat kulihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Emily sedang terlentang bugil dengan tangan terikat menyatu dengan kepala ranjangnya. Seorang pria yang juga bugil sedang melecutkan cambuk kecil ke tubuhnya. Suara jerit tertahan keluar dari mulut Emily saat cambuk itu mengenai kulit mulusnya. Hampir saja aku menerjang masuk dan menghajar pria itu, namun rasa penasaran dalam hatiku mencegah tindakanku. Aku ingin mengetahui lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Satu hal yang membuat aku semakin gemetar menahan rasa marah dan gugup adalah Blazer itu…, Blazer yang tergeletak begitu saja dilantai kamar…! Blazer berwarna cokelat yang kulihat dipakai oleh wanita yang menari bugil ditengah taman semalam, juga tank top itu, rok itu, semuanya adalah yang dikenakan wanita penari bugil semalam.
Artinya? wanita semalam itu adalah Emily…! Ya Emily! Dan mereka pasti melakukan ini sejak semalam hingga sekarang…! Atau setidaknya Emily tidak mengganti bajunya sejak semalam…, apa iya?

huh…….

Nampak pria itu menghentikan pecutan cambuknya ke tubuh Emily yang sudah sangat kesakitan. Ikatan pada tangan Emily dibukanya, lalu dengan kasar dipegangnya kepala Emily, dengan jambakan yang keras pada rambutnya, diseretnya tubuh Emily ke pinggir ranjang hingga pada batas bahu sehingga kepala Emily terjulur ke bawah dengan mulut yang ternganga lebar.

Aku makin melototkan mata melihat apa yang dilakukan pria itu selanjutnya pada Emily. Penis pria itu mengacung dengan tegangnya. Ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari penisku.
Sambil membuka mulut Emily, digenggamnya batang penis besarnya, lalu diarahkan ke mulut Emily.

Blesssss…

Penis itu masuk dengan mulus kedalam mulut Emily. Ditekannya penis itu menyusup lebih dalam hingga ke kerongkongan Emily.
Tangan Emily menekan perut si pria, berusaha mendorong tubuh itu, namun sia-sia saja, malah semakin dalam penis itu masuk ke dalam kerongkongannya. Emily tersedak, matanya melotot menahan rasa sakit ditenggorokannya.
Kaki Emily nampak terangkat dan menendang-nendang. Sumpalan penis besar dikerongkongannya membuat jalan nafasnya tersumbat. Pria itu kelihatan menikmati hal itu. Dipompanya penisnya keluar masuk dimulut Emily, lalu ditariknya lepas, mungkin sekedar untuk memberi kesempatan pada Emily mengambil nafas. Air liur kental menetes dari mulut Emily, namun tak berapa lama mulut itu disumpal lagi dengan penis besar milik si pria.

“Ahhkkk…hrrkkkhh…“ Suara Emily terdengar. Entah dia menikmati permainan itu atau tidak, aku tak tahu.

Kembali hujaman-hujaman penis pada tenggorokannya diterimanya lagi. Pria itu memaju mundurkan pinggulnya membuat penis panjang besarnya menggesek kerongkongan Emily. Sekali-sekali tangannya menampar pipi Emily. Jeritan-jeritan kecil terdengar keluar dari mulut Emily, namun terus saja pria itu menghujamkan penisnya ke dalam mulut Emily.

Aku terus saja mengintip dari celah pintu yang terbuka. Entah mengapa saat itu aku seperti menikmati pemandangan yang sedang terjadi di depan mataku. Pacarku…, lebih tepatnya mantan pacarku sedang disetubuhi, bukan lewat vaginanya tapi pada mulutnya.
Aku bisa membayangkan betapa menderitanya Emily dengan hujaman penis besar itu pada tenggorokannya, dan aku mulai menyukai itu…

Kembali ku tajamkan pandanganku. Nampak mereka merubah posisi. Mungkin si pria sudah puas menyetubuhi mulut Emily dan ingin mencoba hal lain.

Emily bangun dengan rambut acak-acakan. Cairan kental nampak meleleh dari mulutnya. Diambilnya tissue di atas meja kecil dekat ranjang lalu dilapnya cairan kental itu. Si Pria lalu mendekati Emily sambil menggenggam batangnya yang masih mengacung keras. Perlahan didorongnya Emily. Seakan faham dengan dorongan pada punggungnya, Emily merubah posisinya menjadi menungging. Kulihat penis besar itu digenggam si pria dan diarahkan ke vagina Emily. Digesek-gesekkannya sebentar, lalu dengan satu dorongan yang kuat ditancapkannya penis itu.

“Awwwwwhhh….., Robert…, pelan-pelan…, shaakkithhh..” Emily menjerit keras ketika penis itu melesak masuk kedalam vaginanya.

Aku makin menajamkan pandanganku dari celah pintu. Sebesar apakah penis pria yang bernama Robert itu sehingga Emily menjerit kesakitan seperti itu?
Kuamati dengan seksama. Robert memompa penisnya dengan irama yang teratur diselingi erangan kesakitan dari mulut Emily. Ketika Robert mencengkeram pundak Emily, otomatis terlihat dengan jelas penisnya yang sedang menancap karena posisi mereka tepat membelakangiku dengan kedua kelamin mereka yang jelas terlihat dari arahku mengintip.

Owh..! Bukan vagina Emily yang dimasuki penis Robert melainkan anusnya. Pantas saja Emily terlihat kesakitan. Tangannya mencengkeram dengan kuat seprei dan tepi ranjang. Kakinya terangkat menandakan rasa sakit yang dialaminya. Kepalanya terhempas kesana kemari seiring dengan pompaan penis Robert pada anusnya yang semakin lama semakin cepat, hingga pada pompaan selanjutnya Robert menekan penisnya dengan kuat, lalu terdiam disertai kejutan-kejutan kecil pada tubuhnya. Robert mengalami orgasme.

Aku tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Inikah Emily yang kukenal? Rela disakiti, rela diperlakukan dengan kasar demi memuaskan seorang pria kasar yang mungkin juga adalah pacar barunya ?

Ohhh…, aku mengerti sekarang. Inikah yang dicari Emily? Inikah yang tak didapatinya dariku? Perlakuan lembut setiap kali bercinta dengannya membuatnya bosan padaku lalu memutuskan hubungan denganku begitu saja?

Aku menutup pintu itu dengan pelan, lalu bergegas turun dari lantai atas dan keluar dari rumah Emily, meninggalkan segala aktivitas mereka yang menyakitkan hatiku. Entah apalagi yang akan mereka lakukan, aku tak mau peduli lagi.

Dengan hati yang tak menentu aku menghenyakkan pantatku ke atas sadel sepeda motor.

“Baiklah, Emily…” Gumamku perlahan penuh rasa benci dan dendam. “Aku akan memberikan itu untukmu…, akan kulakukan itu untukmu nanti…”

Dan ku hidupkan sepeda motorku pergi meluncur dengan kecepatan full…

Tunggulah Emily…! Tunggulah….!

Rasa rindu dan cinta dihatiku untuk Emily perlahan mulai pudar. Tak kusangka Emily ternyata seperti itu. Dia yang selama ini kukenal sebagai wanita anggun dan penuh cinta, kini tak lebih dari seorang wanita liar yang rela disakiti dan dilecehkan oleh seorang pria yang baru dipacarinya kurang dari seminggu.

Tak sanggup aku menyaksikan pergumulan mereka pada malam itu. Rasa sakit dihati bercampur rasa jijik telah melenyapkan rasa rindu yang selama ini tak mau pergi dari hatiku.
Kini…, entah mengapa bayangan Emily yang selama ini selalu menari-nari indah di pelupuk mataku perlahan memudar dan berganti dengan bayangan menjijikkan.

Rasa jijik dan sakit dihatiku kini mulai berubah menjadi rasa dendam. Aku ingin memberikan apa yang diinginkan Emily. Rasa sakit dan derita. Itulah yang diinginkannya, pasti!. Jika tidak, mengapa dia berpindah hati ke seorang pria yang sedikitpun tak memperlakukannya dengan lembut?
Dan … oh…! Tidak! Aku masih ingat. Wanita yang pernah kulihat menari bugil ditengah taman adalah Emily! Brengsek dan liar!
Sebegitu besarkah rasa cinta Emily pada pria itu sehingga dia mau mengorbankan harga dirinya?

“Tunggu aku, Emily…! Akan kuberi apa yang kau inginkan…!” Gumamku dengan geram.

Dengan memakai jaket kulit berwarna hitam, dipadu celana jeans hitam dan sepatu warna hitam, aku memacu sepeda motorku menuju rumah Emily. Malam ini aku akan memberikan sesuatu pada Emily. Sesuatu yang dia inginkan.

Suasana rumah Emily sepi saat aku tiba. Lampu dalam rumah terlihat masih menyala namun sepertinya tak ada aktivitas dalam rumah.
Aku menekan bell dengan lama. Andai Emily yang muncul membukakan pintu untukku, maka aku akan menyeretnya keluar, lalu akan menggelandangnya sepanjang jalan dalam keadaan bugil, seperti yang pernah kulihat dilakukannya di taman malam itu bersama pacar barunya itu.

Tak ada gerak apa-apa dari dalam. Kutekan lagi, berulang kali hingga kemudian pintu terbuka. Lagi-lagi pembantu Emily yang membukakan pintu. Ada rasa kecewa dihatiku, tapi biarlah, mungkin akan lebih bagus jika ini dilakukan dalam rumahnya sendiri.

“Oh, Den Jay. Masuk Den. Non Emily lagi dikamarnya tuh…”

Bibi tahu rupanya bahwa kedatanganku untuk menemui Emily, dan itu wajar karena tak mungkin dia berpikir bahwa aku akan menemui dia.
Tapi tidak untuk malam ini Bi, jika kau melakukan hal yang tak kuinginkan.
Senyum sinis dibibirku tak sempat diperhatikan bibi.

“Aku boleh langsung ke kamarnya, Bi?” Tanyaku sekedar basa-basi sebenarnya.

“Silahkan Den. Bibi mau ke dapur dulu“ Ucap bibi berbalik hendak pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.

“Bi, Sebentar Bi…” Aku mencegah bibi untuk pergi “Non Emily sendirian?”

Bibi mengangguk. Aman, pikirku.

Setelah mengunci pintu rumah, akupun langsung menuju kamar Emily. Pintu kamarnya masih tidak dikunci. Aku mendorong sedikit pintu kamar, mengintip kedalam. Tak ada siapa-siapa. Akupun masuk ke dalam. Terdengar bunyi guyuran air dilantai kamar mandi. Emily lagi mandi rupanya.
Dengan santai aku membuka jaket kulitku dan membuangnya begitu saja ke lantai. Ku lepas sepatuku dan melemparnya begitu saja. Santai. Aku langsung melompat ke atas ranjang hingga menimbulkan suara berderit yang cukup keras.

Dengan agak sedikit berdebar aku menanti Emily keluar dari kamar mandi. Malam ini aku akan memberikan apa yang kau inginkan, Emily.

Suara gemericik air berhenti. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan Emily melangkah santai keluar kamar mandi dengan handuk dililitkan pada kepalanya. Selain handuk itu tak ada kain lain yang menutupi tubuhnya. Bugil.

Tubuhnya masih seksi seperti dulu, meskipun kulihat ada banyak guratan merah disekujur tubuhnya. Payudaranya masih menggantung kencang didadanya dengan puting pink yang indah. Lalu vagina tanpa bulu terapit diantara pahanya. Indah benar…

Emily tersentak kaget saat menyadari ada seseorang yang tengah berbaring diatas ranjangnya.

“Waaaaaw! Eh..Ka..Kau???“ Mata Emily melotot kaget melihatku.

“Apa kabar Emily sayang?” Ucapku dengan nada dingin. “Kangen padaku?”

Emily refleks menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah disinari lampu kamar yang terang.

“Mau apa kau kesini, cepat keluaaaaar….!” Jerit Emily sambil berjongkok berusaha menutupi area terlarangnya. “Brengsek kau..! Keluaaaaaarrrr…!”

Aku bangun lalu duduk ditepi ranjang. Dengan wajah sinis aku menatap Emily.

“Oh… begitu ya. Baiklah, aku akan keluar dari sini bahkan dari rumah ini. Tapi sebelumnya….”

Emily melotot tajam saat aku mulai membuka pakaianku satu persatu. Tubuhnya yang sedang berjongkok bugil perlahan beringsut sedikit demi sedikit ke arah sudut kamarnya. Emily menggigil menatapku. Andai hati ini belum dipenuhi dendam, mungkin aku akan memeluknya untuk menghilangkan rasa takut yang sedang dialaminya saat ini. Tapi tidak untuk sekarang ini!

“Ini yang kau inginkan Emily? Ini kan?“ Ucapku dengan suara serak. “Kenapa kau tutupi tubuhmu? kau malu aku melihatnya? Bukankah aku sudah sering melihatnya bahkan menikmatinya? Kau lupa itu, Emily? Hahahahahahahaha…“

Emily semakin menyudut. Aku mendekatinya lalu mencengkeram bahunya dengan kasar.

“Kau takut, Emily?” Tanyaku dengan senyum sinis.

Emily mengangguk pelan dan gugup. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kucengkeram tubuhnya lalu kuangkat berdiri. Tak ada rasa kasihan dihatiku sedikitpun, semua telah berubah menjadi rasa marah dan dendam.

“Jangan, Jay. Aku mohon jangan lakukan itu…. Aku…Aku….” Suara Emily terbata. Matanya memancarkan sinar permohonan.

“Fuck You Emily…., You’re …JERK ! Air matamu menjijikkan.. Its …. Disgusting!“ Dengusku geram sambil mendorong tubuh Emily hingga terhempas ke atas kasur.

“Ku mohon….., Jay…., Kumohon….“

Aku melangkah mendekati Emily. Tak kupedulikan kata-kata permohonannya. Kuambil handuk yang masih melilit di kepalanya, lalu kugulung dan kugunakan untuk menyumpal mulutnya. Kedua tangannya kuikat ke ranjang menggunakan kaus dan jaketku. Tersisa kedua kakinya yang meronta-ronta menendang kesana kemari membuat vaginanya yang terlihat memar itu kadang terbuka kadang menutup.

“Kau dengan tulus membiarkan pacar barumu yang kaya itu memperlakukanmu dengan kasar. Mengapa denganku kau malah menolak?” Ucapku dingin. “Oh…, karena dia kaya? Sungguh wanita brengsek kau Emily! Dasar pelacur murahan! mata duitan!”

Emily melotot tajam padaku, rona kaget tersirat dari wajahnya. Mungkin dia kaget karena aku tahu semuanya.

“Tenanglah, Emily. Aku tak akan memperkosamu. Tak mungkin aku mengotori penisku dengan vagina busukmu yang telah kotor dengan mani pria lain…”

Kuambil sebuah botol lotion yang berada pada meja riasnya. Botol itu cukup besar sebesar lenganku. Kubuka penutupnya, lalu menuangkan sedikit ke telapak tanganku. Setelah mengoleskan lotion ke botol, aku mendekati Emily yang masih meronta berusaha melepaskan diri.
Ku renggangkan kakinya dengan paksa, lalu kutindih dengan kakiku.
Vagina mulus Emily terpampang. Ku elus sebentar dan kugesek bagian klitnya.

“Tenang Emily sayang. Sebentar lagi kamu akan merasakan sesuatu yang nikmat. Enjoy this game, honey… Ahahahahahaha…”

Tanpa menunggu vagina itu basah dan licin, aku langsung mencolokkan botol lotion ke belahan vaginanya. Botol lotion yang sudah ku olesi dengan lotion itu menancap masuk setengah ke dalam vaginanya. Emily tersentak. Tubuhnya melengkung. Punggungnya terangkat ke atas. Matanya mendelik.

“Nikmat kan sayang?“ Tanyaku sinis tanpa belas kasihan.

Botol lotion yang panjangnya lebih dari sejengkal dengan mulutnya yang tajam itu menancap setengahnya dengan susah payah. Terasa mengganjal dan mentok. Aku tak peduli. Ku tekan lagi botol itu dengan keras.

“Aaaaaawhwhwhwhwhwh…” Andai mulut Emily tak disumpal dengan handuk, pasti suaranya terdengar melengking keras. Hanya matanya mendelik disertai kepalanya yang terangkat keatas. Air matanya meleleh menahan rasa sakit pada belahan vaginanya.

“Nikmatilah sayang…. enjoy this…., arggghhhhh” Aku menggeram tanpa rasa kasihan.

“Uhm…Uhm…Uhmmm…” Suara Emily terdengar kecil. Matanya mendelik. Sebuah isyarat bisa ku tangkap dari gerakan tubuhnya. Emily mungkin ingin aku melepaskan sumpalan pada mulutnya.

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Emily? Hehehehehe.., baiklah“

Sumpalan di mulut Emily ku lepaskan.

“Sss…saa..kkkiiitttt…Jay. Aku mohon jangan…. lakukan ini… padaku… Jay…hik…hik…” Emily terisak. Kakinya yang tadi meronta telah berhenti. Rasa sakit itu mungkin telah membuatnya seperti itu.

“Ini belum berakhir, Emily. Masih ada permainan selanjutnya. Nikmatilah sayang…”

“Kumohon Jay…”

“Diam!“ Bentakku keras. Tak peduli hal itu akan memancing kehadiran bibi. “Kau masih ingat berapa kali aku memohon padamu dan berapa kali kau menolaknya, Emily?”

Emily kembali terisak. Botol lotion itu masih menancap divaginanya.

“Sakit, Jay. Vaginaku sakit, Jay…” Suara memelas dari mulut Emily tak sedikitpun menggugah hatiku.

“Kau ingin aku memasukkannya lebih dalam lagi, Emily? Baiklah….”

“Tidak, Jay… Jangan…! Aaaaaaawwwwwhhhhh…..!“ Jeritan Emily melengking tajam saat botol lotion itu ku tekan dengan keras ke dalam vaginanya. Tubuhnya bergetar, punggungnya kembali terangkat ke atas. Darah segar menyembur membasahi botol lotion dan tanganku. Botol itu kucabut dengan tiba-tiba, membuat tubuh Emily kembali terhentak.
Ada bercak darah di badan botol itu.

Kembali kumasukkan dan kutekan dengan sekuat-kuatnya botol lotion ke dalam vagina Emily, kutekan hingga hampir amblas.

“Awwwwwhhhhhhhhhh….!” Jeritan kencang keluar dari mulut Emily seiring dengan semburan darah segar lagi dari vaginanya.

Tok…Tok…Tok…

Suara ketukan pintu membuatku menghentikan aksiku lalu turun dan membukakan pintu. Nampak bibi sedang berdiri depan pintu. Kubiarkan saja bibi masuk menghambur ke dalam kamar, dan lebih cuek lagi aku mendengar suara jeritan bibi yang melihat keadaan Emily.

“Ya Tuhan…, kenapa ini, Non?” Jerit bibi panik.

Emily diam saja memandang bibi yang segera memeluknya disertai isakan tangis. Darah segar meleleh keluar dari vagina Emily. Tubuhnya terlentang tak berdaya. Matanya perlahan meredup hingga akhirnya terpejam.

“Kau apakan Non Emily, hah??!” Bentak bibi sesaat kemudian. Matanya memancarkan amarah.

“Aku memberikan apa yang dia mau…, Bibi mau juga?” Aku malah mengucapkan kalimat yang bikin bibi tambah marah.

“Ada apa denganmu hah?!”

Aku hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan bibi. Kulihat Emily diam saja. Matanya terpejam dengan bibir yang melengkung menahan sakit.

“Ughhh…” erangan kesakitan terengar lemah dari mulut Emily.

Bibi yang sedang menatapku dengan penuh amarah segera berbalik dan menghambur ke atas tubuh Emily.

“Non… Bangun, Non… hik..hik..”

Tak ada gerakan apapun di tubuh Emily. Diam, kaku, tak bergerak.

“Noooonnnn…!, bangun non… hik..hik…” Suara Bibi melengking nyaring. Digoyang-goyangkannya tubuh Emily. Kaku dan tak ada respon sama sekali.

Sejenak aku terpana. Kuperhatikan keadaan Emily saat itu. Bibirnya pucat, matanya terpejam. Tiba-tiba aku dihinggapi rasa panik. Bibi yang sedang memeluk tubuh Emily kusingkirkan dengan satu hentakan kuat. Aku memanggil-manggil nama Emily, tak ada jawaban.

“Emily…? Emily…? Emilyyyyyyy….!” Jeritku panik.

Ada apa denganku? Iblis dari mana yang telah merasuk dalam jiwaku sehingga aku tega menyakiti gadis yang selama ini aku cintai? Benar, dia telah menyakitiku…, benar dia telah mengkhianatiku, tapi apa mesti sekejam ini perlakuanku padanya?

“Kau…Kau… Iblis Kau… Biadaaaaaaab!” Jerit Bibi dengan mata melotot dan tangannya terkepal mengacung ke arahku.

Aku tak mempedulikan bibi. Aku panik. Aku mesti segera menolong Emly… Ya menolongnya dari akibat perbuatan bodohku sebelum semuanya terlambat.

Aku masih sendiri, duduk dibangku taman dengan pandangan kosong. 10 Tahun sudah kepergian Emily. Tepatnya tanggal 13 Februari 2005. Dan hari ini, hari kepergian Emily dari sisiku, 13 Februari 2015. Tak ada lagi Emily, dia benar-benar telah pergi membawa derita yang teramat sangat karena kebodohanku.

Emily telah menjauh dariku ke tempat yang tak terjangkau, meninggalkan pesan tegas tentang rasa cinta yang dimilikinya untukku.
10 Tahun lalu dia meninggalkan aku, dan masih terbayang jelas saat dia meregang nyawa dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Masih terngiang suara erangan kesakitan dari mulutnya…

Aku baru tahu alasannya kenapa Emily memutuskan hubungan denganku dari cerita Bibi. Menurut bibi, Emily melakukan semuanya karena terpaksa. Ayah Emily terlilit hutang pada Robert, seorang pengusaha muda yang dulu kuanggap pacar baru Emily.
Ayah Emily mendekam di balik jeruji besi karena tak sanggup membayar hutangnya pada Robert meskipun telah menjual seluruh aset perusahaannya. Hanya ada satu cara yang bisa mengeluarkan Ayah Emily dari dalam penjara. Emily mesti berkorban. Dia harus mau melayani kebutuhan sex Robert yang seorang sadismine. Sayang sekali, sebelum semuanya selesai, aku telah merusak semuanya. Aku telah membuat Emily gagal menolong ayahnya sekaligus membuatnya gagal menjelaskan alasannya memutuskan hubungan denganku.
Sesungguhnya dengan perlakuanku itu, apa bedanya aku dengan Robert? Bahkan mungkin aku lebih buruk dari Robert!

Aku telah menerima balasan atas kebodohanku. Aku mendekam dalam sel tahanan selama 5 Tahun. Aku menjalaninya dengan ikhlas, sebagai hukuman atas kebodohanku.
Selama lima tahun kemudian pula aku menyesalinya. Tak akan pernah habis penyesalan ini dalam hatiku. Dan setiap tanggal 13 Februari aku duduk di bangku taman ini, entah untuk apa dan menunggu siapa, karena aku tahu dan aku sadari bahwa tak mungkin lagi ada Emily yang akan menemuiku disini, di bangku taman yang sering kami jadikan tempat memadu kasih.

Aku masih terus bermimpi, tentang harapan akan bertemu Emily disini, harapan yang akupun menyadarinya bahwa itu mustahil. Aku akan terus menunggu hingga besok dan berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan Emily ke kehidupanku.

13 Februari, hari yang terasa berat kulalui.
Dibangku taman ini, sebuah sandiwara kekerasan kembali berputar dalam kenanganku. Sebuah kenangan pahit. Aku telah membuat Cinta Sejatiku pergi menjauh dariku. Pergi kesuatu tempat yang jauh dan tak tergapai.

Aku tak pernah menghitung hari, tapi aku tahu hari ini tanggal 13 Februari, karena setiap tanggal ini pasti banyak pasangan muda membicarakan tentang sebuah hari, hari dimana mereka saling mengungkapkan rasa kasih pada keesokan harinya. Hari yang mereka sebut dengan Valentine.

“Ughhh…hufffhhh..”

Lara hatiku semakin dalam setiap kali sang surya memasuki peraduannya, digantikan sang Dewi Malam yang memancarkan cahaya terang menjelang purnama, lalu esoknya Sang Raja Siang kembali keluar dengan cahaya terangnya di hari Kasih Sayang, 14 Februari. Hari yang semakin meluruhkan airmataku.
Entah sampai kapan aku disini…, menanti Emily.

Semestiinya kau ada disini
Menemaniku menyambut hari kasih sayang ini…
Ah…
Sungguh aku tak mengerti,
Aku tak faham apa itu Valentine..
Kata orang itu hari Kasih Sayang…

Tapi itu bukan untukku kan ?

Emily….
Tak ada Valentine untukku..
Karena setiap hari, setiap saat…
Valentine itu ada bersamaku…

Seluruh hariku terasa hampa…
Aku masih terlalu merindukanmu…
Aku selalu mengasihimu, meskipun kata orang itu terlambat…
Tapi biarlah.
Aku akan terus mengasihimu
Hingga Tuhan memanggilku
Untuk mempertemukanku denganmu
Di sana… Di SurgaNya…