Rabu, 15 Maret 2017

Akibat Persugihan 2





Serbubet Ia harus pasrah dan mematuhi semua yang diperintahkan jin tua itu. Wanara pun akhirnya mau menerima keputusan tuannya. Apalagi setelah ia diberi tahu bahwa wanita itu tak akan diserahkan kepada sang gendruwo sebelum ia berhasil menghamilinya. Maka kehidupan kedua makhluk itu berjalan normal kembali seperti semula. Sampai suatu kejadian yang tak masuk akal pun akhirnya terjadilah. Semakin hari Maya semakin sering merasakan mual. Ia pun semakin lama bisa merasakan adanya kehidupan baru di dalam perutnya… Ya, Maya telah hamil… Wanita itu pun mengabarkan berita itu untuk pertama kali kepada Wanara. Ia tak peduli apakah kera itu mengerti kata-katanya, yang jelas ia terus bercerita tentang kehamilannya. Tampaknya Wanara pun bisa mengerti. Ia pun tampak senang sambil mengelus-elus perut Maya dengan lembut. Mereka berdua pun lalu berciuman mesra. Maya sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengandung bayi seekor kera? Ia dan Wanara berasal dari spesies yang berbeda. Tentulah itu adalah suatu mukjizat yang hanya terjadi sekali di antara beberapa ribu atau bahkan beberapa juta kemungkinan… Maya dan Wanara merasa gembira karena percintaan mereka ternyata membuahkan hasil. Namun mereka juga sadar bahwa itu menandai semakin berkurangnya hari-hari yang bisa mereka lewati berdua… Karena itulah mereka seolah ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka sebaik-baiknya. Di samping tentu saja sekarang mereka harus lebih berhati-hati dalam berhubungan intim karena adanya bayi yang dikandung oleh Maya… Semakin hari perut Maya pun semakin besar. Ki Edan dengan penuh pengertian mengurangi pekerjaan yang harus ditangani Maya sehari-hari. “Terima kasih, Ki..” kata Maya ketika diberitahu Ki Edan hal itu. “Ya, kau jagalah kandunganmu… dan kauuruslah kera piaraanku,” kata Ki Edan. “Baik, Ki..” angguk Maya mematuhinya. Pada waktunya, Maya pun melahirkan bayinya yang berwujud seekor kera sebagai hasil hubungannya dengan Wanara. Walaupun bayinya adalah seekor kera, naluri keibuan Maya serta-merta muncul. Disayanginya bayi kera itu sepenuh hatinya karena bagaimana pun darah manusianya ikut mengalir pula di dalamnya. Setelah menyusui bayinya selama enam bulan, Ki Gendeng pun datang menagih janjinya. Dengan berat hati Maya menitipkan bayinya pada Wanara dan Ki Edan. Lalu dengan pasrah ia mengikuti Ki Gendeng untuk memulai hidup barunya bersama gendruwo itu. Ki Gendeng adalah gendruwo kelas rendah yang hidupnya di tempat lembab dan gelap. Berbeda dengan Ki Edan yang berasal dari jenis jin tingkat tinggi dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Wujud fisik Ki Gendeng sebenarnya lebih menyerupai monster. Kepalanya mirip kepala babi hutan dengan dua telinga yang besar dan lancip. Serangkaian taring menghiasi mulutnya. Kedua bola matanya besar dan berwarna merah menyala. Tubuhnya pun buncit seperti tubuh babi. Bulu-bulu hitam dan kasar tumbuh mulai dari kepalanya sampai memenuhi punggung dan kedua lengannya. Kedua lengan gendruwo itu panjang dan kekar seperti lengan Wanara, mantan kekasihnya. Kedua kakinya besar dan dilapisi oleh kulit yang tebal bersisik seperti kulit badak. Kakinya yang besar tidak diimbangi oleh panjangnya yang hanya sekitar separuh panjang lengannya. Ada satu keistimewaan Ki Gendeng yang luar biasa. Penis gendruwo itu ternyata berukuran jumbo. Ukuran dan bentuknya tak jauh beda dengan alat kelamin seekor kuda. Tak hanya itu, ternyata gendruwo itu pandai pula memanfaatkan ukuran alat vitalnya untuk memuaskan lawan mainnya. Memiliki ukuran penis yang besar, jika tak mampu mengaturnya, hanya akan menyakitkan wanita pasangannya. Dengan Ki Gendeng, Maya tak memiliki masalah itu. Nafsu birahi Ki Gendeng pun tak kalah tingginya dibandingkan Wanara. Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Wanara sehingga ia bisa langsung beradaptasi saat dituntut melayani hasrat seks yang menggebu-gebu dari gendruwo itu. Perbedaan yang jelas antara Ki Gendeng dan Wanara adalah bahwa Maya bisa berkomunikasi lisan dengan gendruwo itu. Tak jarang mereka berdua terus ngobrol setelah selesai berhubungan badan. Akibatnya tak bisa dihindari, keintiman antara Maya dan Ki Gendeng mulai terjalin. Perlahan-lahan, Maya pun belajar untuk mencintai majikan barunya itu. Kemesraan semakin lama semakin mewarnai hubungan kedua makhluk itu. Perbedaan lain yang kemudian diketahui Maya adalah bahwa Ki Gendeng tak pernah puas dengan satu orang wanita. Ia tahu kalau gendruwo itu sering masuk ke alam manusia dan mengganggu manusia. Biasanya yang diganggunya adalah ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya. Ki Gendeng biasa menyaru sebagai suami si wanita sehingga dengan leluasa menyebadaninya… Pada awalnya Maya merasa cemburu. “Saat kau menyebadani wanita-wanita itu, kau harus menyaru sebagai suami mereka… Karena kalau tidak mereka akan ketakutan dan menolakmu…” protes Maya. “Denganku, kau bisa leluasa memperlihatkan wujud aslimu… dan aku melayanimu sepenuh hatiku…” lanjutnya sambil merajuk. “Bahkan jika kau mau jujur membandingkan, aku rasa wajahku jauh lebih cantik daripada wanita-wanita yang kautiduri itu…” cerocos Maya tak mau berhenti. Ki Gendeng tersenyum mendengar celotehan gundiknya yang cemburu itu. “Semua yang kaukatakan itu benar, Sayangku…” “Tapi kau harus ingat, bangsa kami memang tak pernah puas menyetubuhi wanita manusia… Setiap ada kesempatan, kami pasti akan melakukannya..” “Bagaimana pun kau adalah gundikku yang paling istimewa… Kau sengaja kubawa kemari, setelah aku bersusah payah memintamu dari pelukan kera itu…” jelas Ki Gendeng. “Sementara wanita lainnya tak ada yang kuperlakukan seistimewa itu…” Maya hanya terdiam mendengar penjelasan gendruwo itu. Diam-diam ia membenarkan perkataan Ki Gendeng. Ialah satu-satunya wanita yang beruntung dijadikan sebagai gundik gendruwo itu di alamnya. Wanita-wanita yang lain tetap tinggal bersama suami mereka di alam manusia dan hanya dikunjungi oleh Ki Gendeng sewaktu-waktu. “Kau juga harus belajar berbagi, Maya…” kata Ki Gendeng mengajari wanita itu. “Aku harus membagi kenikmatan seksual kepada istri-istri yang kesepian itu… Mereka jarang atau bahkan tak pernah menikmati kehidupan seks bersama suaminya… Karena itulah aku membantu mereka…” kata Ki Gendeng menjelaskan perilakunya. “Demikian juga halnya dengan kau,” lanjut Ki Gendeng. “Jangan kira kau hanya akan melayani aku sendiri… Nanti kau juga harus belajar melayani teman-teman dan kerabatku sesama gendruwo…” Maya terkejut mendengar kalimat Ki Gendeng yang terakhir… Melayani gendruwo yang lain? “Ya, Maya… Tenang sajalah… Pelan-pelan dulu, nanti akan kukenalkan teman-temanku satu per satu kepadamu…” kata Ki Gendeng seolah bisa membaca pikiran wanita itu. “B.. Baiklah… Ki….” kata Maya tergagap mencoba mematuhinya. Lambat laun Maya pun memahami konsep berbagi yang diajarkan gendruwo itu padanya. Kini ia tak cemburu lagi jika Ki Gendeng mendatangi wanita-wanita lain untuk disetubuhinya. Demikian pula dengan dirinya yang mulai belajar untuk tak hanya berhubungan seks dengan Ki Gendeng. Satu demi satu, Ki Gendeng memperkenalkan Maya dengan gendruwo-gendruwo lainnya yang beraneka ragam bentuknya… Ada yang seperti gorila, seperti orang Afrika, seperti serigala, dan lain-lain… Mulanya Maya memang merasa risih… Namun dengan bimbingan Ki Gendeng yang penuh kesabaran, wanita itu akhirnya mau juga belajar membagi tubuh dan cintanya kepada makhluk-makhluk itu. Sejak diajari oleh Wanara untuk bersetubuh di muka umum, Maya pun tahu kalau makhluk-makhluk yang kebetulan menontonnya sebenarnya jadi tergiur juga untuk ikut menyetubuhi dirinya. Cuma selama ini memang mereka takut terhadap Wanara dan Ki Edan sehingga mereka sebatas jadi penonton saja, tidak pernah ikut nimbrung. Bagaimanapun, melihat minat para penontonnya, lama-kelamaan Maya mulai berfantasi disetubuhi juga oleh mereka. Ia mulai membayangkan nikmatnya disebadani oleh lebih dari satu pejantan. Tidak disangkanya kalau sekarang, setelah hidup bersama Ki Gendeng, khayalannya itu malah menjadi kenyataan. Maka Maya pun mulai membiasakan diri terhadap anjuran Ki Gendeng untuk berganti-ganti pasangan dalam bersetubuh. Apalagi ketika Maya mulai belajar bahwa makhluk-makhluk itu ternyata menaruh hasrat yang sangat luar biasa kepada wanita manusia. Bagi mereka, bersetubuh dengan Maya adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka sangat memuja wanita cantik itu dan menganggapnya seolah-olah dewi seks. Maya jadi tersanjung dan sebagai timbal baliknya, ia merasa berkewajiban untuk melayani mereka sebaik mungkin… Membagi kesenangan dan kenikmatan badani kepada sebanyak mungkin gendruwo yang mungkin selama ini tak semuanya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung apalagi berhubungan seks dengan wanita manusia. Beberapa purnama telah berlalu. Sebagai akibat hubungan asmara dengan Ki Gendeng dan kawan-kawannya, Maya pun akhirnya hamil. Ki Gendeng dan gerombolannya tetap setia memberikan nafkah batin kepada Maya sekaligus juga memuaskan nafsu birahi mereka sendiri sampai akhirnya Maya melahirkan bayi hasil benih cinta mereka bersama. Diberinya nama anak laki-laki itu Dalbo. Anak itu wujudnya mirip manusia namun berbulu lebat di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian kulitnya pun terasa keras seperti kulit badak. Saat lahir, seluruh giginya telah lengkap. Inilah bayi ketiga yang dilahirkan wanita itu dari rahimnya. Semuanya memiliki ayah yang berbeda-beda dan dari jenis makhluk yang berbeda-beda pula… Dengan penuh kasih sayang, Maya menyusui anak ketiganya itu secara rutin. Dilakukannya hal itu di sela-sela kesibukannya melayani hasrat para ayahnya yang tak habis-habis. Selama hidup di alam gaib, Maya telah mengalami diperistri oleh makhluk-makhluk selain manusia. Mulai dari hewan sampai gendruwo. Dari sisi kehidupan seksual, wanita itu tak mengalami masalah sama sekali. Malah ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada saat kehidupannya berumah tangga dengan Sapto. Ia pun merasa beruntung telah mendapatkan pengalaman yang langka tersebut. Namun, bagaimana pun bervariasinya kehidupan seksnya di alam sana, ia tetap tak bisa melepaskan ingatannya dari Sapto, suaminya yang sah. Hinggap dari pelukan demit yang satu ke demit yang lain memang memberikannya kepuasan seksual yang tiada tara. Namun ia pun tetap merindukan kehidupan normalnya di alam manusia. Ia tahu keberadaannya di alam ini bukanlah karena salahnya, melainkan karena kesalahan suaminya. Seandainya saja suaminya mau bertobat, ia pun ingin dapat kembali ke kehidupannya yang biasa-biasa saja di alam manusia. Maya pun tentu saja rindu dengan putri satu-satunya di sana. Rasanya sudah lama sekali ia hidup di alam jin ini. Bagaimanakah kiranya kabar dan rupa putrinya itu kini? Masihkah ia ingat akan dirinya sebagai ibu kandungnya? Di lain pihak, kebetulan pula Ki Edan mendapatkan kabar bahwa Sapto telah melakukan pertobatan. Ia benar-benar telah menyesali segala perbuatannya. Tak hanya itu, ia pun melakukan segala daya upaya untuk mendapatkan istrinya kembali. Dimintanya bantuan seorang kiai untuk melakukan hal itu. Di alam manusia, Sapto yang sangat stress dan mengalami depresi menjalani kehidupan yang sangat berat. Hampir saja ia mati karena tak kuat menahan cobaan itu sendirian. Untunglah ada seorang Kiai bernama Kiai Badrun yang mau menolong Sapto. Kiai itu kebetulan tinggal di lingkungan yang sama dengan Sapto dan telah mengetahui cerita tentang pria malang itu dari para tetangganya. Kiai Badrun pelan-pelan membimbing Sapto untuk bertobat dan mulai menjalani perintah agama. Sangat berat usaha yang dilakukannya untuk menolong pria itu walaupun akhirnya berhasil juga. Setelah Sapto berhasil disembuhkannya, barulah mereka mulai fokus untuk menyelamatkan istri Sapto. Melalui kekuatan batinnya, Kiai Badrun sebenarnya mengetahui persis apa yang telah dialami oleh Maya selama di alam gaib namun ia tak memberitahukan itu sama sekali kepada suaminya. Ia tahu, jika Maya tak segera diselamatkan, wanita itu akan selamanya menjadi budak para dedemit. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan istri Sapto itu ke alam asalnya. Paling tidak di alam manusia ini ia akan bisa berusaha membimbing wanita itu sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap suaminya. Ki Edan pun tak bisa berbuat banyak. Jika orang yang mencari pesugihan kepadanya telah benar-benar bertobat, ia tak akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang itu lagi. Begitu juga apa yang telah diambilnya dari Sapto, yaitu Maya istrinya, harus pula ia kembalikan. Karena tak punya pilihan lain, Ki Edan pun menghubungi Ki Gendeng. Diberitahukannya kabar itu dan disarankannya untuk segera merelakan gundiknya pergi karena ia akan diambil kembali oleh suaminya. Ki Gendeng tentu saja merasa terpukul. Ia telah begitu intim dengan Maya dan bahkan telah mendapatkan keturunan pula dari wanita itu. Ki Gendeng mengatakan pada Ki Edan, kalau Maya diambil, bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, melainkan juga seluruh gendruwo pria dalam kaumnya. Itu dapat dipahami karena selama ini Ki Gendeng telah berbaik hati untuk membagi Maya kepada seluruh kerabat dan temannya. Dengan demikian, bukan cuma dia seorang yang mendapat kenikmatan bersetubuh dengan wanita cantik itu, melainkan juga seluruh gendruwo lelaki di dalam kaumnya. Bagaimanapun Ki Gendeng sadar bahwa ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Pengaruh pertobatan Sapto terasa sangat kuat. Semakin hari semakin kuat. Jika Maya tak segera dikembalikan ke dunianya, risiko yang harus mereka tanggung terlalu besar. Kerajaan dan kekuatan mereka lambat laun akan tergerogoti. Akhirnya mereka pun sepakat untuk mengembalikan Maya kepada suaminya. Sekedar untuk penghibur, mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa masih banyak kesempatan untuk mendapatkan lagi wanita manusia yang bisa mereka jadikan sebagai pemuas birahi. Bagaimana pun, memang tak mudah untuk mendapatkan yang secantik, seseksi, dan sepatuh Maya. Pada waktu yang telah disepakati, Ki Gendeng dan rombongannya mengantarkan Maya kembali kepada Ki Edan. Rombongan yang panjang itu terdiri dari seluruh gendruwo laki-laki yang pernah mengawini Maya selama wanita itu diperistri oleh Ki Gendeng. Maya lalu menitipkan bayi laki-lakinya kepada Ki Gendeng untuk diurus. Kejadian saat Maya harus meninggalkan Wanara untuk dibawa Ki Gendeng seakan berulang. Kini Ki Gendeng lah yang harus ditinggal oleh Maya supaya ia bisa dikembalikan kepada Sapto, suaminya yang sah. Maya tentu saja ingin dikembalikan kepada suaminya yang sah. Bagaimanapun, di lain pihak ia pun merasa sedih harus meninggalkan gerombolan gendruwo pimpinan Ki Gendeng yang selama ini telah mengurusnya dan memberinya kepuasan seksual. Yang paling membuatnya sedih adalah harus meninggalkan Dalbo, darah dagingnya hasil percampuran dengan gendruwo tersebut. Saat diserahterimakan kembali kepada Ki Edan, Maya melihat jin tua itu menggenggam sesuatu di tangannya. Sesuatu yang sangat familiar dengannya, yaitu seuntai kalung yang biasa dikenakan oleh wanita itu saat masih tinggal di situ. Kalung yang menandakan pemakainya adalah milik Ki Edan. Ya, walaupun Maya hanya transit di kediaman Ki Edan sebelum dikembalikan kepada suaminya, status dirinya saat itu adalah kembali di bawah kekuasaan Ki Edan. Ia pun dapat memahaminya. Maka ketika Ki Edan mendekati dirinya untuk menyematkan kalung itu kembali ke lehernya, Maya segera menyibakkan rambutnya yang hitam panjang untuk memudahkan jin tua itu melakukan pekerjaannya. Setelah berpamitan, gerombolan Ki Gendeng berlalu meninggalkan kediaman Ki Edan. Ki Edan pun membawa Maya masuk ke rumahnya yang telah ditinggalkan oleh wanita itu selama beberapa lama. Pandangan Maya menerawang menjelajahi rumah jin tua yang eksotis itu. Ada nostalgia yang muncul kembali di benaknya. Secara fisik tak banyak yang berubah. Hanya ada suasana berbeda yang dirasakannya. Ada semacam keheningan dan kekosongan… Ki Edan bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Maya. “Wanara sekarang tak ada di sini lagi. Ia sudah kukirim kembali ke alam manusia….” kata Ki Edan. Maya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Edan. Ia mengerti sekarang kenapa suasana di situ dirasanya lebih sepi. Itu menjelaskan semuanya. “Ia gelisah terus sejak dirinya kautinggalkan. Karena itulah kuiizinkan ia bersama anak kalian pergi ke alam manusia,” lanjut Ki Edan. “Harapannya, ia dapat menemukan wanita lain sebagai pengganti dirimu. Ia telah ketagihan menyetubuhi wanita manusia. Jika di sini terus, tentu ia tak akan mungkin melakukannya…. Aku hanya berharap ia berhasil menemukan jodohnya di sana…” Maya hanya tercenung mendengar penjelasan Ki Edan. Ada sedikit perasaan bersalah tersirat di dalam hatinya. Apa daya, waktu itu ia hanya menjalankan perintah dari Ki Edan sebagai tuannya. Maya hanya bisa berharap kera itu segera menemukan wanita lain di sana. Kalau tidak, mungkin ia terpaksa mencari mantan kekasihnya itu saat sudah dikembalikan Ki Edan ke alam yang sama. Maya sadar ia masih memiliki perhatian pada mantan kekasihnya itu. Ia ingin tahu bagaimana kondisi mantan belahan jiwanya itu sekarang. Jika ia baik-baik saja dan telah menemukan wanita lain yang bisa dijadikan sebagai pemenuh kebutuhan birahinya, ia akan merasa turut senang. Jika tidak, ia ingin sekali dapat menghiburnya dan memberikan tubuhnya kembali untuk disenggamai oleh kera yang malang itu sebagai pemuas dahaganya untuk sementara saja, sampai ia mendapatkan penggantinya. Bukannya ia tak mau hidup bersama Wanara lagi tapi di alam manusia sana ia telah mempunyai Sapto sebagai suaminya. “Lalu, bagaimana dengan anakku…?” Naluri keibuan Maya segera muncul kembali. “Jangan khawatir… Wanara akan menitipkannya kepada keluarganya untuk diurus dengan sebaik-baiknya… sementara ia melakukan pencariannya….” Sedikit banyak Maya merasa lega mendengar penjelasan itu. Maya lalu mohon izin kepada Ki Edan untuk mandi karena ia baru saja bersih kembali dari haidnya. Satu hal yang tak disadari Maya, bahwa Ki Edan telah berubah… Saat itu Ki Edan telah merampungkan ilmunya. Sekarang ia tak perlu lagi menahan nafsu birahinya. Ia sekarang sudah lebih sakti dan dapat kembali ke sifat asalnya yang senang mengumbar birahi…. Maya yang tak menyadari itu membiarkan saja ketika Ki Edan menatapinya selama ia mandi di pancuran. Ia sudah terbiasa bugil dan mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan tuannya itu. Ki Edan baru menyadari betapa cantiknya Maya. Timbullah keinginannya untuk juga melampiaskan birahinya kepada wanita itu. “Maya, kau cantik sekali…” desah Ki Edan mengutarakan kekagumannya. “Ada apa, Ki…?” tanya Maya keheranan sambil berdiri di bawah pancuran. “Kau telah begitu baik kepadaku selama ini… tapi rasa-rasanya kau jarang memujiku seperti itu….” “Aku telah berbuat baik kepadamu…?” tanya Ki Edan seolah meminta penjelasan. “Ya, Ki… Kau telah mencarikanku jodoh selama tinggal di sini dan mengajariku banyak hal…” jelas wanita itu sambil tersipu. “Aaah… itu bukan apa-apa, Sayangku…” kata Ki Edan. “Memang itulah salah satu tujuanku membawamu kemari…” “Kau suka dengan apa yang telah kulakukan padamu selama ini?” Maya mengangguk sambil tersenyum. “Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Ki…” “Yaitu?” “Mengapa kau tiba-tiba memujiku…” “Maya, aku ingin kau tahu satu hal…” “Aku telah menyelesaikan ritualku… Kini aku semakin sakti… dan dapat menyalurkan hasrat seksualku lagi seperti biasa…” lanjut Ki Edan. Mata Maya terbelalak mendengar penjelasan itu. Entah kenapa rasanya ia senang sekali mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa, Ki Edan pun berjalan mendekati wanita itu. Keduanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seakan ada suatu kontak batin yang kuat sedikit demi sedikit terjalin di antara mereka berdua. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba kedua makhluk itu pun saling berpelukan dan berpagutan di bawah pancuran… Momen yang terjadi sekilas dan tiba-tiba itu ternyata membawa Maya ke suatu titik balik. Suatu hal besar yang di luar pemikiran dan perkiraannya telah terjadi. Hal itu tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Membuatnya tiba-tiba mampu membuat suatu keputusan berani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. “Ki, bawalah aku…” tiba-tiba Maya berkata setelah mereka berciuman beberapa lama. “Aku rela tidak kaukembalikan kepada suamiku… asal bisa mengikuti dan mengabdikan diriku padamu…” katanya mantap sambil menatap ke arah mata tuannya yang sekaligus ia harapkan mau menjadi kekasihnya pula… Maya baru sadar bahwa ia sebenarnya telah mengagumi jin tua yang gagah perkasa itu sejak pertemuan pertama mereka. Sekarang ia baru sadar bahwa ternyata ia juga mencintainya dan rela dijadikan sebagai apa pun olehnya. Ki Edan balas menatap dalam-dalam mata wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dilihatnya pancaran mata yang tulus dan jujur dari seorang wanita yang tengah jatuh cinta…. “Sayang… aku tahu perasaanmu… Hanya saja untuk sementara ini aku terpaksa mengembalikan dirimu kepada suamimu. Ada banyak konsekuensinya jika itu tidak kulakukan…” Ki Edan mencoba menjelaskan. Ada gurat kekecewaan tergambar dalam mata wanita itu. Ki Edan bisa melihatnya dengan jelas. “Tapi jangan khawatir… Sebelum kau kukembalikan kepada suamimu, kita tetap bisa menjalani malam pengantin bersama…” hibur Ki Edan. “Oooh… Ki…” desah Maya. Mereka pun berpelukan erat di bawah pancuran air. Tak sulit bagi Ki Edan untuk membimbing Maya supaya mau melayaninya sehingga ia akhirnya berkesempatan menuntaskan nafsunya pada wanita cantik itu. Kebetulan Maya pun sedang berada di puncak birahinya karena baru memasuki masa subur. Di ruangan pribadi Ki Edan yang bernuansa hutan, kedua makhluk berbeda alam itu pun memadu kasih seperti layaknya sepasang pengantin baru. Maya seakan baru tersadar bahwa inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia dibawa ke alam jin. “Ki Edan, akhirnya kita bisa bersatu juga…” desah Maya yang terbaring pasrah tak berdaya dalam pelukan Ki Edan. “Sejak pertama bertemu denganmu… aku sudah ingin merasakan kejantananmu…” jelas Maya membuka rahasianya. “Walaupun keramu yang terlebih dahulu mendapatkan diriku… Aku lega karena akhirnya kita pun bisa bersetubuh di ranjang ini…” kata Maya mencurahkan isi hatinya. “Maya….” balas Ki Edan haru sambil memagut bibir wanita itu. Mereka pun berciuman dengan dalam seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan… Ki Edan menyisipkan penisnya yang berukuran besar ke dalam vagina Maya. Wanita itu menahan nafas. Ia menantikan kenikmatan yang sudah lama diidam-idamkannya. Maya merasa badannya bergetar saat penis Ki Edan bersatu secara utuh dengan vaginanya… Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Ki Gendeng dan teman-temannya. Kebetulan gendruwo-gendruwo itu semuanya memiliki ukuran penis yang besar melebihi ukuran penis manusia. Bagaimanapun penis Ki Edan memang masih lebih besar lagi… Setelah Maya terbiasa menerima alat kelamin Ki Edan di dalam tubuhnya, jin itu pun mulai menggenjotnya. Maya pun menikmati setiap detik dari persenggamaan mereka. Keduanya menjalani persenggamaan seperti layaknya sepasang pengantin baru. Seperti sudah diduga oleh Maya, Ki Edan adalah pecinta yang sangat hebat di atas ranjang. Dengan pengalamannya yang sudah mencapai ribuan tahun, dibawanya Maya ke puncak orgasme sampai berulang-ulang dengan berbagai teknik yang membuat wanita itu terkagum-kagum. Hingga saat Maya sudah kelelahan dalam kubangan orgasme yang datang beruntun, Ki Edan memberi kesempatan wanita itu untuk beristirahat sejenak. Masih dengan alat kelaminnya yang tegang tertancap teguh di dalam kemaluan Maya, jin tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah Maya yang ada persis di bawahnya. “Maya, kinilah saatnya…. aku titipkan keturunanku di dalam rahimmu…” “Baik, Ki… anak kita berdua…” balas wanita itu dengan mesra. “Aku berjanji… aku berjanji akan merawatnya sebaik mungkin… Lepaskanlah… lepaskanlah spermamu ke dalam rahimku, Ki” kata Maya memohon. “Tentu, gendakku….” balas Ki Edan sambil meningkatkan genjotannya yang membuat kemaluan Maya terasa semakin panas… Akibatnya, orgasme yang beruntun pun tak terelakkan lagi menerpa tubuh wanita itu… Maya pun merasa semua tulang belulangnya bercopotan. Suasana yang memabukkan menghempas dirinya yang bugil dalam pelukan jin tua itu…. “Ooooouuuuu….uuuuhhh…..” desah wanita itu berkepanjangan sambil satu tangannya meremas seprai ranjang tempat mereka memadu kasih. Sementara tangannya yang lain mendekap tubuh besar jin tua itu yang menindih tubuhnya. Tak lama kemudian, Maya pun merasakan jin itu melepaskan semprotan air maninya ke dalam rahimnya. Ki Edan melenguh panjang. Maya pun tersenyum bahagia dengan lebarnya. Mereka lalu saling berpagutan sambil berpelukan. Beberapa lama mereka berdua terpaku dalam posisi Ki Edan menindih tubuh Maya. Kedua alat kelamin mereka masih bersatu. Cairan sperma jin tua itu tampak mengalir keluar dari dalam vagina Maya saking banyaknya… Membasahi seprai putih yang mereka tiduri. Ki Edan puas karena akhirnya ia berhasil pula mencicipi tubuh Maya walaupun terlambat. Ia pun sebetulnya masih ingin lebih jauh lagi menikmati wanita itu. Apa daya tuntutan dari suaminya yang telah bertobat harus dipenuhinya terlebih dahulu. Bagaimanapun, Ki Edan sadar bahwa walaupun Sapto sekarang telah kuat, kebalikannyalah yang terjadi dengan istrinya. Istrinya memang tidak pernah meminta pesugihan. Namun pengalamannya hidup di alam gaib dan diperistri oleh berbagai macam makhluk tentulah sedikit banyak telah membawa pengaruh. Maya yang sekarang berbeda dengan Maya yang dulu pada saat ia diambil dari sisi suaminya. Wanita itu kini telah terbuka matanya terhadap semua ajaran dan praktek kebebasan seksual yang dilakukan oleh bangsa demit dan jin. Ia telah menjadi bagian dari mereka. Apalagi Maya pun telah melahirkan anak-anaknya di alam gaib ini. Ini membuat ikatan yang kuat antara wanita itu dengan alam ini. Karena alasan itulah, Ki Edan percaya sepenuhnya dengan pengakuan Maya yang tulus sebelum mereka memulai persetubuhan tadi. Ki Edan percaya bahwa dia masih akan bisa bersua kembali dengan Maya di lain kesempatan. Itu pula sebabnya ia begitu percaya diri untuk menitipkan spermanya di dalam rahim wanita itu. Ia tak mau ketinggalan dari para hamba pengikutnya yang telah mendapatkan keturunan dari wanita cantik yang subur itu. Setiap makhluk di alam jin itu akan naik derajat dan wibawanya jika berhasil mendapatkan keturunan dari seorang wanita manusia. Untunglah mereka melakukan persenggamaan itu bertepatan dengan mulainya masa subur Maya… Harapannya, jika Maya telah kembali kepada suaminya, ia akan hamil dan melahirkan anak sebagai hasil hubungan cinta mereka malam itu. Dua hari dua malam Ki Edan menyetubuhi Maya. Kamar tidur Ki Edan pun menjadi saksi bulan madu dari pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu. Saat itulah Maya sadar bahwa hidupnya telah ditakdirkan untuk sepenuhnya menghamba kepada jin tua yang perkasa itu. Walau apa pun yang telah terjadi dalam waktu yang singkat itu, Ki Edan adalah makhluk yang mau menepati janjinya. Setelah puas menikmati malam pengantinnya bersama Maya, Ki Edan mengingatkan wanita cantik itu untuk bersiap-siap. Hari itu ia akan mengembalikan wanita itu kepada suaminya. Ki Edan dan Maya berjalan berpegangan tangan menyusuri gua persemedian Ki Edan. Udara dalam gua itu semakin ke dalam semakin dingin. Maya yang tubuhnya tak dilapisi sehelai kain pun merasa merinding. Hari itu Ki Edan akan menepati janjinya untuk mengembalikan Maya ke alam manusia. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, sampailah mereka ke sebuah kolam yang bening di dalam gua itu. Kolam yang cukup besar itu begitu tenang airnya. Ribuan stalagtit dan stalagmit tampak mengitarinya. Ki Edan menyuruh Maya untuk mengambil posisi semedi di atas sebuah batu besar di tengah kolam itu. “Duduklah di atas batu itu dan bersemedilah, supaya aku bisa mengembalikanmu ke alam manusia..” kata Ki Edan. “Baiklah, Ki…. Aku pamit dulu untuk kembali ke duniaku,” kata Maya. Maya mencium tangan Ki Edan sebelum melakukannya. Ki Edan pun lalu meraih wajah Maya dan memagut bibirnya lama. Tubuh keduanya pun berdekapan erat. Saat berdekapan, Maya merasa penis Ki Edan tumbuh membesar… Ia tahu, jin itu terangsang karena bersentuhan dengan tubuh telanjangnya… Maya pun merasakan getaran birahi yang sama. Wanita itu lalu dengan sengaja menggoda dan merangsangi kembali majikannya dengan cara menggerak-gerakkan badannya di dalam pelukan jin itu sampai birahinya benar-benar naik. “Ki… Kumohon, setubuhilah aku untuk yang terakhir kalinya….” pinta Maya dengan penuh harap. Maka di tempat itu, Maya yang sudah memasrahkan dirinya kembali disetubuhi si jin tua. Selain menyimpan spermanya ke dalam rahim Maya yang subur, Ki Edan pun sempat mengguyurkan spermanya yang luar biasa banyaknya itu ke sekujur tubuh Maya. Maya yang sudah telanjur jatuh cinta kepada jin tua itu masih merasa sulit untuk berpisah dengannya. Wanita itu terus memeluk Ki Edan yang baru saja menyetubuhinya. Setelah Ki Edan menyetubuhinya untuk yang kedua kalinya dan berjanji untuk menemuinya lagi saat ia telah kembali ke alam manusia, barulah Maya bersedia untuk berpisah. “Maya, karena keberadaanmu di sini adalah karena ulah suamimu dan sekarang suamimu telah bertobat, maka aku berkewajiban untuk mengembalikanmu sekarang,” jelas Ki Edan. “Tapi setelah kau kembali ke duniamu, aku akan menemuimu lagi,” janji Ki Edan. “Dan jika saat itu kau masih tetap ingin ikut denganku dan mengabdi padaku, tak ada lagi yang bisa menghalangi kita.” “Hubungilah aku, Ki…. Temuilah aku…. Aku akan merindukanmu…” Maya memohon penuh harap. “Aku berjanji akan mengikutimu bila kau datang menjemputku kelak….” kata wanita itu memastikan niatnya pada kekasihnya. Ki Edan tersenyum penuh makna mendengar janji gendaknya yang cantik rupawan itu. “Sesampainya di sana, mungkin kau akan melupakan semua yang telah terjadi di dunia gaib ini… tapi aku akan menghubungimu,” jawab Ki Edan. “Aku tak akan membersihkan sperma hasil persetubuhan kita yang terakhir ini… Mudah-mudahan sesampainya di alamku aku masih akan mengingatmu dengan melihat ini semua…” Ki Edan kembali tersenyum mendengar kesetiaan gundiknya. Dalam hati ia meneguhkan niatnya untuk menghubungi Maya kembali. Akhirnya tibalah saat perpisahan. Ki Edan melepaskan kalung yang melingkar di leher Maya yang selama ini menandakan wanita itu adalah miliknya. Dalam dadanya, Maya merasa sesak karena ada perasaan tak rela… Tanpa berkata-kata lagi, Ki Edan pun bergerak menjauh. Tinggallah kini wanita itu sendirian. Maya duduk di atas batu itu dan bersemedi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan dadanya. Matanya terpejam dan dikosongkannya pikirannya. Cukup lama ia berada dalam keadaan bugil di posisi itu sampai di sekelilingnya terasa gelap. Perlahan-lahan, terasa air kolam seperti meningkat naik dan menyelimuti dirinya. Anehnya ia tetap dapat bernafas. Seolah ada suatu selaput gaib yang menyelubungi dirinya. Sementara air di sekelilingnya terasa berputar


EmoticonEmoticon