Serbubet - Waktu itu aku pacaran sama cowok namanya Rudi. Hari itu aku nginap
ditempatnya, karena Rudi punya rumah sendiri, dan tempat kos-ku cukup
cuek dengan urusan apakah aku pulang atau tidak. Rudi ngundang teman2nya
untuk acara Barbecue, bakar2an sambil minum bir. Cukup banyak yang
datang, sekitar 12 orang. Pada akhirnya tinggal RUdi dan tiga temannya
yang masih mengobrol, yang lain sudah pulang. Aku agak heran karena aku
merasa horny sekali, dan juga agak sedikit pusing. Kupikir karena aku
tidak biasa minum bir. Lalu aku pamitan untuk tiduran sebentar. Karena
panas, kucopot semua bajuku, dan aku hanya pakai kaus Rudi, yang agak
kebesaran hingga menutupi pantatku. Lalu aku telungkup di ranjang.
Tak lama kemudian Rudi masuk, dan karena keadaan terdengar sunyi,
kupikir Ari, Tomas dan Hendy sudah pulang juga. Rudi naik ke ranjang dan
mulai memelukku. Aku berbalik dan balas memeluknya. Kaos yang kukenakan
tertarik dan jembutku cium006menempel di paha Rudi. Aku cekikikan,
karena kupikir kebetulan sekali si Rudi ini cepat masuk ke kamar, aku
masih horny sekali. Kamipun berciuman lama sekali. Rudi memagut bibirku,
ganti-ganti atas dan bawah, lalu lidahnya ikutan. Kamipun saling
berpagutan. Tangan Rudi mulai meremas-remas toketku dari depan kaos.
PUting susuku langsung bereaksi. “Ummmmhhh… Rud…..” “Apa sayang?”
katanya sambil terus mencumbuku. Ahli sekali ia berciuman, aku sampai
lemas terangsang karena bibir dan lidahnya bermain-main memagut bibirku.
Tangannya yang terampil juga tambah merangsangku. “Aku kok terangsang
sekali malam ini ya…ngentot yuk” “Hmmmm…” cuma itu jawab Rudi sambil
pahanya nyelip diantara pahaku.
Lalu ia menggerakkan pahanya, sehingga menekan daerah kemaluanku yang
mulai bengkak dan basah itu. “Ohhhhhh… enak Rud….” kataku sambil ikutan
menggoyang pinggulku, hingga paha Rudi menggesek-gesek memekku makin
cepat. Aku lalu menarik kaosku keatas, dan melepasnya sekalian hingga
tubuhku telanjang bulat. Rudi menatapku dengan hot. Toketku tidak besar,
tapi bentuknya bulat dan agak mencuat keatas. Perutku datar, dan
pinggulku melebar. Kakiku panjang dan mulus. Pantatku, kata Rudi,
ukurannya pas di tangannya yang besar. Lalu aku terlentang dengan
membusungkan dadaku. Benarlah, Rudi langsung menunduk dan menggigit
salah satu puting susuku, sementara tangannya meremasi susuku yang satu
lagi. Aku agak ditindihnya. Aku senang sekali merasakan berat seorang
laki-laki diatasku, rasanya aku ini feminin sekali dan siap dikerjai.
Diantara rangsangan pada toket dan
mulut Rudi yang terus mencumbuku, Rudi mulai melepaskan pakaiannya.
Kontolnya yang perkasa sudah tegang. Aku membuka pahaku lebar-lebar dan
misionarismengundangnya untuk segera mengentotku. Rudi langsung
menggenjot kontolnya keluar masuk. Aku mendesah-desah liar, sambil
mengangkat-angkat pantatku juga hingga sodokan Rudi terasa lebih mantap
dan kasar. “Ahhhhhh… ayo….. Ohhhhh… enak Ruddddd…… yang keras…”
“Uughhh…” Bunyi memekku yang kecipak kecipak saat dientot itu sungguh
erotis. Rudi mengankat kakiku kebahunya, dan terus mengentotku. Pahaku
dirapatkannya hingga memekku kian menjepit kontolnya itu. “Aduhh
Ruddddd…. aku hampir sampai… entot aku kuat-kuat Rud!! OH!! OHHH!!!!”
Tapi Rudi tiba-tiba sudah mengeluarkan maninya sambil berteriak. Aku
amat kecewa karena sebentar lagi saja aku juga akan sampai. Rudi hanya
nyengir dan mulai memainkan toketku lagi. Aku mengelap memekku yang
banjir mani itu, dan mencoba menenangkan nafasku yang masih memburu.
Aku mengerang menikmati hisapan Rudi pada toketku, meskipun aku masih
ingin dientot sampai aku orgasme juga. Rudi menarik badanku hingga
punggungku agak menyandar di dadanya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan
Ari, Tomas dan Hendy masuk. Kelihatan sekali mereka sudah terangsang
hebat dan siap tempur. Aku terpekik dan mencoba menutupi badanku yang
telanjang bulat itu. “Sshhhh…nikmati saja…” katanya sambil tetap mencium
dan memijat toketku. Ari sudah mengeluarkan kontolnya, dan melepas
bajunya. Ia lalu mengangkangkan kedua kakiku. Aku mencoba berontak, tapi
Rudi menahanku, sambil terus memilin-milin puting susuku. Terus terang
aku masih amat terangsang. Ari mulai membimbing kontolnya ke memekku
yang memang masih basah itu. Lalu ia mulai mengentotku kuat-kuat.
“Ohhhhhhh…”desisku. Aku hanya pasrah. Ari memegangi tanganku sambil
memaju mundurkan pinggulnya.
Kedua toketku memenuhi tangan Rudi, dan aku hanya sanggup menggelinjang
dientot Ari. “Sshh… Janet… it’s oke…” kata Rudi lagi. “Aku mau malam ini
agar berkesan sekali untukmu. BAyangkan, kami semua akan melayani nafsu
seksmu” Jadi mereka akan mengerjaiku?! Aku mencoba lagi, tapi aku
merespon entotan Ari. Ari mengentotku makin kuat dan kencang, kontolnya
terasa makin besar dan jantan. “Ohhhhh…Ohh….. yess….”bisikku. Keringat
mulai membasahi keningku. Ari melepaskan tanganku dan menarik pantatku
kuat-kuat hingga kontolnya terbenam habis. Akupun orgasme sambil Ari
terus mengentotku makin cepat, kulihat kepalanya tengadah dan ia
menggeram, sambil ejakulasi persis saat aku orgasme. Bergetar seluruh
badanku. Tapi sebelum orgasmeku benar-benar kunikmati, ARi dan
menghujamkan kontolnya yang besar ke memekku. “Aaaaaaahhhhh!!!! Aduh..
pelan-pelan… OHHH!!!!” jeritku kaget dan agak tak kuat menahan sensasi.
Ari berjongkok dekat toketku dan mulai mengisap-isap puting susuku
sementara Rudi masih memeras susuku yang satu lagi mengentotku dengan
buas. Ia tampak menikmati sekali memekku ini. “Ohhhhh…. Rud.. Janet
bener-bener hebat… memeknya masih rapet aja udah basah begini…
ohhhhhhhh…” “Ahh.. ahhh..ahh..” desahku tiap kali kontol panjangnya
menyentuh dasar memekku tak tahan lama dan sebentar kemudian ia sampai.
Sebelum mendapat gilirannya, mereka
membalikkan badanku, hingga aku kini menungging mulai menyodok-nyodok
memekku dari belakang, sementara Rudi memasukkan kontolnya ke mulutku.
Ari masih asyik memainkan toketku, sambil sesekali mengelus kontolnya
agar bangun lagi ahli sekali mengentotku, dan aku amat menikmati
sodokannya. Kadang-kadang aku terpekik, dan kontol Rudi terlepas dari
mulutku. Rudi akan langsung memasukkan kembali kontolnya ke mulutku. Ia
menengadahkan kepalaku hingga kontolnya bisa masuk lebih dalam. Aku
berusaha keras untuk bernafas pelan-pelan supaya tidak tersedak. Aku
segera orgasme lagi sebelum dia selesai. Ia mengerang menikmati
getaran-getaran memekku saat aku orgasme. Ia berhenti sesudah menusukkan
dalam-dalam kontolnya, lalu mulai mengerjaiku lagi setelah getaran
orgasmeku selesai. Aku ditahan dalam posisi menungging ini sementara
mereka bergiliran menyodokku dari depan dan belakang. Sperma yang keluar
sudah membasahi muka, tenggorokan, leher dan dadaku. Sebagian sperma
muncrat di punggungku.
Mereka dengan asyik mengurut cairan ini ke seluruh tubuhku. Memekku juga
terasa penuh dan agak capai kebanyakan dientot. Dan seluruh kamar berbau
seks. Sepanjang malam, bergiliran mereka mengentotku. Aku sempat
tertidur satu dua jam, dan sesekali diijinkan juga untuk cuci di kamar
mandi. Mereka minta dilayani lagi pagi harinya. Aku ingat waktu Ari
mengentotku dengan posisi terlntang, Hendy menjepitkan kontolnya
diantara toketku sambil maju mundur, dan kedua cowok lainnya
mengurut-urut kontol mereka sambil menonton. Ari lalu menumpahkan
spermanya di dalam memekku, sementara Hendy, Rudi dan Tomas ejakulasi
sambil memuncratkan spermanya di muka, leher dan rambutku. Badanku
terasa letih sekali, tapi juga puas.
Berkali-kali aku orgasme malam itu. Benar-benar malam panjang yang amat
memuaskan. Aku orgasme berkali-kali. Aku tidur sepanjang hari setelah itu.

EmoticonEmoticon