Senin, 14 Agustus 2017

Etty Dan GUru Bahasa Inggris Itu






Serbubet Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.

Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.

Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.

Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!
Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.

Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.
Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.

Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”
Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.

Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.

Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.

Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.
Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.

Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.

Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.

Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.

Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya seperti ini, Et?”.

Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.

Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.

Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.
Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.

Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.

Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

Nkmat Bersama Tuan Ku






Serbubet Selesai mandi, aku membereskan rumah seperti kewajibanku sehari-hari, setelah itu aku buatkan segelas kopi panas dan kubawa ke kamarku, dimana bapak masih terlelap di sana. Perlahan kuletakkan kopi di atas meja, aku melangkah ke arah tempat tidur, kuperhatikan wajah bapak yang tertidur.

Betapa tenang, betapa damai, betapa gantengnya, perlahan kuusap pipi bapak serta kubelai rambutnya, dengan sedikit takut… kucium sudut bibir bapak. Pandanganku menyapu dada bapak, kemudian turun ke salangkangannya yang tertutup selimut, kulirik benda asing yang semalam telah memaksa masuk ke dalam lobangku. Aku tersentak kaget, walau tertutup selimut kulihat jelas benda itu tegak berdiri mengeras, ku usap perlahan sembari tertawa geli dalam hati.

Perlahan kusingkap selimut itu, sekarang terpampang jelas benda itu dimana pantulan cahaya lampu menerpa ujung kepala kemaluan bapak yang seperti helm itu. Kudekatkan wajahku ke benda itu agar terlihat lebih jelas lagi, perlahan kugenggam, kukocok, kujilati dan kumasukkan ke dalam mulutku.

Bapak bergerak perlahan, aku terkejut dan berhenti mengulumnya, tetapi bapak melihat padaku dan menyuruh untuk meneruskan aktivitasku, kembali kuulangi kuluman kemaluan bapak sembari tersenyum, dielusnya rambutku sembari kudengar erangan bapak.

Bapak bergeser sedikit, tangannya meraih pantatku serta menyingkapkan dasterku ke atas, perlahan diusapnya belahan dalam pantatku, dengan tangan kanan kuraih tangan bapak di selangkanganku, ternyata kemaluanku sudah basah kembali.

Aku pun kembali terangsang dengan usapan tangan bapak di kemaluanku, sedikit kugoyang pantatku kekiri dan kekanan tanpa melepaskan kulumanku pada kemaluan bapak. Beberapa saat kemudian, bapak meminta untuk menghentikan aktifitasku, bapak bangkit dari tempat tidur, dan menyuruhku untuk menungging di tepi tempat tidur.

Dari arah belakang, perlahan bapak memasukkan kemaluannya ke dalam lubangku, aku heran, gaya apa lagi yang bapak berikan untukku, kuraih bantal untuk mengganjal kepalaku, sementara dari belakang, bapak memaju-mundurkan pantatnya.

Sensasi baru kurasakan, dengan posisi yang belakangan kuketahui bernama doogy style itu, seakan dapat kuatur jepitanku pada kemaluan bapak. Aku merasa ingin pipis lagi, kugigit bantal sembari mengerang dahsyat, otot-ototku kakiku mengejang sampai ke arah pantat, sedikit kujinjitkan kakiku, kucoba bertahan semampuku, kujambak speri di sampingku.

Aku tak tahan lagi, dengan kedutan-kedutan hebat, jebolah pertahananku, aku teriak dan mendesis kugigit bantal sekeras-kerasnya, pantatku berkedut-kedut ke atas bawah, aku lemas, aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur sembari nafasku haru memburu. Kulihat bapak tersenyum ke arahku, kemaluannya semakin berkilat akibat lendirku tertimpa cahaya dari luar kamar.

Kuraih kemaluan bapak, kukocok-kocok sembari aku mengatur nafasku, tangan bapak merengkuh rambutku, diusap-usapnya kepalaku, diciumnya keningku. Setelah nafasku teratur, kuraih kemaluan bapak dan kukulum lagi, tidak berapa lama, bapak mengejang dan mengeluarkan cairan dari kemaluan bapak yang kutelan habis tanpa bersisa.

Bapak kemudian pergi mandi, sementara aku kembali kekesibukanku hari ini yaitu memasak. Pukul delapan pagi, kulihat bapak selesai mandi dan bersiap untuk menghadiri acara komplek. Setelah berpamitan padaku, aku meneruskan memasak, hari ini kubuatkan masakan spesial untuk bapak, semua bahan telah tersedia di dalam kulkas yang kubeli hari Jumat kemarin di pasar.

Pukul 12 siang, bapak kembali dari acara di komplek, aku sedang menonton acara TV setelah selesai masak, kemudian bapak menyuruh membuatkan es teh manis untuknya, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan bapak.

Di saat aku sibuk mengaduk gula, tiba-tiba dari arah belakang bapak memelukku, aku tersentak karena melihat bapak tidak mengenakan pakaian selembar pun. Tanpa bicara, dicumbuinya diriku dari belakang, aku menggelinjang kegelian, diusapnya leherku dengan lidah bapak sampai ke telingaku dan digigit-gigitnya daun kupingku.

Aku tersentak kegelian, tanganku menyenggol teh yang sedang kubuat, gelas jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi dasterku. Tanpa memeperhatikan peristiwa itu, bapak melahap mulutku dengan ciuman-ciuman ganasnya, aku terpengarah tidak siap, sedikit kehabisan nafas melayani ciuman bapak.

Dengan tidak melepas ciumannya, tangan bapak mencopot dasterku, kemudian dengan terburu-buru, dilepasnya beha dan celana dalamku, aku hanya pasrah menghadapi kelakuan bapak. Sedikit membopong, didudukannya aku di atas meja makan, kemudian bapak melebarkan selangkanganku serta menjilati kemaluanku.

Dengan berpegang pada tepi meja, aku menggelinjang keenakan, kurasakan sapuan-sapuan lidah bapak dikemaluanku sebagai sensasi yang tiada duanya. Mungkin karena sebentar lagi aku merasa akan datang bulan, sehingga nafsu yang ada dalam diriku sedang dalam puncak-puncaknya.

Aku pipis lagi, kujambak rambut bapak dengan tidak sungkan lagi, kutekan kepala bapak ke dalam kemaluanku, kurasakan lidah bapak menembus di dalam lobangku, aku menjerit tertahan, meledaklah kenikmatanku, bapak menyedot habis semua lendir nikmatku sampai tuntas serta menjilati rambut lebatku. Dengan menahan posisiku, bapak berdiri dan memasukkan kemaluannya ke dalam lobangku, perlahan tapi pasti kemaluan bapak masuk.

Aku membisikkan sesuatu ke bapak, aku mengatakan bila ingin merasakan semprotan cairan bapak di dalam rongga kemaluanku, bapak menanyakan apakah aku subur atau tidak, aku jawab bila dalam dua atau tiga hari ke depan akan datang bulan.

Setelah bapak mendengar pengakuanku, dia tersenyum dan semakin bersemangat untuk menusukan kemaluannya di lobangku. Ternyata bapak lama juga mengalami puncak, kebalikannya dalam diriku, aku merasakan suatu kedutan nikmat lagi dan berasa ingin pipis kembali.

Aku peluk bapak, kucium bibirnya, sementara kedua kakiku menjepit pinggang bapak. Dengan berpangku pada tepi meja makan, bapak bertambah kencang volume memaju – mundurkan kemaluannya di dalam lobangku. Aku terpekik, aku menjerit, aku mendekap erat-erat tubuh bapak, kurasakan ledakan kembali menyerang dalam lubang kenikmatanku.

Sementara bapak kulihat semakin cepat dan berkata bila kita berdua akan mencapai puncak secara bersama-sama. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerang… mengejang… kugigit bibir bapak, ternyata demikian pula dengan bapak. Kami berdua mencapai puncak tinggi bersamaan, kurasakan cairan hangat bapak dan cairanku menyatu di dalam lubang kemaluanku.

Aku berkedut, bapak berkedut, kami semakin erat berpelukan, peluh membanjiri seluruh tubuh, jepitan kakiku di pinggang bapak, diimbangi pelukan tangan bapak di tubuhku, kami berdua sesak, kami berdua klimaks, kami berdua memejamkan mata sesaat tidak peduli dengan sekitar.

Sampai pada suatu ketika, ibu mengunjungi orang tuanya di lain propinsi, ibu berangkat dengan anaknya menggunakan kereta Api sementara bapak tidak ikut karena tidak dapat cuti. Ibu pergi sekitar lima hari. Pagi hari sesuai dengan tugasku sehari-hari, aku mengepel ruangan, sengaja kulepas bh dan celana dalamku, aku hanya mengenakan daster saja tanpa dalaman.

Kulihat kamar majikanku masih tertutup pintunya, kuketuk pintu dengan maksud ingin mengepel kamar majikanku, kemudian bapak membukakan pintu, aku masuk dan langsung mengepel, sementara bapak masuk kekamar mandi yang terletak juga di lama kamar majikanku.

Sengaja agak berlama-lama mengepel dengan maksud memancing reaksi bapak, kutarik dasterku lebih agak ke atas, sehingga kedua pahaku terlihat jelas. Pancinganku mengena, bapak keluar dari dalam kamar mandi dan mengomentariku bahwa pahaku tampak putih mulus, kubalikkan badan sengaja menghadap ke arah bapak, dengan posisiku mengepel akan terlihat jelas kedua payudaraku yang tak tertutup beha.

Bapak tersenyum menghampiriku dan berkata bila aku sengaja memancing dirinya, kubalas senyuman bapak dengan berkata memang aku sengaja, karena aku ingin disetubuhi bapak lagi. Kulihat bapak menurunkan sarungnya, yang ternyata juga tidak mengenakan celana dalam, terlihat kemaluan bapak sudah berdiri tegang.

Setelah pamit untuk mencuci tanganku, kuhampiri bapak, aku elus kemaluan itu, bapak duduk ditepi tempat tidur, sementara aku jongok di antara kedua paha bapak, perlahan tapi pasti, kemaluan bapak aku cium dan kumasukkan kedalam mulutku. Terdengar desisan bapak, sementara tangan kiriku menyentuh kemaluanku, ternyata sudah basah, terus kuelus perlahan kemaluanku.

Bapak merengkuh bahuku, menarik supaya aku berdiri, dan memposisikan aku jongkok di atas kemaluan bapak. Dengan perlahan kuturunkan pantatku dan dibantu dengan tangan bapak untuk mengarahkan kemaluannya menuju lobang kemaluanku, pertama agak susah untuk masukkan kemaluan bapak, kucoba memasukkannya sedikit demi sedikit.

Setelah posisi dan kedalaman kemaluan bapak sudah pas, mulailah kuturun-naikan pantatku, tangan bapak tidak tinggal diam, diarihnya dasterku untuk dilepas, kemudian diremas-remaslah kedua payudaraku. Lama-kelamaan aku merasakan sengatan yang luar biasa, kupercepat goyanganku, kugesek-gesek kemaluanku, dan tak lama kemudian aku tak sanggup lagi menahan kebelet pipisku,

kupeluk bapak dengan posisi masih tertancap kemaluan bapak, jebolah pertahananku, aku kebanjiran lagi. Kami bertukar posisi, aku sekarang di bawah, ditepi ranjang, sedang bapak berdiri di sisi ranjang, Sebelum bapak memasukkan kemaluannya dia bertanya kapan aku mens, kujawab kira-kira lima hari lagi aku mens.

Setelah tahu jawabanku, bapak segera mengangkat kedua kakiku dan perlahan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku, digoyangkannya pantat bapak maju-mundur, sensasi kemasukan kemaluan bapak di dalam kemaluanku terulang lagi, aku merasa terangsang lagi, kubantu dengan menggoyangkan pantatku.

Aku klimaks lagi, tetapi bapak mengajak untuk bersama-sama karena beliau juga sudah hampir. setelah beberapa saat kutahan, akhirnya jebol lagi pertahananku, kulihat hampir bersamaan pertahanan bapak juga jebol, akhirnya kami dapat mencapai klimaks secara bersamaan.

Lama posisi kemaluan bapak tertancap dalam kemaluanku, akupun tidak dapat berbuat apa-apa karena nikmat, setelah beberapa saat kami terdiam, baru dicabutlah kemaluan bapak. Kami berdua mandi bersama layaknya suami istri, aku bilang kepada bapak bila aku sayang kepadanya, dijawab dengan senyuman bapak.

Setiap hari semenjak kepergian ibu, kami selalu memadu kasih, tetapi jelas setelah bapak kembali dari kantor. Kadang di kamarku, di kamar bapak, di dapur, di ruang belakang, bahkan pernah di garasi dan di dalam mobil. Hatiku senang, tentram, hingga ibu pulang dari luar kota.

Hingga suatu malam aku tidak dapat tidur, udara sangat panas sehingga membuatku kegerahan, kucopot beha dan celana dalamku, hingga hanya memakai daster saja, kondisi seperti ini membuat aku menjadi terangsang. Kugosok-gosok kemaluanku dan kuraba-raba payudaraku sambil membayangkan kejadian-kejadian yang kulalui bersama majikan laki-lakiku.

Tiba-tiba aku mendengar suara desahan dari kamar tidur majikanku, aku keluar dan jongkok di bawah jendela mendengarkan desahan-desahan nikmat kedua majikanku, letak kamar majikanku tidak jauh dar kamarku, hanya dibatasi oleh gudang. Aku terdiam mendengarkan kegiatan di dalam kamar majikanku, kutaksir posisi ibu di atas tubuh bapak.

Suara-suara itu membuat tegang seluruh tubuhku, kuraba selangkanganku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku meremas payudaraku. Aku terhanyut, mataku terpejam membayangkan kenikmatan itu, tanpa terasa gosokan tangan kanan di kemaluanku semakin cepat, dan jari tengahku sudah masuk kedalam kehangatan kemaluanku,

terasa melayang diriku. Tak lama datanglah klimaks, posisiku sudah selonjor kenikmatan, sementara suara-suara di dalam kamar juga tambah seru, tak lama kudengar bapak dan ibu telah mencapai klimaks, kemudian hening.

Aku terhuyung kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku, nafasku masih tersenggal, sisa-sisa kenikmatan masih terasa, aku melap kemaluanku dengan celana dalamku. Setelah nafasku teratur, kurasakan hatiku sakit, cemburukah aku. dadaku bergejolak, seakan tidak rela bila kedua majikanku bersetubuh.

Perasaan ini tidak boleh jawab hati kecilku, tetapi perasaanku tidak dapat dibohongi, aku telah jatuh cinta kepada bapak majikanku. Pikiranku bergejolak, antara logika dengan perasaan, yang aku rasa tidak akan mencapai titik temu, bagaimanakah ini?

Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku, semula ibu menahan dengan menjanjikan gajiku dinaikkan, tetapi aku menolak, kukatakan bahwa aku akan mencari pengalaman di tempat lain. Malamnya bapak mengintrogasiku, menanyakan kenapa aku pindah dari keluarga itu. Aku bilang bila aku mulai menyukai dan mencintai bapak serta tidak rela bila bapak berdua sama ibu, bapak sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, kemudian ia mencium pipiku lama sekali, tak terasa menetes air mataku.

Besoknya aku pergi dari rumah itu, bapak memberiku uang tujuh kali gajiku, untuk modal katanya yang pasti tanpa sepengetahuan ibu. Sebetulnya berat hatiku meninggalkan keluarga ini, tetapi hati kecilku memberontak, terhadap orang yang aku sayangi.

Keputusanku sudah bulat, mungkin nanti suatu saat aku mendapatkan jodoh yang juga menyayangiku seperti bapak. END

Reni Dan Ayah Nya





Serbubet Namaku Reni. Usiaku hampir mendekati kepala tiga. Sudah menikah sejak lima tahun yang lalu namun belum dikarunia anak. Suamiku berusia lebih tua dariku dengan jarak yang cukup jauh. Kehidupan kami bisa dibilang bahagia, bisa juga dibilang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, antara aku dan suamiku tidak ada permasalahan yang pelik dan tidak mengancam pernikahan kami. Hanya saja dalam masalah kehidupan seksual ada sedikit permasalahan yang menurut kami berdua bukan merupakan ancaman.

Kondisi ini mungkin akibat belum adanya tanda-tanda kami akan dikaruniai seorang anak. Kami rasakan hubungan intim antara aku dan suami jadi hambar, tidak seperti tahun-tahun pertama pernikahan kami yang penuh dengan gelora, penuh dengan cinta yang membara. Dan saat ini kami melakukannya hanya sekedar kewajiban saja, tidak seperti dulu. Nampaknya kami pun tidak mempermasalahkan ini. Akhirnya kami jadi sibuk mencari kegiatan masing-masing untuk menghilangkan kejenuhan ini. Suamiku semakin giat bekerja dan usahanya semakin maju. Aku pun demikian dengan mencari kegiatan lain yang bisa menhgilangkan kejenuhanku. Kami sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga waktu untuk bermesraan semakin jarang. Namun kelihatannya kami bisa menikmati kehidupan seperti ini dan tidak mengakibatkan permasalahan yang berarti.

Keadaan ini berlangsung cukup lama hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat khabar bahwa ayahku yang berada di lain kota bermaksud datang ke tempat kami. Suamiku langsung menyatakan kegembiraannya dan tanpa menunggu persetujuanku ia mengharapkan ayahku cepat-cepat datang. Dia bilang sudah sangat rindu sekali karena bisa bertemu kembali setelah pertemuan terakhir ketika kami menikah dahulu. Demikian pula dengan ayahku, katanya kepada suamiku mengatakan bahwa ia pun sangat rindu terutama kepadaku, anaknya yang tersayang. Aku hanya bisa memandang suamiku yang tengah menerima telepon dengan perasaan gundah.

Setelah mendapat khabar itu, aku jadi sering melamun. Aku jadi gelisah menunggu kedatangan ayahku. Sebenarnya ia bukan ayah kandungku. Ia aalah ayah tiri. Ia menikahi ibuku ketika aku sudah remaja. Ketika itu ayahku masih bujangan dan usianya berbeda cukup jauh dengan ibuku. Kehidupan kami saat itu berlangsung normal. Tahun demi tahun berjalan dan akupun mulai tumbuh semakin dewasa. Permasalahan mulai muncul ketika ibuku mulai sakit-sakitan. Mungkin juga karena usia.

Di sinilah awal dari segalanya. Ayahku yang masih muda dan penuh vitalitas merasa kurang terpenuhi kebutuhannya dan mulai mencari-cari jalan keluarnya. Celakanya, yang menjadi sasaran adalah diriku sendiri. Saat itu aku masih sangat muda dan tidak mengerti apa-apa. Ayahku ini sangat pandai mengelabuiku sehingga akhirnya aku terperangkap oleh semua akal bulusnya. Aku tidak berani mengadukan hal ini kepada ibu. Takut malah akan membuatnya semakin parah. Tetapi aku pun tak bisa menjamin bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi antara ayah dengan diriku. Sampai akhirnya ibuku wafat meninggalkanku sendiri, anak semata wayangnya, untuk dititipkan pada ayah.

Sepeninggal ibu, ayah semakin menjadi-jadi. Aku tak bisa berbuat banyak karena hidupku sangat tergantung kepadanya. Beruntunglah beberapa tahun kemudian aku mendapatkan jodoh dan menikah dengan suamiku yang sekarang. Aku diboyong meninggalkan rumahku ke kota yang sangat jauh jaraknya. Itulah pengalaman yang sangat kusesalkan hingga hari ini.

“Hei, sayang!” tiba-tiba suamiku membuyarkan lamunanku.
“Kok malah ngelamun? Ayo kita berangkat sekarang, kasihan nanti ayahmu terlalu lama menunggu di stasiun kereta”, lanjutnya seraya mengambil kunci mobil untuk segera berangkat menjemput ayah.
Ketika sampai di stasiun, suamiku langsung mencari-cari ayahku sementara aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan serba tak karuan. Gelisah, khawatir serta ada sedikit rasa rindu karena sudah lama tak bertemu, bercampur menjadi satu. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Aku agak terkesima karena ternyata ayahku tak berubah banyak dari ketika kutinggalkan dahulu. Ia nampak masih muda, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu.

“Hei Reni. Apa khabar, sayangku”, sapa ayah kemudian ketika selesai berpelukan dengan suamiku.

“Ayah, apa khabar? Sehat-sehat saja khan?” balasku setengah terpaksa untuk berbasa-basi.

Ayahku mengembangkan kedua tangannya sambil menghampiriku. Aku sempat bingung menghadapinya dan dengan spontan melirik pada suamiku yang kelihatannya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menganggukan kepalanya seolah menyuruhku untuk menyambut rentangan tangan ayah.

Aku lalu menghampiri ayahku. Ia langsung menyambutnya dengan memelukku. Aku terpana dengan pelukannya yang erat dan kurasakan ayahku sesenggukan. Menangis sambil berbisik betapa rindunya ia padaku. Aku jadi tak tega dan dengan refleks, balas memeluknya sambil berkata bahwa aku baik-baik saja dan merasa rindu juga kepadanya.

Ia bersyukur bahwa masih ada orang yang merindukannya sambil terus memelukku dengan erat. Aku jadi serba salah. Pelukannya jadi lain dan bahkan aku merasa tubuhnya sengaja didesakan padaku. Aku berusaha untuk mendorongnya secara halus dan jangan sampai hal ini diketahui suamiku. Ayahku masih juga genit! Ia sengaja menggesek-gesekan tubuhnya padaku! Dasar lelaki celamitan, runtukku dalam hati.

“Ayo kita ke rumah”, kata suamiku kemudian. Aku bersyukur bisa terlepas dari pelukannya dan buru-buru menjauh.

Aku lalu dengan sengaja memamerkan kemesraan dihadapan ayahku dengan memeluk pinggang suamiku sambil menyandarkan kepala di dadanya. Suamiku balas memeluk sambil berjalan menuju tempat parkir sementara ayahku hanya tersenyum melihat semua ini. Aku tak tahu apa arti senyum itu. Aku hanya ingin memperlihatkan semua ini kepadanya. Aku juga tak tahu apakah aku ingin membuatnya cemburu atau apa?

Sejak adanya ayah di rumah, memang ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayahku memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Termasuk suamiku. Ia begitu senang dengan kehadirannya. Ia jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Dan yang lebih menggembirakan lagi, suamiku jadi lebih mesra kepadaku. Ia jadi sering mengajakku berhubungan intim. Aku turut gembira dengan perubahan ini. Tadinya aku sempat khawatir akan kehadiran ayah yang akan membuat masalah baru. Tetapi ternyata tidak. Justru sebaliknya!

Namun dibalik itu aku agak was-was juga karena kemesraan suamiku ternyata atas saran ayahku. Katanya ia banyak memberi nasihat bagaimana cara membahagiakan seorang istri. Hah? Aku terperanjat mendengar ini. Jangan-jangan..? Akh.., aku tak mau berpikir sejauh itu. Rasa kekhawatiranku ternyata beralasan juga. Karena seringkali secara diam-diam, ayah menatapku. Dari tatapannya aku sudah bisa menduga. Ia sudah mulai berani menggodaku meski hanya berupa senyuman ataupun kerlingan nakal. Aku tak pernah melayaninya. Aku tak mau suamiku tahu akan hal ini.

Kekhawatiran berkembang menjadi rasa takut. Malam itu suamiku memberitahu bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya selama beberapa hari. Aku terkejut dan berupaya mencegahnya agar jangan pergi.

“Memangnya kenapa? Toh biasanya juga aku suka keluar kota untuk bisnis, bukan untuk main-main”, katanya kemudian.

“Bukan itu. Aku masih kangen sama kamu”, jawabku mencari alasan.

“Aku cuma tiga hari. Mungkin kalau bisa cepet selesai, bisa dua hari aku sudah kembali”, kata suamiku lagi.

“Kamu di sini kan ada ayah, juga Si Inah. Jadi tak perlu takut ditinggal sendiri.”

Justru itu yang kutakutkan, kataku tetapi hanya dalam hati. Aku tak bisa mencari alasn lain lagi karena khawatir justru dia malah curiga dan semuanya jadi ketahuan. Akhirnya aku hanya bisa mengiyakan dan berpesan agar dia cepat-cepat pulang.

Hari pertama kepergian suamiku ke luar kota tak ada peristiwa yang mengkhawatirkan meski ayahku lebih berani menggoda. Ada saja alasannya agar aku bisa berdekatan dengannya. Bikinkan kopi lah, ambilkan Koran lah dan entah apa lagi alasannya. Ia mencoba menggoda dengan memegang tanganku pada saat memberikan Koran padanya. Buru-buru kutarik tanganku dan pergi ke kamar meninggalkannya.

Aku jadi semakin hati-hati terhadapnya. Pintu kamar selalu kukunci dari dalam. Tetapi masih saja aku kecolongan sampai suatu ketika terulang kembali perisitiwa masa lalu yang sering kusesalkan. Sore itu aku habis senam seperti biasanya sekali dalam seminggu. Setelah mandi aku langsung makan untuk kemudian istirahat di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan langsung tertidur. Celakanya, aku lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi berangsur hilang. Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan.

Dalam tidurku, aku mengira ini perbuatan suamiku yang memang akhir-akhir ini suka mencumbuku di kala tidur. Namun begitu ingat bahwa ia masih di luar kota, aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat ayah sambil tersenyum tengah menciumi betisku, sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus.

“Ayah! Ngapain ke sini?” bentakku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku.

“Reni, maafkan ayah. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang”, ia malah berkata seperti itu bukannya malu didamprat olehku.

“Ayah nggak boleh. Keluar, saya mohon”, pintaku menghiba karena kulihat tatapan mata ayah demikian liar menggerayang ke sekujur tubuhku.

Aku buru-buru menurunkan daster menutupi pahaku. Aku beringsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Ayah kembali menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan.

“Kamu tidak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, kita khan pernah melakukannya”, desaknya.

“Jangan bicarakan masa lalu. Aku sudah melupakannya dan tak akan pernah mengulanginya”, jawabku dengan marah karena diingatkan perisitiwa yang paling kusesali.

“OK. Ayah nggak akan cerita itu lagi. Tapi kasihanilah ayahmu ini. Sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakannya lagi”, lanjutnya kemudian.

Ayah lalu bercerita bahw ia tak pernah berhubungan dengan wanita lain selain ibu dan diriku. Dia tak pernah merasa tertarik selain dengan kami. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia memang pandai sekali membuat wanita tersanjung. Dan entah kenapa akupun merasakan hal seperti itu. Ketika kutatap wajahnya, aku jadi trenyuh dan berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat ayah yang kelihatan sudah menggebu-gebu. Aku tahu persis ayah akan berbuat apapun bila sudah dalam keadaan seperti ini. Akhirnya aku mengalah dan mau mengocok batangnya agar ia bisa tenang kembali.

“Baiklah..”, kata ayahku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya.

Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku agak terkesima juga melihat batang ayah yang masih gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi.

Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun juga baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku meski dulu pernah merasakannya juga. Tapi itu dulu sekali. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar ayah melenguh seraya menyebut namaku. Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah ayah meringis menahan remasan lembut tangannku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar ayah kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu ayah sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Selesai sudah, pikirku mulai tenang.

Dua menit, tiga sampai lima menit berikutnya ayah masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan ayah menggerayang ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam.

“Biar cepet keluar..”, kata ayah memberi alasan.

Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Ayah tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut mulai meremas-remas payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang setiap akan tidur, jadi remasan tangan ayah langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan atas remasan ini. Apalagi tanganku menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai ayah tidak akan berbuat lebih jauh lagi seperti dulu.

“Reni sayang.., buka ya? Sedikit aja..”, pinta ayah kemudian.

“Jangan Yah. Tadi khan sudah janji nggak akan macam-macam..”, ujarku mengingatkan.

“Sedikit aja. Ya?” desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka.

Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas ayahku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang.

“Oh.., Reni kamu benar-benar cantik sekali”, pujinya sambil memilin-milin puting susuku.

Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukan batang ayah ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak memperdulikan perbuatan ayah pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan bibirnya mulai menciumi buah dadaku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai ayahku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku.

Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari ayahku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan ayahku? Apa ia memakai obat kuat?

Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan ayah padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika ayah berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan.

Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Ayah dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan ayahku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku.

Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah ayah. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan masih kenyal.

Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau ayah memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut ayah benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat.

“Auugghh..!” aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.

Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol ayah yang berada dalam genggamanku masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat ayah mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini.

“Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh lebih berisi.., mmpphh..”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya.

Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang ‘bahenol’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat, kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat.

Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kontolnya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya.

Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.

“Yah..?” panggilku menghiba.

Apa sayang”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.
“Cepetan..”
“Sabar sayang. Kamu ingin ayah berbuat apa?” tanyanya pura-pura tak mengerti.
Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun ayah sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.
“Reni ingin ayah segera masukin..”, kataku akhirnya dengan terpaksa.
Aku sebenarnya sangat malu mengatkan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!?
“Apanya yang dimasukin”, tanyanya lagi seperti mengejek.
“Akh ayah. Jangan siksa Reni..!”
“Ayah tidak bermaksud menyiksa kamu sayang.”
“Oohh.., ayah. Reni ingin masukin kontol ayah ke dalam memek Reni..uuggh..”, aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu.
Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera.
“Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya”, kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku.
“Uugghh..”, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu.
Aku menunggu cukup lama gerakan kontol ayah memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol ayah keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya.
Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.
“Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..”, aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.
Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami.
Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya.
Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu.
“Ayah.., oohh.., Yaahh..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.
“Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami”, bisik ayah dengan mesranya.
“Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis.
Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri, meski ayah tiri tetapi sudah seperti ayah kandungku sendiri. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Ayah terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis.
“Reni sayang, kenapa menangis?” bisiknya buru-buru.
“Maafkan ayah kalau telah membuatmu menderita..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya.
“Ayah tidak salah. Reni yang salah..”, kataku kemudian.
“Tidak sayang. Ayah yang salah”, katanya besikeras.
“Kita, Yah. Kita sama-sama salah”, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.
“Terima kasih sayang”, kata ayahku seraya menciumi wajah dan bibirku.
Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa diriku menjadi antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh ayah tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke kampungnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya.
Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.
“Akh sayang!” pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku.
Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri!
“Ouugghh.. Renii.., luar biasa!” jerit ayah merasakan hebatnya permainanku.
Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi puting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat.
Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini.
Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.
“Eerrgghh.. oouugghh..!” ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar.
Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayahku.
Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.
“Oohh.. ayaahh.., nikmaatthh!” jeritku tak tertahankan.
Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya.
Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, tetapi aku terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan ayahku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di malam ini di kemudian hari.

TAMAT

Kamis, 10 Agustus 2017

Obsesi Gila Ku Terhadap Anak Ku





Serbubet Namaku Rina. Aku sudah menikah dan memiliki seorang putri tunggal, Fara namanya. Umurnya kini sudah 14 tahun dan duduk di kelas 2 SMP. Usianya yang sudah beranjak remaja telah membuat dirinya tampak menarik. Wajahnya yang cantik dan imut menjadi nilai lebih darinya. Umurku sendiri baru 35 tahun, sedangkan suamiku, Mas Alan, 38 tahun.

Ada sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam ingatanku. Waktu kecil dulu aku pernah diam-diam melihat ibuku dientot oleh kakekku, ayah kandung ibuku sendiri. Aku tidak tahu apa yang membuat ibu dan kakek melakukan hubungan seperti itu, aku yang juga tidak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih diam. Namun ternyata kejadian itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Kakekku dulu memang tinggal bersama dengan kami sehingga memungkinkan mereka berbuat seperti itu berulang-ulang di saat ayahku tidak di rumah.

Kini saat sudah memiliki putri, aku sering membayangkan kalau suamiku bersetubuh dengan anak gadis kami. Membayangkan bagaimana suamiku menggenjot anak gadisnya sendiri sampai anak gadis kami ini hamil olehnya. Tentu saja itu merupakan khayalan gila dari seorang ibu terhadap anak dan suaminya sendiri. Bagaimana bisa seorang ibu punya pikiran semacam itu!? Namun hal tersebut sangat membangkitkan gairahku. Bahkan aku sering bermasturbasi karena tidak tahan dengan khayalan gilaku ini.

Saat aku berhubungan badan dengan suamiku, aku juga menganggap kalau aku ini adalah Fara, anak gadisnya. Hal itu membuatku orgasme lebih cepat. Selain itu, saat aku pergi ke pasar dan meninggalkan mereka berdua di rumah, aku juga sering membayangkan kalau mereka bersetubuh di belakangku selama aku pergi. Aku jadi berdebar-debar sendiri selama di pasar karena memikirkannya.

Seiring waktu, hanya dengan membayangkan tidak cukup lagi bagiku. Kini aku betul-betul berharap mereka berzinah, melakukan hubungan badan sedarah antara seorang ayah dan anak gadisnya. Akupun berusaha menciptakan situasi-situasi agar suami dan anakku menjadi tertarik satu sama lain. Aku sampai membelikan putriku pakaian-pakaian yang seksi, lalu mengajarinya cara berpakaian yang membuat lekuk tubuhnya tercetak. Tanktop dan celana pendekpun menjadi pakaiannya sehari-hari bila di rumah. Fara tidak masalah dengan cara berpakaian yang ku ajarkan, malah dia sangat menyukainya.

Sebenarnya sering suamiku memprotes cara berpakaian putri kami. Tapi tentu saja aku membela Fara.

Memangnya kenapa sih Pa? kan cuma di rumah saja. Lagian cuma Papa sendiri laki-laki di sini ujarku.
Iya sih
Kalau gitu ya gak apa-apa dong P
Tapi kan.. Ya sudah lah kata suamiku akhirnya mengalah. Maka bebaslah Fara berpakaian seperti itu di hadapan ayahnya.

Mungkin kalau pria lain yang melihat keadaan putri kami, pria itu sudah pasti akan sangat bernafsu. Bagaimana tidak? Seorang gadis cantik yang sedang segar-segarnya tampil dengan pakaian yang menggemaskan dan membangkitkan birahi, yang mana ibunya sendiri yang mengajarkan cara berpakaiannya itu. Itupun sebenarnya cukup sering terjadi, karena teman-teman suamiku sering mampir ke rumah, begitupun bapak-bapak tetangga sebelah. Aku seorang ibu yang sedang mengajarkan putrinya menjadi seorang eksibisonis!!

Fara (ilustrasi)

Wah, Fara udah gede yah cantik lagi Itu yang selalu mereka katakan bila melihat putriku di rumah. Aku lihat mata mereka selalu melirik ke tubuh putri kami. Rasanya sungguh aneh saat anak gadisku dipelototin begitu, antara marah dan bangga karena putriku banyak yang menyukai.

Dengan keadaan Fara yang berpakaian seperti itu, aku jadi lebih sering meninggalkan suami dan putri kami berdua menonton tv, atau menyuruh suamiku membantu Fara mengerjakan PR-nya di dalam kamarnya Fara. Saat mereka berduaan, akupun diam-diam memperhatikan dari jauh. Aku ingin tahu apakah suamiku mencuri-curi pandang ke arah anaknya. Tapi ternyata tidak. Meskipun ada sesekali melirik ke anaknya, tapi yang ku lihat masih pandangan tanpa nafsu. Tidak lebih dari seorang ayah yang sedang membantu putrinya. Namun ini tidak membuatku menyerah.

Malam ini kami sedang duduk bersama menonton acara televisi. Sebenarnya ini adalah keadaan dan suasana yang biasa, hanya pikiranku saja yang tidak beres.

Sayang, ayo sini mama pangku kataku mulai melancarkan aksiku. Fara saat itu masih tetap setia mengenakan tanktop dan celana pendek sepaha bila sedang di rumah.
Ihh mama. Fara kan udah gede. Masa masih dipangku!?
Hihihi, udah gede apanya? udah gede apanya ayo kataku sambil menarik Fara, memeluknya lalu mengangkatnya ke pangkuanku sambil ku gelitiki.

Hahaha geli mah, ampun.
Ininya yah yang udah gede? tanyaku sambil menyentil buah dadanya yang hanya ditutupi tanktop.
Mama!! Geli!!
Bercanda seperti inipun memang sudah sering kami lakukan. Saling menggelitik dan bermain-main saat bersama-sama duduk menonton tv. Tapi kini aku mempunyai tujuan lain, yaitu sengaja membuat suamiku jadi terangsang dan bernafsu pada anaknya sendiri.

Hihihi, Pa, lihat nih anakmu udah gede ujarku memanggil Mas Alan. Kaki Fara ku buat jadi membuka lebar saat itu. Aku ingin suamiku melihat betapa putrinya kini sudah menjadi seorang gadis yang cantik dan menggairahkan. Membuat suamiku jadi berpikiran kotor pada anak gadisnya sendiri. Mas Alan memang melirik ke arah kami, tapi dapat ku baca dari wajahnya kalau yang dimaksud ÔÇÿgedeolehnya hanyalah umur putrinya yang sudah semakin bertambah, bukan ukuran-ukuran kewanitaan seperti buah dada, pinggul dan lekuk tubuh putrinya.

Ayo sayang , minta pangku juga sama papa kamu sana suruhku pada Fara.
Pa pangkuin Fara dong minta Fara manja.
Iya-iya sini kata mas Alan sambil membiarkan Fara duduk di pangkuannya. Mereka kini sama-sama menghadap ke arah tv. Suamiku tampak biasa-biasa saja, tidak terlihat tanda-tanda nafsu meskipun saat ini ada seorang gadis cantik yang sedang duduk di pangkuannya. Padahal aku berharap kalau suamiku ereksi, sehingga penis tegangnya akan mengganjal pantat anak gadis kami.

Duh, iya nih kamu sudah gede. Berat amat sekarang ujar mas Alan sambil mengusap-ngusap rambut Fara.
Biarin week. Nih rasain!! Fara lalu mengangkat sedikit pinggulnya, lalu menurunkannya lagi tiba-tiba ke bawah. Seakan menunjukkan kalau dia memang sudah lebih berat sekarang karena semakin dewasa. Namun yang ada itu malah membuat penis suamiku tertekan pantat putrinya.

Duh, kamu ini gerutu suamiku. Namun tetap membiarkan Fara terus di pangkuannya. Fara tampak nyaman sekali dipangku ayahnya, mereka begitu mesra. Merekapun terus menonton tv dengan posisi berduaan begitu, dan aku terus hanya memperhatikan.

Semakin lama, ku lihat sesekali pantat putriku ini bergeser-geser kesana-kemari di pangkuan suamiku. Apa suamiku sedang ereksi? Sehingga membuat Fara merasa tidak nyaman karena pantatnya terganjal? Kalau benar, apa putriku ini tahu kalau penis tegang ayahnyalah yang sedang mengganjal pantatnya saat ini? Oh tuhan Aku jadi berdebar-debar memikirkannya.

Aku lalu bangkit dari tempat dudukku. Aku ingin meninggalkan mereka berdua lagi kali ini.

Mau kemana ma? tanya suamiku.
Mau ke kamar, sudah ngantuk jawabku sekenanya, karena tujuanku sebenarnya hanyalah ingin membiarkan mereka berduaan.

Kamu mau tidur juga sayang? tanyanya kini pada Fara.
Belum ngaktuk Pa jawab Fara cuek sambil tetap asik menonton tv.
Ya sudah

Akupun masuk ke kamar dan membiarkan suami dan anakku berduaan di sana. Dari dalam kamar aku mencoba mengintip mereka, tapi tidak ada gerakan ataupun obrolan yang aneh-aneh meski posisi mereka tetap tidak berubah. Akupun memutuskan untuk berbaring di ranjang. Tapi tanpa sadar aku benar-benar tertidur!!

Saat aku terbangun esok paginya dadaku begitu berdebar-debar. Entah apa yang sudah ku lewatkan tadi malam. Apa mereka melakukan sesuatu selagi aku tidur? Atau bahkan suamiku dan putri kami sudah bersenggama? Pikiran-pikiran itu terus melintas di kepalaku. Perasaanku semakin tidak karuan karena aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, meskipun belum tentu semua yang ku pikirkan tadi benar-benar terjadi. Tapi sensasi membayangkan kalau mereka bermain diam-diam dibelakangku ini sungguh mengaduk-aduk perasaanku, dan aku berharap mereka benar-benar telah melakukannya.

~~

Akupun melanjutkan terus aksiku. Ketika itu dengan nada bercanda aku menyuruh Mas Alan untuk memandikan Fara, tapi tentu saja baik Fara maupun suamiku menolaknya.

Gak mau ah, Fara kan udah gede, masa dimandikan Papa jawab Fara.
Iya nih, mama ada-ada aja kata suamiku ikut-ikutan.
Hihihi Kalau mama yang mandikan Fara, mau? tanyaku lagi.
Gak mau juga!!

Namun akhirnya Fara mau juga mandi denganku. Dia benar-benar sudah menjadi seorang gadis muda yang cantik. Tanda-tanda kewanitaannya benar-benar sedang tumbuh dengan baik. Pastinya akan membuat nafsu para lelaki bila melihat dia telanjang dan basah-basahan seperti sekarang ini. Aku ingin ayahnya juga melihatnya dengan pandangan nafsu.

Waktu aku ingin menyabuni badan, ku temukan botol sabun sudah mau habis. Ini kesempatanku!!

Sayang, sabunnya habis nih. Kamu ambilin gih ke belakang suruhku pada Fara.
Kok Fara sih ma?
Iya dong, masa mama yang ambil. Sana
Iya

Fara lalu melilitkan handuk ke tubuhnya, tapi ku cegah. Aku ingin memamerkan tubuh indah Fara kepada ayahnya saat ini. Tanpa banyak tanya Farapun menuruti. Aku memanfaatkan sifatnya yang masih polos dan belum mengerti betapa pentingnya menutupi bagian-bagian kewanitaaannya itu. Jadilah dia bertelanjang bulat dari kamar mandi ke dapur.

Pintu kamar mandi ku buka sedikit agar aku dapat mendengar apa yang akan terjadi. Dari sini aku memang tidak bisa melihat apa yang terjadi, namun aku masih bisa mendengar dengan jelas. Ku dengar suamiku terkejut dan menegur Fara kenapa keluyuran telanjang begitu di dalam rumah. Dijawab Fara kalau ingin mengambil sabun.

Sabunnya dimana Pa? gak ketemu nih
Bentar papa ambilkan

Tidak terdengar suara sama sekali selama beberapa saat kemudian. Dadaku berdebar memikirkan suamiku sedang bersama putri kami yang bertelanjang bulat!! Pastinya jarak antara ayah dan anak itu sangat dekat. Aku tidak tahu apa suamiku terangsang saat ini. Namun yang pasti, akulah yang terangsang berat karena memikirkan hal tersebut.

Makasih Pa
Iya, sana cepat ke kamar mandi. Nanti malah masuk angin lama-lama telanjang di luar
Iya Pa

Tidak lama kemudian Fara masuk kembali ke kamar mandi.
Mama lagi ngapaiiiin!??
Eh, n-nggak lagi ngapa-ngapain jawabku tergagap. Aku kedapatan olehnya sedang masturbasi menyemprotkan shower ke vaginaku!! Untung kemudian bisa ku jelaskan kalau aku sedang membersihkan bagian tersebut. Kamipun mandi seperti biasa selanjutnya.

Handuk yang kami bawa saat itu cuma satu, jadi kami pakai berdua bergantian setelah selesai mandi. Tentu aku yang mengenakan handuk itu, sedangkan Fara ku suruh bertelanjang menuju ke kamarnya. Sekali lagi ketelanjangannya di lihat oleh ayahnya.

~~

Malam harinya aku mengajak Fara tidur bersama di kamar kami. Tentunya ini juga bagian dari rencanaku yang lain. Suamiku awalnya menolak karena harus berbagi ranjang dengan Fara, mungkin karena anak perempuannya itu sudah besar. Tapi setelah ku bujuk terus akhirnya dia mau juga.

Kamu suka sayang kita tidur sama-sama kayak dulu lagi? tanyaku pada Fara.
Suka ma, udah lama nggak

Sebelum tidur kami menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol tentang sekolahnya, teman-temannya, rencana liburan, hadiah ulang tahunnya yang akan datang dan lain-lain. Posisi Fara berada di tengah-tengah diapit oleh kami berdua.

Menurut kamu Papa orangnya gimana sayang? tanyaku kini mencoba membahas tentang ayahnya.
Baik, gak pemarah
Kamu sayang tidak sama Papa?

Iya, Fara sayang banget sama Papa
Cuma sayang saja? Tidak cinta? tanyaku lagi.
Iya, Fara juga cinta Papa jawab Fara polos. Tentu saja cinta yang dimaksud Fara bukanlah seperti perasaan cinta kepada kekasih, namun hanya perasaan cinta dari seorang anak kepada orangtuanya.

Tuh Pa, anak kamu saja cinta sama kamu, masa kamu enggak? hihihi tanyaku kini pada mas Alan. Aku ingin tahu bagaimana responnya.
Ihh Papa gak cinta yah sama Fara? rengek Fara manja.

Ah, gara-gara kamu ini Ma. Iya sayaaang Papa juga cinta kok sama kamu ucap suamiku yang disambut tawa renyah Fara. Mendengar hal ini membuatku semakin bersemangat. Ku dekati Fara dan ku bisikkan sesuatu padanya.

Pa, kalau Papa cinta sama Fara, cium Fara dong P kata Fara kemudian. Ia menuruti apa yang ku bisikkan padanya barusan. Mas Alan yang mendengar permintaan Fara itu dibuat terkejut, diapun melotot kepadaku karena sudah mengatakan yang tidak-tidak pada putri kami. Aku hanya tertawa kecil saja.

Iya, sini sayang ucap Mas Alan mau juga akhirnya,
Cup
Yang kanan juga Pa pinta Fara lagi.
Iya-iya saat mencium pipi kanan, suamiku sedikit menghimpit Fara karena putrinya itu berada di sisi kirinya.

Fara juga cium dong Papanya suruhku lagi, Fara pun melakukannya. Dia kini gantian menciumi pipi Papanya. Darahku berdesir melihat pemandangan cium-ciuman ini. Adegan cium-ciuman antara ayah dan putrinya. Walau sebenarnya hal ini tidak asing, namun baru kali ini mereka saling mencium berkali-kali, bahkan melakukannya di atas ranjang.

Saat putri kami sudah tidur, akupun melanjutkan aksiku untuk merangsang suamiku. Aku bermasturbasi di sebelah Fara. Suamiku tentunya terkejut melihat aksiku karena ada Fara di dekat kami, aku senyum-senyum saja. Ku katakan kalau aku sedang kepengen. Tentu saja suamiku menolaknya, mana mungkin kami ngentot saat Fara ada di tengah-tengah kami. Akhirnya aku setuju untuk hanya saling bermasturbasi. Dia memainkan vaginaku dan aku mengocok penisnya.

Saat mengocoknya, sering aku menyentuhkan penisnya ke paha putri kami. Tentunya aku pura-pura tidak sengaja saat melakukannya.

Ma hati-hati dong
Kenapa Pa? geli yah kena paha Fara? Hihihi
Bukan gitu Nanti kalau dia bangun gimana coba?
Iya deh sorry kataku sambil tersenyum. Ku lanjutkan terus kocokanku sampai akhirnya dia muncrat, tapi sengaja ku arahkan ke selangakangan putri kami. Jadilah celana pendek serta paha Fara berceceran sperma ayah kandungnya.

Duh Ma kena Fara nih Makanya aku bilang hati-hati!! ujar suamiku berbisik keras.
Wah Gak sengaja Pa. Papa yang bersihkan yah, aku mau ke wc dulu
Lho? Kok aku sih ma yang ngebersihin? tanya suamiku jengkel, namun aku terus saja memalingkan tubuhku berjalan ke wc.

Saat aku sudah keluar dari kamar, aku mengintip apa yang akan dilakukan suamiku. Dia tampak kerepotan membersihkan ceceran spermanya yang ada di sekitar selangkangan anak gadisnya. Sayangnya dia hanya sekedar membersihkan, tidak berperilaku aneh.

~~

Malam itu baru permulaan, karena setelah itu semakin sering ku ajak Fara tidur bareng dengan kami. Fara sepertinya amat senang bisa tidur bersama-sama dan sepertinya dia ketagihan, dia bahkan tidak mau lagi tidur di kamarnya. Bagiku ini pertanda bagus untuk mewujudkan khayalanku.

Sama seperti malam itu, aku dan suamiku juga terus saling membantu bermasturbasi walau ada Fara di tengah-tengah kami. Sehingga makin seringlah Fara terkena semprotan peju ayahnya karena selalu sengaja ku tembakkan ke arah selangkangannya. Kadang tidak hanya paha dan celana pendeknya saja yang kena, namun juga tangan dan bajunya. Bahkan pernah suamiku menyemprot sangat kencang hingga ada yang mengenai wajah putri kami. Dan lagi-lagi, suamikulah yang ku suruh membersihkan ceceran spermanya itu. Mas Alan sepertinya sudah tidak keberatan lagi dengan kehadiran Fara di tempat tidur. Spermanya yang berceceran di tubuh putrinya tidak menjadi masalah lagi baginya.

Entah ada hubungannya atau tidak. Suamiku jadi lebih sering meminta ML. Apa ini sebagai pelampiasan nafsunya yang tak tersalurkan pada putrinya? Aku harap iya. Tentunya dia memintanya saat siang hari karena kalau malam ada Fara di tempat tidur kami. Walaupun sering aku mencoba mengajaknya ngentot setelah putri kami tidur, namun dia tetap menolaknya.

Sering saat kami ngeseks di kamar waktu siang hari, pintu kamar ku buat agak terbuka. Padahal ada Fara di rumah saat itu. Ya aku sengaja membukanya sedikit dan berharap putri kami melihat apa yang sedang ku buat dengan ayahnya. Dan itu benar terjadi!! Sering aku melihat kalau putriku sedang mengintip kami bersenggama. Aku penasaran apa yang ada dipikiran putri kami saat itu.

Aku kini berpikir untuk tidak memberi jatah lagi pada suamiku. Saat suamiku kepengen, akupun menolaknya dengan berbagai macam alasan seperti sedang capek, sibuk dan sebagainya. Namun malamnya aku tetap membantu mengocok penisnya di samping anakku seperti biasa. Karena memang ini tujuanku, aku tidak ingin melayani suamiku agar malamnya dia melampiaskan nafsunya di samping putri kami.

Ma, kita ML yuk pinta suamiku malam itu, akhirnya kini dia meminta ngeseks walau ada Fara yang sedang tidur di antara kami. Tapi aku sudah punya rencana lain. Aku tetap tidak akan memberinya jatah lagi.

Capek P jawabku pura-pura lemas.
Ayo lah Ma Papa lagi kepengen nih
Mama kocokin aja yah tawarku.

Ya sudah Ma
Dia lalu bangkit dan berlutut, sedangkan aku masih tetap berbaring sambil mengocok penisnya. Namun posisi Fara masih ada di antara kami.

Fara cantik yah Pa? tanyaku memancing sambil tetap mengocok penis suamiku.
Iya, sama kayak mamanya aku tersenyum.
Anak gadis Papa ini udah makin gede aja lihat nih kulit putihnya lembut, mulus dan licin ujarku sambil menampar-nampar penis suamiku ke tangan anak kami. Suamiku hanya diam saja!! biasanya dia pasti protes!! namun kali ini tidak berkata apa-apa!!

Enak yah Pa? tanyaku. Tentu saja yang ku maksud enak atau tidak waktu penisnya bersentuhan dengan kulit putri kami.
Ngghh Enak m

Geser dikit Pa, biar lebih enak mama ngocokinnya pintaku. Diapun menggeser tubuhnya ke atas sehingga kini penis tegangnya tepat mengarah ke wajah Fara. Posisinya seperti akan men-cumshoot putri kami !!

Ku melirik ke arah suamiku, dia ternyata memang sedang menatap wajah putri kami sambil penisnya tetap ku kocok. Aku harap dia memang sedang berpikiran kotor terhadap Fara.

Setelah sekian lama ku kocok, akhirnya dia muncrat juga. Anehnya dia tidak berusaha mengarahkan muncratannya ke tempat lain. Jadilah wajah putri kami berlumuran sperma kental suamiku. Pemandangan ini membuatku bergidik. Fara yang sedang tidur baru saja disemprotin peju, dan pelakunya adalah ayah kandungnya!! Sungguh banyak, kental dan menggumpal di wajah cantiknya.

Ihh.. Pa, kok muncratnya ke wajah Fara sih? banyak banget lagi udah gak tahan yah? godaku.
I-iya Ma kocokan mama enak banget jawabnya.

Kocokanku yang enak atau kamu yang nafsu sama putrimu? Sampai-sampai muka putrimu sendiri dipejuin gitu, ujarku dalam hati.

Tampak Fara sedikit menggeliatkan badannya, mungkin tidurnya terganggu karena ada sesuatu yang mengenai mukanya.

Cup cup cup Fara sayang tidur tidur kataku berbisik sambil mengusap-ngusap bahunya agar dia tertidur lagi.

Tuh Papa untung Faranya gak kebangun. Ya sudah, mama tidur duluan yah Pa. Gak pengen nambah lagi kan ngepejuin muka Fara nya? kataku menggoda suamiku.
Apaan sih kamu ma? Aku kan gak sengaja nyemprot di muka Fara katanya beralasan.

Ya sudah, buruan bersihin gih, ntar dia beneran bangun. Kan gak lucu pas dia bangun nemuin peju di mukanya, peju papanya pula, hihihi

Baru saja ku berbicara begitu, Fara kembali menggeliat. Tangan Fara tampak mengusap wajahnya sendiri. Mungkin dia berpikir kalau ada nyamuk di wajahnya, padahal itu sperma ayah kandungnya.

Cup cup cup tidur sayang. Kataku lagi buru-buru mengusap bahu Fara biar dia lelap lagi.
Kalau gak bobo ntar kena pejuin Papa lagi lho hihihi kataku lagi.

Ma!! Kamu ini, masa ngomongnya begitu!! katanya, aku hanya senyum-senyum saja, lalu merebahkan badanku pura-pura tidur, membiarkan suamiku sibuk membersihkan ceceran peju di wajah putrinya itu.

~~

Ma kocokin lagi dong

Malam esoknya juga demikan, dia meminta untuk dikocokin lagi olehku setelah aku tidak menyetujui menerima ajakan ngentotnya. Tapi kali ini aku tidak ingin membantunya. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan olehnya bila tidak ku bantu menuntaskan nafsunya itu. Aku berharap dia khilaf karena tidak tahan menahan nafsu hingga mencabuli putri kandungnya sendiri.

Mama ngantuk banget pa, badan mama rasanya juga gak enak. Papa ngocok sendiri aja yah
Yah Kok gitu sih Ma?

Aku tidak menjawab dan berpura-pura tidur setelahnya. Posisi tidurku menghadap ke arah suami dan putri kami. Dengan sedikit membuka kelopak mata, akupun mengintip bagaimana suamiku menuntaskan nafsunya. Akhirnya dia tetap juga mengocok penisnya di sana, di samping Fara.

Entah dia sengaja atau tidak, dia sangat sering menempelkan penisnya ke paha putri kami. Dan astaga!! dia lalu bangkit dan menempelkan tubuhnya ke Fara, membuat batang penisnya jadi terselip di antara kedua paha anak gadis kami ini. Dia tampak ragu apa yang akan dilakukannya selanjutnya, diapun melirik ke arahku berkali-kali. Sepertinya ingin memastikan kalu aku sudah tertidur.

Suamiku melanjutkan aksinya lagi, sepertinya nafsunya yang sudah diubun-ubun tidak memikirkan lagi kalau gadis muda yang sedang ditindihnya itu adalah anak kandungnya sendiri. Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia tampak sedang menggesek-gesekkan penisnya keluar masuk di sela-sela paha Fara.

Nggggghh Faraaa erang suamiku sambil menyebut nama putri kami!!

Tidak lama kemudian tubuh suamiku mengejang. Dia klimaks!! Suamiku menumpahkan lagi pejunya ke tubuh putrinya, ke sekitaran selangkangan Fara. Bedanya kali ini bukan aku yang mengarahkannya, namun dia sendiri yang melakukannya dengan sengaja!! Jantungku berdegub kencang. Oh tuhan ini hampir mewujudkan khayalanku. Sedikit lagi tinggal sedikit lagi lalu mereka akan bersetubuh. Sebuah persetubuhan sedarah antara seorang ayah dan anak gadisnya. Antara suami dan putriku.

Sejak kejadian malam itu, aku terus berpura-pura malas untuk melayani suamiku. Sehingga membuat suamiku akan terus mengulangi perbuatannya mengocok sebelum tidur di samping Fara, hingga akhirnya memuncratkan spermanya dengan sengaja ke arah putrinya ini. Baik paha, tangan maupun wajah Fara selalu menjadi sasaran tembak sperma ayah kandungnya. Melihat putri kami terkena ceceran sperma ayahnya betul-betul membuatku horni.

Aku juga makin sering mandi bersama Fara saat ada ayahnya di rumah. Tentu saja setelah itu Fara ku suruh ke kamarnya dengan bertelanjang bulat. Suamiku yang sudah hampir dua minggu tidak ku layani, ku cekoki dengan pemandangan bugil putri kandungnya sesering mungkin. Teruslah lihat tubuh putrimu ini suamiku sayang, membuatmu nafsu bukan?

Entah mungkin karena jarang ku layani, suamiku kini kelihatan jadi lebih sering memanjakan putrinya. Fara juga sepertinya semakin nempel pada suamiku. Ia sekarang jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya dibanding denganku. Bahkan saat ada teman-teman ayahnya, Fara tetap saja berpangku-pangku dan bermanjaan pada ayahnya. Tentunya merupakan pemandangan yang ganjil bagi mereka melihat gadis muda cantik dengan pakaian minim bergelayutan manja di pangkuan pria dewasa, meskipun itu adalah ayahnya sendri. Siang dimanjain, malamnya Fara dipejuin. Begitu terus setiap hari.

Pa, tadi malam onani lagi?
Iya mah, mama sih gak mau bantuin
Mama kan beneran capek Pa Terus peju papa gimana? Kena Fara lagi dong?
Ya gak sengaja kena Fara ny jawabnya berbohong, padahal jelas-jelas yang ku lihat dia sengaja menyemprotkannya ke tubuh putrinya.

Soalnya Fara suka ngeluh tuh ke aku, katanya badannya sering terasa lengket waktu bangun

Oh gitu yah Ma, maaf deh. Papa bakal hati-hati jawabnya. Dia mengatakan akan hati-hati? Seharusnya dia tidak onani lagi dan memaksaku untuk melayaninya, tapi ternyata tidak. Berarti dia memang ingin terus mengulangi perbuatannya untuk terus mengocok di samping putri kami. Benar saja, dia tetap terus mengulanginya. Meskipun dia berkata akan hati-hati tapi dia tetap sengaja menumpahkan pejunya ke tubuh Fara. Aku yakin kalau suamiku sudah tertarik pada putri kandungnya sendiri.

Hingga akhirnya malam itu yang suamiku takuti terjadi juga. Fara terbangun sesaat setelah wajahnya disemprotin peju.

Nghhh Paaaaaaaaa!!! Apaan sih iniiiih??? teriak Fara kencang. Suamiku langsung terdiam tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Aku juga pura-pura terbangun.

M-maaf sayang i-itu

Ihh.. kok Fara dikencingin siiiiiih? Fara terlihat seperti ingin menangis saat itu. Diapun langsung berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk mencuci muka. Saat kembali, wajahnya terlihat ngambek, dia sepertinya marah. Diapun keluar kamar untuk tidur di kamarnya. Baik aku dan suamiku sama-sama terdiam.

Tuh kan Pa makanya ku bilang hati-hati kataku akhirnya dengan nada serius pada suamiku, padahal hatiku sangat senang karena akhirnya Fara mengetahui perbuatan Papanya. Aku penasaran apa yang akan terjadi setelah ini.

~~

Besoknya, dari pagi sampai Fara pulang sekolah dia tetap saja diam. Akupun menyuruh suamiku ke kamar putri kami untuk membujuknya agak tidak ngambek lagi.

Mama gak ikutan bujuk? Masa cuma papa sendiri?
Mama lagi masak Pa papa aja deh. Lagian itu kan salah kamu Pa tolakku. Tentunya itu hanyalah alasanku agar mereka kembali berduaan, sekaligus aku ingin tahu bagaimana suamiku mengatasi masalah ini. Setelah beberapa menit mereka di dalam, akupun memutuskan untuk menguping apa yang sedang mereka bicarakan.

..
I-tu… itu bukan pipis sayang terdengar suara suamiku. Sepertinya Fara masih mengira kalau cairan itu adalah pipis ayahnya.
Bukan pipis? Terus?
Itu peju, beda sama pipis jelas suamiku.
Pejuh? Tapi sama aja kan Pa, masa muka Fara dipe dipejuhin sih? tanya Fara polos.

M-maaf sayang. Soalnya papa lagi nafsu waktu itu
Nafsu?
Iya.. nafsu. Papa tertarik sama kamu
Tertarik sama aku? Maksudnya Papa suka sama Fara?

Iya, karena papa suka dan cinta kamu
Gitu yah Pa? Jadi karena Papa nafsu sama Fara, terus papa buang pejuh ke Fara? tanya Fara berusaha menyimpulkan.
I-iya sayang maaf yah

Gak apa kok Pa kalau memang gitu Papa boleh kok nafsu terus sama Fara ujar Fara santai. Tampaknya dia salah menyimpulkan penjelasan Papanya.

Hah? I-iya, makasih sayang
Iya, sama-sama. Emang apa yang bikin Papa nafsu sama Fara? Jujur! tanya Fara.

I-tu soalnya kamu cantik, terus badan kamu, terus pakaian kamu itu Papa suka banget, bikin Papa nafsu jelas suamiku kesusahan menjawab pertanyaan anaknya. Fara tertawa renyah mendengar jawaban Papanya karena menganggapnya pujian.

Hihihi, makasih Pa. Berarti sekarang Papa nafsu dong sama Fara? tanya Fara sambil tersenyum manis. Saat itu dia memang mengenakan tanktop ketat dan celana pendek sepaha seperti biasa.
I-iya sayang Papa nafsu lihat kamu

Hmm kalau gitu Papa boleh kok kalau mau buang pejunya ke Fara lagi, Fara gak bakal marah ujar putri kami. Darahku berdesir mendengarnya. Aku tidak menyangka kalau Fara akan berkata seperti itu. Memperbolehkan ayah kandungnya muncratin peju ke dia lagi!!

K-kamu serius sayang? terdengar suamiku juga terkejut mendengar perkataan anaknya.
Iya disiramin pejuh Papa lagi. Itu tanda suka dan cinta dari Papa kan? Sekarang boleh kok kalau Papa mau

Tapi itu kan Suamiku tampaknya bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Apa yang akan kau jawab suamiku? Anak gadismu meminta spermamu di tubuhnya. Itu yang kamu mau bukan? Kau ketagihan ngepejuin anak gadismu sendiri bukan? kataku dalam hati. Dadaku sungguh berdebar-debar menanti jawaban suamiku.

Kenapa Pa?
Baiklah kalau begitu, tapi jangan sekarang, nanti ketahuan Mama jawab Mas Alan. Suamiku menyetujuinya!!

Emang Mama gak boleh tahu Pa?
Iya, kamu jangan kasih tahu mama yah jangan kasih tahu mama apa yang baru kita bicarakan. Bilang saja kalau kamu udah maafin Papa

Oh ya udah. Ini bakal jadi rahasia kecil kita berdua. Fara bakal rahasiakan kalau Papa nafsu sama Fara, gitu Pa? Oke?
Oke sayang… kamu memang pintar

Ini sungguh situasi yang aneh. Mereka merahasiakan hal itu padaku, padahal akulah yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini.

Terus kapan Papa mau buang peju ke Fara lagi? tanya Fara kemudian.
Kamu nanti malam tidur sama Papa Mama lagi kan?
Hmm Iya Pa..

Kalau gitu nanti malam Papa bakal pejuin kamu lagi seperti biasa. Boleh kan sayang?
Ihhh. Jadi tiap malam Fara kena semprot pejuh Papa terus !?? Fara balik bertanya.
Iya sayang, Maaf yah.. hehe

Ohh.. pantesan badan Fara lengket terus waktu bangun. Ya udah, nanti malam yah Pa. Gak usah diam-diam lagi, Fara mau kok bantuin

Sepertinya sudah cukup apa yang ku dengar. Aku segera kembali ke dapur dan pura-pura tidak mendengar apa yang terjadi barusan. Sensasi ini sungguh luar biasa. Obsesiku semakin mendekati kenyataan. Aku tidak sabar menunggu malam tiba.

Malamnya Fara tidur lagi bersama kami. Suamikupun lagi-lagi meminta agar aku mau melayaninya, setidaknya membantu mengocok penisnya. Tapi aku yakin itu hanya pura-pura saja. Begitupun dengan diriku yang masih pura-pura malas melayaninya serta bertingkah seakan tidak mengetahui apa yang akan terjadi.

Setelah aku pura-pura terlelap merekapun memulai aksinya. Sesekali ku buka sedikit mataku agar bisa melihat apa yang mereka lakukan. Suamiku tampak membangunkan Fara yang sudah beneran tertidur.

Sayang, bangun suamiku berbisik membangunkan putrinya.
Nggmmhh Papa mau pejuin Fara sekarang?
Ssssst pelanin suaranya sayang!! ntar mama bangun

Ups, Papa mau pejuin Fara sekarang? tanya Fara lagi dengan berbisik pelan.
Iya, Papa mau ngepejuin anak gadis Papa sekarang, boleh kan sayang?
Boleh banget kok

Suamiku lalu tampak membuka celana tidurnya. Kemudian kembali tiduran di samping putri kami.

Kocokin sayang suruh suamiku.
Gimana caranya Pa?
Gini

Aku tidak dapat melihat dengan jelas, tapi ku yakin Fara sedang mengocok penis ayahnya saat ini.

Kamu memang pintar sayang
Hihi.. Makasih Pa masih lama Pa keluar pejunya?
Bentar lagi kok, kamu mau papa keluarin dimana?

Terserah Papa aja, dimana yang papa suka jawab Fara sambil tersenyum manis.

Beberapa saat kemudian suamiku bangkit dan berlutut di samping putri kami. Dia tampaknya akan menembakkan pejunya ke wajah Fara lagi!!

Sayang.. Papa mau keluarin peju nih
Iya Pah.. tumpahin aja

Crooot.. crooot sperma suamiku dimuncratkan lagi ke wajah anak gadisnya itu. Bedanya kali ini putri kami sadar dan melihat langsung bagaimana penis ayahnya menembakkan sperma kental di wajah cantiknya!! Pemandangan yang sungguh membuatku blingsatan. Jantungku berdetak sangat kencang.

Ih.. Pa, banyak banget. Geli, bau
Maaf sayang

Hihihi Gak apa kok Pa, pasti karena Papa nafsu banget kan sama Fara?
Iya.. Papa nafsu banget. Sini biar Papa bersihin mukanya
loading...

Suamiku lalu mengambil tisu dan membersihkan wajah anaknya.

Cuma sekali aja Pa? tanya Fara sambil membiarkan wajahnya dibersihkan Papanya.
Kenapa? kamu masih mau Papa pejuin lagi? nakal yah
Hehe, Mau aja kok

Sudah, besok malam lagi. Ntar mama kamu bangun
Iya yah ntar mama tahu rahasia kita lagi. Hmm Papa suka pejuin muka mama juga? tanya Fara polos.
Pernah sih…

Enakan mana dari pejuin muka Fara?
Enakan pejuin muka kamu dong… soalnya kamu anak gadis Papa yang paling cantik

Emang cantikan mana, mama atau anak papa ini? Jujur lho
Lebih cantik kamu
Terus, nafsuin mana? Papa lebih nafsu sama siapa?
Nafsuin kamuuuu anak papa sayaaaang

Hihihi, makasih Pa
Iya, sudah sana tidur. Besok kamu sekolah
Oke Pa Malam

Hatiku serasa diaduk-aduk!! Fara mungkin memang polos bertanya seperti itu pada ayahnya, sedangkan ayahnya mungkin saja menjawabnya sesuai keinginan Fara. Tapi aku merasakan cemburu yang luar biasa dibanding-bandingkan dengan putriku sendiri seperti itu, namun memang ini yang aku inginkan.

~~

Setelah malam itu, merekapun terus mengulangi perbuatan tersebut. Putri kami selalu jadi pelampiasan nafsu suamiku. Tiap malam Fara pasti selalu disemprot peju ayah kandungnya. Pakaian, tangan, paha, dan mukanya ia relakan sebagai sasaran muncratan peju ayahnya. Bahkan sekarang mereka sudah berani diam-diam melakukannya di siang hari. Awalnya aku tidak tahu, namun waktu itu aku mendapati suamiku sedang dicoliin putrinya di kamar Fara. Parahnya waktu itu Fara sedang telanjang bulat karena baru selesai mandi. Jadilah tubuh telanjangnya yang masih basah itu terkena muncratan peju ayahnya, padahal dia baru saja mandi.

Pernah juga waktu itu aku tidak sengaja melihat mereka melakukannya saat Fara baru pulang sekolah. Fara mengocok penis ayahnya sambil masih mengenakan seragam SMP, pemandangan yang sangat menggairahkan.

Duh, sayang kamu cantik banget pake seragam gini
Hihihi kenapa Pa? Papa mau pejuin seragam Fara juga? Boleh kok
Terus besok kamu pakai apa?
Besok kan udah kering Pa

Tapi apa nggak bau sayang?
Gak apa kok jadi pejuin aja kalau Papa memang mau…

Setelah sekian lama mengocok penis ayahnya, suamikupun akhirnya muncrat. Pejunya menyemprot bertubi-tubi ke arah seragam putrinya. Baik kemeja putih maupun rok biru itu terkena ceceran sperma ayah kandungnya!! Dan Fara menerima dengan senang hati seragam sekolahnya dibuat kotor begitu.

Udah Pa? lihat nih seragam Fara jadi kotor gini Suka Pa?
Iya makasih sayang sana cepat ganti baju. Ntar ketahuan sama mama kamu
Oce Pa, hmm Pa
Ya sayang?
Nanti Mama katanya mau pergi ke pasar. Kalau ntar papa mau pejuin Fara lagi boleh kok, Papa mau Fara pakai seragam apa? Mau pejuin seragam pramuka Fara juga? boleh kok hihihi

Wah boleh juga tuh sayang
Ya udah, kita tunggu Mama pergi ya P ujar Fara. Mereka berencana berbuat mesum lagi nanti ketika aku pergi!! Benar saja, saat aku kembali aku memang menemukan ceceran sperma pada seragam pramuka putri kami.

Perbuatan mereka semakin hari semakin menjadi-jadi. Aku juga semakin sering meninggalkan mereka berdua dengan berbagai alasan seperti pergi ke pasar. Sensasinya sungguh aneh. Cemburu, tapi juga membuatku birahi. Suami dan putri kami tentunya sedang berbuat mesum selama aku tidak di rumah. Tidak jarang bila ku pulang, aku mendapati ceceran peju baik di ruang tamu, di atas tempat tidur Fara, bahkan di meja makan. Entah bagaimana caranya sperma ini bisa ada di atas meja makan. Aku jadi horni memikirkan mereka yang berbuat cabul di sembarang tempat begini.

Pernah juga aku melihat ada secuil peju di rambut Fara yang sepertinya luput saat dibersihkan, Aku pikir hanya itu, tapi ternyata juga ada noda yang sama di sela bibirnya!! Astaga!! Apa suamiku tadi menembakkan spermanya ke dalam mulut putri kami? Sepertinya memang iya karena nafas Fara bau peju. Aku pura-pura saja tidak tahu, bahkan membantu membersihkan noda itu dari sela birbinya.

Kalau makan yang benar dong sayang masa belepotan gitu ujarku sambil tertawa. Fara juga ikutan tertawa.
Hihihi, Habis Papa sih ma Ups!!

Papa? Papa kenapa sayang? tanyaku.
Eh, Itu tadi Papa ngasih Fara es krim jawabnya berbohong. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban bohongnya sambil mengusap lembut kepalanya.
Kamu suka dikasih es krim sama Papa?
Suka banget

Pasti enak banget yah es krim nya?
Enak banget mah Fara jadi kepengen lagi
Kalau gitu minta aja lagi sama Papa

Boleh yah Ma?
Ya boleh dong kamu minta yang sering yah es krimnya, minta yang banyak
Iya ma ntar Fara minta lagi es krim yang banyak sama Papa, hihihi

Sebuah tanya jawab yang aneh karena kami saling menyembunyikan sesuatu. Aku tentu tahu apa yang dimaksudnya dengan es krim itu adalah sperma kental ayahnya.

Ternyata suamiku memang sudah mulai ngepejuin mulut putrinya sendiri. Dadaku berdebar sangat kencang melihat pemandangan itu. Fara yang tidur terlentang di sampingku, dikangkangi suamiku lalu ditembakkan sperma kental ayahnya ke mulutnya. Fara menerima sperma ayahnya dengan senang hati, bahkan astaga!! Dia menelannya!!

Enak es krim papa sayang?
Agak bau sih, tapi enak kok.. Fara telan semua yah Pa?
Iya sayang

Eh Pa, Mama tadi bilang agar Fara minta es krim yang banyak sama Papa lho kata Fara polos.

Mama kamu bilang gitu?
Iy
Kalau gitu Papa turutin deh Ntar kamu bilang ke Mama yah kalau Papa bakal kasih kamu es krim tiap hari

Sip Pa hihihi Darahku berdesir mendengar obrolan mereka ini. Fara akan selalu dipejuin ayahnya!! Esoknya Fara bahkan benar-benar mengatakan kalau Papa setuju untuk ngasih dia es krim tiap hari. Aku tersenyum saja padanya seakan tidak tahu apa es krim yang mereka maksud sebenarnya. Putri kami betul-betul jadi tempat pembuangan peju ayahnya setelah itu. Tidak hanya di pakaian atau badan Fara, namun sekarang di dalam mulutnya. Fara jadi selalu berbau peju bila di rumah.

Tapi semua itu belum cukup bagiku. Obsesiku untuk melihat suami dan anakku bersetubuh masih belum kesampaian. Mereka belum melakukan perzinahan yang sesungguhnya. Aku ingin suamiku ngentotin putri kami. Aku ingin suamiku menyemprotkan pejunya tidak hanya di dalam mulut Fara, tapi juga di dalam rahimnya hingga membuat putri kami ini hamil. Namun sepertinya suamiku masih belum punya niat untuk benar-benar melakukan itu. Padahal sudah hampir dua bulan aku tidak memberi jatah pada suamiku. Aku yakin suamiku sudah merindukan yang namanya bersenggama. Atau apa mereka sudah pernah melakukannya?

Sore ini aku kembali meninggalkan mereka berdua nonton tv dan mengintip mereka dari jauh. Mereka duduk berpangku-pangkuan. Aku pikir mereka hanya akan sekedar duduk mesra berduaan saja seperti biasa, tapi astaga!! Ku lihat suamiku mengeluarkan penisnya, setelah itu suamiku juga menyelipkan penisnya ke balik rok pendek Fara.

Papa ngapain? Kok burungnya dikeluarin sih Pa? tanya Fara berbisik.
Gak ngapa-ngapain kok… Gak boleh sayang?
Iya, boleh kok. Tapi ngeganjal nih

Fara lalu membiarkan ayahnya menggesek-gesekkan penisnya ke selangkangannya. Sepertinya Fara juga sangat menikmatinya, ia bahkan ikut memaju-mundurkan pinggulnya seirama goyangan pinggul ayahnya.

Fara, udah mau malam, buruan mandi gih kataku tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Ayah dan anak itu tentu saja terkejut bukan main karena kedatanganku. Terlebih suamiku karena penisnya ada di balik rok Fara saat ini. Namun aku pura-pura tidak mengetahuinya.

Iya ma bentar lagi jawab Fara yang lebih terlihat santai.
Kenapa bentar lagi sih? buruan dong… manja banget sama Papa kamu. Atau kamu mau mandi bareng sama Papa? Pa, mandiin anakmu gih suruhku pada suamiku. Setahuku mereka belum pernah sama-sama telanjang bulat, jadi ini kesempatanku untuk lebih mendekatkan mereka.

Mandiin Fara mah? tanya suamiku.
Iya, kamu mau kan Fara dimandiin Papamu?
Nghhh. Mau deh Ma jawab Fara tidak lagi menolak.

Tuh Pa, dia mau tuh. Buruan gih, ntar keburu malam. Fara, ajak papa kamu mandi bareng dong suruhku pada Fara.

Pa, mandi bareng yuk Kan udah lama Fara gak mandi bareng Papa pinta Fara manja. Suamiku tidak langsung menjawab. Mungkin dia ragu.

I-iya deh setuju suamiku akhirnya.

Merekapun setuju untuk mandi bersama. Setelah aku meninggalkan mereka lagi, Fara lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi kemudian disusul ayahnya. Aku sangat bersemangat menantikan mereka bakal sama-sama telanjang di dalam ruangan yang sempit. Aku harap suamiku jadi terangsang berat di dalam sana.

Pa, mandiin Fara yang bersih yah teriakku pada suamiku dari balik pintu kamar mandi.
Iya ma
Fara, kamu jangan nakal di dalam. Ntar gak dikasih es krim lagi lho kataku kini pada Fara.
Paling Papa yang nakal ma, hihihi jawab Fara sambil tertawa.

Terdengar suara air tidak lama kemudian. Sepertinya mereka sudah mulai saling membilas dan menyabuni badan satu sama lain. Aku berusaha mencuri dengar apa yang mereka obrolkan di dalam. Fara sesekali tertawa geli cekikikan, mungkin karena geli karena badannya diusap-usap Papanya.

Geli pa jangan diremas-remas dong…
Ssstt kamu ini kencang banget suaranya!!
Ups, sorry. Geli pa.. jangan diremas-remas gitu dong susu Far

Cuma ngebersihin kok sayang
Tapi kan geli ntar burung Papa aku remas juga lho biar keluar lagi es krimnya
Dasar kamu nakal. Kamu dengar kan tadi mama bilang jangan nakal?
Hihihi, iya yah tapi kan Mama gak ngelihat Pa

Terus? Kamu mau kita nakal-nakalan sekarang?
Aku mau aja, emang Papa gak mau nakalin Fara?
Mau kok ya udah nih Papa nakalin

Ih Pa, ngapain? kok burungnya diselipin di sana sih?
Iya sayang Papa mau nyabunin sela-sela paha kamu pakai burung Papa

Setelah itu hanya desahan-desahan saja yang terdengar samar-samar. Aku yang mendengar dari sini juga ikut-ikutan horni karenanya. Suamiku sedang menggesek-gesekan penisnya di antara paha Fara!! Ingin sekali rasanya aku melihat langsung apa yang mereka lakukan, tapi aku tidak bisa karena tidak ada celah. Apapun itu, mereka betul-betul melakukan perbuatan mesum sekarang. Hingga akhirnya ku dengar suamiku melenguh, dia klimaks. Entah di bagian tubuh Fara yang mana yang dipejuin.

Setelah itu barulah mereka mandi seperti biasa meskipun masih juga terdengar sesekali Fara cekikikan geli.

Asik yah mandinya? Lama banget? tanyaku pada mereka saat keluar dari kamar mandi.
Tau tuh Papa jawab Fara cuek.

Tampak hanya suamiku saja yang mengenakan handuk, sedangkan Fara dengan santainya berjalan telanjang bulat ke kamarnya.

Pa, panggilku pada suamiku.
Iya ma?
Pakein Fara baju gih sekalian
Hah?