Senin, 13 Maret 2017

Pemerkosaan Yang Di Renacanakan 1

www.mahkotaqq.com



Serbubet - Di sebelah ruangan Rindha adalah ruangan Syabila. Syabila termasuk seorang perempuan yg berkulit putih bersih juga. Mirip dgn Rindha, memiliki tubuh yg langsing semampai, tetapi dgn buah dada yg lebih membulat dan bokong yg lebih berisi. Waktu Ridwan dan Sahid mengetuk pintu dan mengucap salam, Syabila sedang mendengarkan musik mp3 sembari membaca sebuah novel. “Wah tumben ada yg dateng malam-malam, ikhwan lagi. Siapa ya?” pikirnya. Syabila waktu itu menggunakan daster batik. Dia buru-buru mengecilkan suara mp3 dari laptopnya dan meletakkan novel di meja. Tak lupa dia menyambar jilbab coklat untuk dia pakai sebelum membuka pintu.Begitu pintu dibuka, Syabila kaget melihat kedua laki-laki yg tak ia kenal. Kedua laki-laki itu pun langsung memaksa masuk dan mendekap tubuh Syabila. Tetapi Syabila bukan perempuan sembarangan, dia adalah pemegang sabuk coklat beladiri J*******. Waktu Sahid maju dan mencengkram lengan kirinya, dgn refleks yg sudah terlatih hempaskan tangan Sahid yg mencengkram lengannya sembari kemudian membanting Sahid ke samping. Ridwan yg menyaksikan kejadian itu buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Terkejut mendapatkan perlawanan, Sahid bangkit lagi dan mencoba merengkuh daster Syabila. Tetapi kembali Syabila berhasil mengelak bahkan kembali membanting tubuh Sahid. Untungnya dia jatuh ke ranjang sehingga tak terlalu sakit. Sahid tak menyerah. Kali ini dia berusaha menjaga jarak dari Syabila dan mencoba melancarkan pukulan jab yg berhasil ditangkis Syabila. Di sinilah kecerdikan Ridwan, dia bergerak cepat ke belakang tubuh Syabila, kemudian menendang punggung Syabila sehingga dia terjengkang ke depan. Dari depan Sahid langsung melancarkan tendangan lurus. Syabila yg kaget ditendang dari belakang tak sempat menangkis sehingga kaki Sahid bersarang di perut Syabila. Perempuan itu terduduk menahan sakit. Melihat Syabila mulai tak berdaya, Ridwan dgn cepat menarik baju perempuan itu dari belakang. Syabila terangkat berdiri sembari menahan perih di lambungnya. Kemudian Ridwan menghempaskan tubuh Syabila ke ranjang. ”Sialan nih bocah, berani-beraninya ngelawan gue,” ujar Sahid. Sahid yg kesal karena dibanting Syabila dua kali langsung menindih tubuh Syabila di ranjang. Syabila tak bisa fokus untuk melawan karena menahan sakit di perutnya. Sahid langsung menduduki perut Syabila yg terlentang dan membuka kedua tangan Syabila ke kanan dan kiri. Syabila baru akan teriak waktu sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Pipinya langsung merah bekas tangan Sahid. Dari belakang Ridwan langsung memasang lakban di mulut Syabila. Dalem kondisi ini, Syabila menjadi tak berdaya. Perutnya kesakitan dan diduduki Sahid, sementara pipinya panas dan perih karena ditampar dia tak bisa berteriak. Plak… sekali lagi Sahid menampar pipi kanan Syabila karena masih kesal dibanting oleh Syabila. “Udah Hid, ntar abis mukanya. Sayg cantik-cantik gitu,” sergah Ridwan pada Sahid. Sahid tersadar dari amarahnya, kemudian ia mulai menikmati kecantikan wajah Syabila yg mulus. Tampaknya mulutnya sedang merintih kesakitan dalem bekapan lakban, air matanya mulai mengalir. Ridwan terus bekerja. Dia mengikat kedua tangan Syabila di atas kepala Syabila. Setelah itu dia mulai melepaskan celananya. ”Hid, saya duluan ya. Kamu pegang dulu lah perempuan ini,” ujar Ridwan pada Sahid. ”Oke, kamu duluan lah, aku nanti belakangan, biar puas kukerjai dia,” jawab Sahid. Maka Sahid bergerak ke atas memegangi tangan Syabila, sementara Ridwan mulai mengangkat daster batik Syabila hingga pinggang. Ridwan dgn cekatan menurunkan celana training yg dipakai Syabila dan celana dalem kremnya. Ridwan sengaja meninggalkan sepasang kamus kaki terpasang di telapak kaki Syabila. Kemudian ia kangkangkan kaki Syabila sedapatnya. Maka tampaklah kemaluan Syabila yg masih tertutup rapat dihiasi rambut-rambut halus di atas dan sampingnya. Seperti halnya Rindha, Syabila memiliki kemaluan yg berwarna putih seperti kulit tubuh lainnya. Mulut Ridwan mulai menyosor kemaluan itu, kedua jempolnya menarik ke samping bibir kemaluan luar Syabila, sementara lidahnya berusaha menguak bibir dalemnya agar merekah. Merasa bagian kehormatannya mulai dikerjai, Syabila mulai sadar dari perihnya dan berusaha berontak, tetapi waktu itu pula ia menerima tamparan lagi di pipi dari Sahid sehingga ia kehilangan kekuatan lagi. Ridwan terus berusaha melumuri kemaluan Syabila dgn ludahnya hingga licin. Baru kemudian dia terduduk mendekatkan kemaluannya yg sudah ngacung ke lobang kemaluan itu. Diarahkannya moncong meriam itu ke target sasaran, dan mulai ia dorong pelan-pelan. Ia terus berusaha mendorong sembari kedua tangannya menahan kedua paha Syabila yg bulat supaya tak menutup.Syabila berusaha bergerak menghindari sesuatu yg menerobos di lobang kehormatannya, tetapi bagian atas tubuhnya ditekan kuat-kuat oleh Sahid. Ridwan terus berusaha mendorong hingga perlahan mulai masuk. Kepala kemaluannya mulai menguak bibir dalem kemaluan Syabila. Perlahan kepala itu mulai tenggelam dan berusaha menembus selaput yg menghalangi. Terus dia tekan hingga akhirnya selaput itu berhasil dia tembus. Kemudian masih terus ia tekan hingga batang kemaluannya mulai ikut masuk. Syabila berusaha terus bergerak tetapi kakinya ditahan kuat-kuat oleh tangan Ridwan. Hingga akhirnya semua kemaluan Ridwan masuk ke kemaluan Syabila. Kemaluan Ridwan merasakan dekapan yg sangat erat dari kemaluan Syabila, dekapan kemaluan perawan yg sudah lama ia tak rasakan sejak memerawani istrinya. Ia tarik sedikit kemaluannya, kemudian dia dorong lagi. Semua ia lakukan perlahan untuk menikmati setiap gesekan kemaluan Syabila pada kemaluannya. Makin lama sodokannya makin cepat. Waktu ia membuka mata maka tampak perempuan pelajar yg air manis dan masih berjilbab melenguh setiap ia sodokkan kemaluannya. Pemandangan itu tampak sangat erotis baginya. Buru-buru dia angkat daster Syabila hingga Bhnya tersembul, langsung ia angkat pula BH itu ke atas sehingga kedua buah dada Syabila mencuat. Dia remas-remas kedua buah dada itu sembari mempercepat sodokannya. Kombinasi antara pemandangan yg erotis ditambah ketatnya dekapan kemaluan Syabila pada kemaluannya membuat Ridwan tak tahan lagi. Maka ia semprotkan dgn kuat air maninya di dalem kemaluan Syabila. ”Ah, kemaluan perawan, peret banget Hid,” ujar Ridwan sembari terengah-engah. “Iya, apalagi perawan galak kayak gini. Kamu cepatlah gantian, aku juga sudah tak sabar,” jawab Sahid. Sebenarnya tanpa dipegangi pun Syabila sudah sulit untuk melawan, alasan rasa sakit di kepala dan perutnya, ditambah lagi di kemaluannya membuat dia malas bergerak. Tetapi Ridwan dgn sigap menjaga tubuh Syabila sementara Sahid melampiaskan hajat mesumnya. “Hei, jangan lupa kamu rekamlah dgn HPmu adegan ini,” ujar Sahid mengingatkan. Maka Ridwan langsung mengeluarkan HPnya untuk merekam adegan mesum Sahid memperkosa perempuan cantik ini. Sahid tak banyak basa-basi. Langsung ia keluarkan kemaluannya, dan ia gesekkan ke permukaan kemaluan Syabila. Sesekali ia meraba rambut halus di atas kemaluan itu, kemudian dia cabut beberapa helai dgn kasar, membuat Syabila makin kesakitan dan meninggalkan ruam merah di bagian yg dicabut. “Rasakan kamu perempuan galak,” umpat Sahid. Kemudian Sahid langsung memasukkan kemaluannya ke lobang kemaluan Syabila dan mulai menyodokkan dgn keras dan cepat. Jempol tangan kirinya menekan-nekan daerah klitoris Syabila sementara tangan kanannya mencubiti putting kanan dan kiri Syabila bergantian. Hal ini membuat Syabila terlonjak-lonjak tetapi bila ia mulai melawan waktu itu pula Ridwan menahan tubuhnya dan sesekali menampar wajahnya. Sahid terus melakukan perbuatannya sembari tersenyum puas, berusaha mengerjai perempuan yg sudah membantingnya itu. Sahid tak lama bertahan karena peretnya kemaluan Syabila. Begitu merasa akan keluar air maninya, ia langsung meloncat dan membuka lakban penyumpal mulut Syabila. Ia arahkan kemaluannya ke mulut Syabila yg ia buka paksa dgn tangannya, ia kocok kemaluannya kuat-kuat hingga air maninya menyembur deras masuk ke dalem mulut Syabila. Beberapa semprotan terakhir ia arahkan ke mata dan pipi Syabila. Jadilah wajah air manis itu berlumuran air mani Sahid bercampur air matanya. Tetapi setelah air maninya habis, tak serta merta ia menarik kemaluannya. Tampaknya ia masih ingin mengeluarkan sesuatu. Maka dalem beberapa detik memancarlah air kencing Sahid ke dalem mulut Syabila dan ke mukanya. Syabila gelagapan terkena siraman air kekuningan yg sedikit berbau kopi itu. Semua itu terekam oleh HP Ridwan. ”Biar rasa kamu perek galak,” umpat Sahid lagi. Ridwan cuma geleng-geleng kepala melihat kegilaan temannya itu. Sementara enam temanan mesum mulai bergerak mengendap ke lantai dua. Sakti maju paling depan dan Wisnu paling belakang. Mereka terus mengendap sembari memperhatikan keadaan sekitar. Didin : Gelap semua ruangannya, cuma ruangan nomor sepuluh itu yg diujung yg lampunya nyala. Jangan-jangan yg dua sudah pada tidur. Mikael : Coba kuintip dulu ruangan sepuluh. Mikael perlahan mengendap mengintip ruangan sepuluh lewat jendela. Kebetulah gordyn jendela itu terbuka. Mata Mikael mengintip perlahan, kemudian kembali lagi. Mikael : Ternyata mereka bertiga ada di ruangan ujung itu. Bagaimana jadinya? Valdo : Ya sudah, jika begitu kita labrak sama-sama. Gimana? –semua mengangguk setuju. Sakti: Tunggu dulu bentar. Coba kulihat ruangan yg lain sebentar ya. Valdo : Loh, mahu apa lagi kamu? Sakti : Ah pokoknya sebentar lah. Sakti masuk ke ruangan delapan yg tak dikunci, kemudian keluar mengambil sebilah cutter. Sakti : Ini akan memudahkan pekerjaan kita. Maka Valdo yg maju untuk mengetuk pintu ruangan sepuluh, yg lain bersembunyi supaya tak terlihat jika penghuni ruangan mengintip lewat jendela. Sakti bersiap dgn cutternya untuk memberikan kejutan. Naima, Rindha dan Fully memutuskan untuk tidur bertiga di ruangan sepuluh, karena mereka bertiga sedikit penakut. Naima berwajah sangat air manis, yg paling air manis di antara kelima perempuan di sana. Kulitnya paling putih, mukanya paling cantik, dan tubuhnya sangat langsing. Fully juga kulitnya putih, tetapi tak seputih Naima. Tubuhnya lebih berisi. Sedangkan Rindha kulitnya sedikit coklat gelap, tetapi tubuhnya yg paling montok. Mereka bertiga sedang ngobrol sembari menunggu kantuk sebelum pintu itu diketuk. Naima yg tuan rumahnya ruangan langsung berdiri dan menghampiri pintu. Mereka semua berdaster dan segera memakai jilbab begitu tahu ada yg datang. Naima tak curiga sedikitpun jadi tak perlu merasa melihat melalui jendela dan langsung membuka pintu. Pintu pun dibuka. Naima terkejut mendapati seorang pria yg tak ia kenal di hadapannya. ”A…ada apa ya Pak?” tanya Naima gelagapan. Tak sempat dijawab, Valdo langsung mendorong pintu dan Sakti dgn cepat memiting leher Naima sembari menghunus cutter di wajahnya. “Jangan ada yg bergerak, jangan ada yg teriak, ato teman kalian mati,” ujar Sakti mengancam Fully dan Rindha. Semua temanan mesum itu berhamburan masuk ruangan dan menguncinya sementara Fully dan Rindha cuma terkejut menganga. “A…ampun Pak, itu laptop saya di dalem tas dekat meja. Itu dompet saya di meja. Jangan sakiti kami Pak…” Naima memohon pada Sakti. Temanan mesum itu tertawa terbahak-bahak. “Kamu pikir kami tak sanggup beli laptop hah? Kamu pikir kami ga punya duit. Bodoh kamu…” jawab Mikael sembari tertawa. “Ba…bapak mahu apa Pak? Tetapi tolong jangan sakiti kami…” ujar Fully berusaha membantu Naima. ”Tenang, kami tak akan menyakiti kalian, selama kalian bekerja sama. Mengerti?” ujar Sakti. Fully dan Rindha cuma mengangguk lemah masih tak paham. Sementara Naima gemetaran karena ada cutter di depan hidungnya. ”Kamera, siapkan!” perintah Sakti. Maka Mikael dan Wisnu mengeluarkan HPnya masing-masing dan mulai merekam. ”Oke, sekarang kalian berdua buka baju kalian!” perintah Sakti pada Fully dan Rindha. Keduanya terhenyak tak percaya dgn apa yg mereka dengar. ”Cepat!!!” hardik Sakti lagi. ”Ja…jangan Pak, jangan…” pinta Fully lirih. ”Jangan melawan! Apa kalian mahu lihat leher teman kalian ini putus? Cepat buka!!” ancam Sakti lagi. Sakti menguatkan pitingan pada leher Naima sehingga Naima mulai merasa tercekik. Hal ini menyebabkan Fully dan Rindha panik. ”Ba… baik Pak…” ujar Fully pelan. Kedua perempuan itu melirik satu sama lain kebingungan, tak bergerak. Tetapi Sakti menghardik lagi dan Naima mulai mengaduh kesakitan. Maka Fully perlahan mulai membuka risleting belakang dasternya. Melihat Fully melakukan itu, Rindha pun mengikutinya. ”Berdiri kalian berdua,” perintah Mikael. Maka Fully dan Rindha pun berdiri di tengah ruangan. Kemudian dgn perlahan mereka terus menarik resleting daster mereka, hingga habis. “Turunkan daster kalian, cepat!” perintah Valdo. Maka keduanya pun dgn sangat malu menjatuhkan daster mereka di hadapan para lelaki mesum itu. Selama ini mereka selalu berjilbab panjang dan rapi kemana pun, bagaimana sekarang mereka akan bugil di hadapan lelaki yg tak mereka kenal sama sekali. Maka semua lelaki mesum itu mengeluarkan HPnya untuk mereka atau mengambil foto adegan ini kecuali Sakti yg masih menahan Naima. Kedua perempuan yg berjilbab sedada tetapi tak berpakaian kecuali pakaian dalem mereka. Fully dgn BH putih dan celana dalem putih, sementara Rindha dgn BH pink dan celana dalem hijau. Mikael menyuruh mereka menyingkapkan jilbab mereka ke belakang sehingga bagian dada, perut, pinggang, paha hingga kaki kedua perempuan ini terpampang jelas. Mikael memerintahkan mereka untuk membuka BH mereka, meski dgn ragu dan perlahan akhirnya mereka membuka BH mereka. Tampak meski kulit Rindha lebih gelap, tetapi buah dadanya lebih besar daripada Fully. Sakti kemudian mendorong Naima ke arah temannya. Sakti menyuruh Naima mengikuti apa yg dilakukan Fully dan Rindha. Maka Naima pun mulai membuka dasternya diikuti dgn BH kremnya. Buah dada Naima adalah yg terkecil di antara mereka, mungkin cuma segenggam telapak tangan, tetapi kulitnya benar-benar bening, ditambah sorot lampu ruangan yg membuat tubuhnya berkilau keemasan. ”Oke, sekarang kalian buka celana dalem kalian. Cepat!” perintah Sakti sembari mengacungkan cutter pada Naima. Mereka bertiga yg sudah mulai berlinangan air mata tak bisa menolak. Perlahan mereka menurunkan celana dalem mereka hingga mata kaki. Wisnu : Amboi, ini perempuan bening betul, macam marmer saja. –sembari mengelus bokong Naima. Didin : Iya nih, kayanya paling bisa merawat diri ni perempuan. Lihat aja jembutnya, paling sedikit, paling rapi. Gak kaya yg dua ini, gondrong hahaha… –yg lain ikut tertawa. Muka Fully dan Rindha bersemu merah mendengar komentar cabul para lelaki itu terhadap rambut keperempuanan mereka. Mereka terus mengambil gambar ketiga perempuan ini hingga puas. Sakti : Oke kalian bertiga, berlutut. –ketiganya lalu berlutut menuruti perintah Sakti. Lalu Mikael, Valdo dan Wisnu melepas celana mereka hingga kemaluan mereka mencuat. Kemudian mereka mendekatkan kemaluan mereka ke mulut para perempuan itu. Sakti : Kalian hisap kemaluan yg ada di depan kalian itu sembari kalian jilat. Cepat!! Ketiganya kebingungan dan merasa jijik, di samping belum pernah sama sekali melakukan blowjob sehingga tak tahu bagaimana memulai apa yg diperintah Sakti. Tetapi di samping rasa jijik, ada juga rasa penasaran karena ini benar-benar pertama kali mereka melihat kemaluan lelaki dewasa secara langsung. Batang-batang kokoh kehitaman dgn ujung lonjong meruncing kemerahan itu membuat birahi keperempuanan mereka menjadi terusik, meski mereka adalah perempuan-perempuan yg alim. Sakti : Cepat atau teman kalian ini mahu kusayat kah? –Sakti mulai menghardik. Karena ketiga perempuan itu diam saja, Mikael maju dan menempelkan kemaluannya ke bibir Rindha. Rindha awalnya enggan, tetapi karena dipaksa Mikael dan kepalanya ditarik, maka mulut Rindha pun terbuka. Mikael mulai memasukkan kemaluannya ke dalem mulut Rindha. Mikael : Mana lidahnya? Jilat kemaluanku ini yg benar. Jilat kepalanya. Awas jangan kena gigi, jika kena kutampar kamu –perintah Mikael pada Rindha. Rindha pun mulai menjilati kemaluan Mikael. Fully mulai melakukan hal yg sama pada Valdo dan Naima pada Wisnu. Sementara yg lain tetap merekam Karena ketiga perempuan ini benar-benar belum pernah melakukan hal ini, ketiga lelaki mesum itu tak merasakan kenikmatan yg diharapkan. Mikael : Sudah-sudah, gak enak. Dasar amatiran. –sembari menarik kemaluannya keluar, diikuti teman-temanya. Didin : Oke, sekarang kalian bertiga duduk Mengangkang. Cepat! Ketiga perempuan ini kemudian menuruti perintah itu. Mereka duduk di lantai, tetapi mereka merapatkan kaki mereka. Didin lalu duduk dan mencontohkan cara duduk yg dia maksud. Duduk dgn kedua tangan bersandar di belakang, sementara lutut ditekuk dan mengangkang selebar mungkin. Ketiga perempuan itu tentu tak mahu karena itu akan memperlihatkan daerah keperempuanan mereka dgn jelas. Tetapi Sakti kembali menempelkan cutternya ke tubuh Naima sembari mengancam sehingga mereka bertiga terpaksa mengikuti perintah Didin. Kini ketiga perempuan itu benar-benar dipermalukan. Dgn jilbab panjang yg masih menempel di kepala mereka tetapi disingkapkan ke belakang, mereka duduk mengangkang seolah memamerkan keindahan buah dada dan kemaluan mereka kepada temanan mesum itu. Temanan mesum itu berebut mengambil foto ketiganya, sementara wajah mereka bertiga makin merah padam menahan malu. Didin : Oke, sekarang kalian semua, kencing semua! Rindha : Ga…ga bisa Pak. Malu… Didin : Halah pake malu segala. Mahu kalian yg kencing, atau muka kalian mahu kami kencingi hah? Mendengar ancaman itu, ketiga perempuan tersebut berusaha mengikuti perintah Didin. Lebih baik kencing saja sekalian malu, toh kemaluan mereka sudah terlihat semua, daripada sudah malu, dikencingi pula. Mulai dari Fully yg pertama air kencingnya memancar. Kebetulan memang dia belum kencing dalem beberapa jam sehingga airnya paling banyak dan memancar paling jauh. Disusul Naima dan terakhir Rindha yg paling sedikit kencingnya karena baru setengah jam yg lalu dia kencing. Air kencing ketiga perempuan itu spontan membasahi lantai ruangan Naima yg beralas karpet tebal, dgn aroma khas yg sedikit pesing. Tetapi itu tak sampai memadamkan nafsu bejat keenam pria mesum itu, mahal makin membangkitkannya. Temanan mesum itu tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan ini sembari berusaha mengambil gambar close up bagaimana kemaluan mereka memancarkan air seni. Naima memiliki kemaluan yg berkulit bening seperti Rindha dan Syabila, beda dgn Fully dan Rindha yg kulit di sekitar kemaluannya sedikit gelap kehitaman, lebih gelap daripada kulit tubuh mereka. Meski demikian untuk beberapa pria, kemaluan yg sedikit hitam justru lebih seksi daripada yg terang, apalagi jika disekitarnya dihiasi rambut-rambut yg halus. Mikael sampai membantu menyingkap bibir kemaluan Fully supaya terlihat jelas lobang yg menyemprotkan air seni itu. Kemudian Marco mengambil alih komValdo. Marco : Baik, sekarang kalian menungging semua. Buka tudung kalian. Ketiganya mulai melepaskan tudung masing-masing sehingga mereka sekarang benar-benar telanjang bulat. Rindha memiliki rambut paling panjang, hampir sepinggang, sementara Fully dan Naima sama-sama sepunggung. Marco : Kalian sekarang nungging semua. Buka kaki kalian lebar-lebar. Mereka dgn ragu mengikuti perintah itu. Mereka mulai menungging seperti kuda menunjukkan kemontokan bokong mereka, dgn kaki dibuka lebar memperlihatkan keindahaan dubur dan belahan kemaluan mereka dari belakang. Marco mulai meremas bokong Rindha dan menjilat dubur dan kemaluannya. Rindha merasa kegelian dan ingin tertawa tetapi ia tahan sekuat tenaga. Valdo melakukan hal yg sama pada Fully dan Sakti pada Naima. Hal ini membuat ketiga perempuan tersebut terserang birahi, dimana dgn mahir ketiga lelaki mesum itu menjilat kemaluan para perempuan ini sembari sesekali meremas buah dada mereka. Suasana makin memanas, ketiga penjilat tersebut makin bernafsu sementara tak sadar Fully dan Naima melenguh setiap titik sensitif di kemaluan mereka tersentuh lidah para penjilat. Penasaran dgn sebelahnya, maka para penjilat itu bergeser posisi untuk menikmati dubur dan kemaluan perempuan disebelahnya. Ketiga teman mereka yg lain juga tak ketinggalan ikut serta, sehingga semua lidah lelaki itu merasakan dubur dan kemaluan ketiga perawan tersebut. Valdo : Yg ini bo-olnya cantik nih, ada kerutan-kerutannya, ada bulunya pula –sembari menunjuk lobang dubur Fully. Mikael : Tetapi yg ini sempurna teman, bening kali lobang bokong ini, tak ada yg hitam-hitam sedikitpun. Seingatku bo-ol perek-perek di tempat langgananku, alamak… hitam semua –Mikael cekikian sembari memuji dan mengelus bokong Naima. Yg lain ikut tertawa.


EmoticonEmoticon