Kamis, 18 Mei 2017

Sasha Pengorbanan Demi Suami Part 4







Serbubet Ooh... Paak... Ini... wine apaan siih? Kook badan Sashaa... rasanya aneeh?” tanya Sasha setengah meracau akibat mabuk. Pak Anton hanya tersenyum saat melihat rencananya berjalan dengan amat lancar.

“Ah, ini wine dari Prancis. Bagaimana rasanya? Enak tidak?”

“Eemm... Enak siih... tapii badan Sasha kok beginii?” Sasha yang kebingungan mulai berdiri sambil memegang kursi untuk menjaga keseimbangannya.

“Memangnya kenapa?” tanya Pak Anton dengan mata berbinar.

“Badan Sasha rasanya panaas bangeet... Lalu kenapa vaginanya Sasha jadi begini siih?” ujar Sasha sambil mengangkat rok gaun dan petticoatnya tinggi-tinggi tanpa sadar karena mabuk, sehingga celana dalamnya dipamerkan dengan amat jelas di hadapan mata Pak Anton.

Tentu saja mata Pak Anton membelalak saat melihat celana dalam Sasha mulai basah akibat cairan cintanya yang mulai meluber keluar dari vaginanya akibat pengaruh obat perangsang itu, bahkan cairan cinta Sasha tampak sedikit mengalir turun dari paha mulusnya dan terserap sebagian di stocking jaring Sasha. Pak Anton tidak menyangka kalau Sasha rupanya adalah tipe wanita yang amat gampang terangsang.

“Wah, kok begini ya? Bapak juga rasanya aneh nih!” ujar Pak Anton pura-pura bodoh sambil segera melepaskan celananya dan celana dalamnya sehingga penisnya yang memang sedari tadi sudah bertahan mati-matian segera berdiri tegak mengacung ke hadapan Sasha.

Sesaat mata Sasha tampak berbinar melihat penis besar milik Pak Anton yang siap untuk memuaskan nafsu birahinya. Pak Anton lalu mendekat ke arah Sasha, sehingga kini mereka saling berhadapan. Pak Anton lalu meraih dagu Sasha dan mendongakkan wajah Sasha kearah wajahnya. Mata Sasha yang tampak sayu akibat rangsangan obat itu, hembusan nafas Sasha yang tersengal dari mulutnya yang sedikit membuka dan aroma wine bercampur wangi mawar dari tubuh Sasha semakin menggoda nafsu Pak Anton. Pak Anton semakin gemas dengan Sasha dan tidak sabar lagi untuk dilayani oleh pengantin wanitanya itu. Tanpa ditunggu lebih lama lagi, diraihnya pinggang Sasha dan segera dilumatnya bibir Sasha tanpa ampun. Kedua tangan Sasha terjepit dalam pelukan Pak Anton sementara bibirnya yang lembut menjadi sasaran kuluman dan hisapan Pak Anton, seolah bibir mereka direkatkan oleh lem. Pak Anton juga memasukkan lidahnya menjejali rongga mulut Sasha sambil menjilat-jilat seluruh bagian dalam mulut Sasha. Rasa manis wine yang masih melekat dalam mulut Sasha semakin memberi rasa tersendiri bagi Pak Anton, bagai menghisap madu dari mulut sang bidadari dambaan hatinya itu. Pak Anton lalu berlutut di hadapan Sasha, sehingga Sasha kini dalam posisi berdiri membungkuk dihadapan Pak Anton dengan bibirnya yang masih menempel dengan bibir Pak Anton. Pak Anton lalu melepaskan bibir Sasha sejenak.

“Sha, ayo buka mulutmu!” pinta Pak Anton.

Sasha segera membuka mulutnya dengan lebar sambil memejamkan matanya.

Tak lama kemudian, liur Sasha pun meluber dari mulutnya. Pak Anton segera membuka mulutnya lebar-lebar dan mereguk ludah manis yang tertuang turun dari mulut Sasha. Setelah puas meminum madu dari bibir pengantinnya itu, Pak Anton kembali berdiri dan mendorong tubuh Sasha sehingga Sasha jatuh terduduk di kursi balkon itu. Pak Anton berdiri dengan gagah dihadapan Sasha yang terduduk di kursi itu, dimajukannya pinggangnya kedepan sehingga penisnya mengacung tepat dihadapan wajah Sasha. Wajah Sasha tampak penasaran dengan penis Pak Anton itu.

“Ayo, jangan malu-malu! Kamu mau ini kan?” ejek Pak Anton. Sasha yang mabuk berat hanya mengangguk dan segera meraih batang penis Pak Anton.

“Besar... lebih besar dari Aldy... Aku suka deh...” gumam Sasha tanpa sadar sehingga Pak Anton terkekeh-kekeh bangga.

Sasha mulai beraksi, jari-jari lentiknya segera mengocok penis Pak Anton maju-mundur dengan lembut. Rasa sentuhan halus dan lembut dari kain satin sarung tangan Sasha memberi rasa nyaman tersendiri bagi Pak Anton. Sasha membuka mulutnya dan menjilati ujung penis Pak Anton dengan lidahnya. Sesekali juga penis itu dimasukkan sebagian kedalam mulutnya dan diemutnya penis itu seperti mengemut lolipop.

“Ooh... luar biasaa...” seloroh Pak Anton yang tampak menikmati isapan Sasha itu.

Sasha terus menggerakkan kepalanya maju mundur untuk menyambut penis Pak Anton sementara jari-jarinya masih sibuk mengocok penis yang sudah ereksi sepenuhnya itu sehingga penis Pak Anton tampak berkilat akibat pantulan ludah Sasha yang terkena cahaya lampu. Pak Anton tidak mau terhanyut lama-lama dalam sensasi oral mulut Sasha. Ia masih mau merasakan kenikmatan tubuh Sasha seluruhnya. Pak Anton segera melepas penisnya itu dari kuluman Sasha. Ia lalu mendirikan tubuh Sasha, menyuruh Sasha untuk kembali mengangkat rok gaunnya dan melebarkan paha Sasha sehingga selangkangan Sasha terpamer jelas di hadapannya.

“Kyah!” Sasha menjerit terkejut saat jari-jari Pak Anton menelusup kedalam celana dalamnya dan mulai bergerak-gerak pelan disekitar vagina Sasha. Pak Anton lalu menghimpitkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang digunakannya untuk membuka bibir vagina Sasha sambil mengorek liang vagina Sasha sehingga Sasha melenguh-lenguh kenikmatan.

“Mmm... Haah... Ooh... Aach...” desah Sasha saat vaginanya dipermainkan dengan jari Pak Anton.

Pinggang Sasha meliuk-liuk erotis merasakan rasa nikmat di vaginanya. Pak Anton mendorong kedua paha Sasha sehingga Sasha tersandar di pagar balkon kamarnya. Pak Anton yang tidak dapat melihat vagina Sasha yang masih tertutup hiasan renda putih celana dalamnya, meliuk-liukkan jarinya didalam vagina Sasha untuk mencari klitoris Sasha yang masih tersembunyi didalam celah vaginanya. Akibatnya, Sasha semakin tenggelam dalam kenikmatan seksualnya saat vaginanya “digeledah” oleh jari Pak Anton.

“Hyah!” Sasha menjerit saat klitorisnya bersentuhan dengan kuku telunjuk Pak Anton. Pak Anton tersenyum saat menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. Dipencetnya klitoris Sasha dengan kedua jarinya itu dan ditarik-tariknya sedikit klitoris Sasha itu.

“Awwh... awww... ahhh... ooh...” Sasha semakin meracau penuh kenikmatan akibat permainan jari Pak Anton di klitorisnya itu. Vaginanya semakin becek dan kini celana dalamnya benar-benar basah dengan cairan cintanya yang terus meluber hingga membasahi pahanya.

“Gimana, Sha? Enak tidak?” tanya Pak Anton.

“Enak Paak... ookh...mmm...” gumam Sasha dengan mata sayu setengah terpejam.

“Ayo, kamu nungging di balkon, supaya lebih enak!” kata Pak Anton sambil memutar balik badan Sasha sehingga kini Sasha menghadap keluar dari balkon.

Tangan Sasha segera mencengkeram pagar balkon itu dan menopang tubuhnya saat tangan Pak Anton menarik pinggangnya ke belakang. Pak Anton langsung menyibakkan rok gaun Sasha sehingga kini celana dalam Sasha terpampang jelas dihadapan Pak Anton. Pak Anton lalu berlutut dibelakang pantat Sasha yang menungging. Tanpa menunggu lama, celana dalam Sasha dilorotkan hingga terlepas dari selangkangan Sasha. Kini pantat Sasha terpampang jelas dihadapan wajah Pak Anton.

“Nnghhh...” Sasha menggeliat pelan saat telapak tangan Pak Anton menjamah vaginanya. PLEK, PLEK!! Terdengar suara becek saat Pak Anton menepuk-nepuk permukaan vagina Sasha. Sasha yang mabuk dan terpengaruh obat perangsang sudah kehilangan kesadaran untuk berpikir. Mulutnya hanya mengeluarkan desahan-desahan yang semakin menggoda Pak Anton.

“AACH!” Sasha menjerit saat jari tengah Pak Anton menusuk lubang pipisnya. Walaupun sudah tidak perawan lagi, namun penetrasi mendadak jari Pak Anton tetap saja sedikit menyakiti Sasha. Jari Pak Anton dengan gampangnya terbenam didalam vagina Sasha karena liang vagina Sasha yang sudah amat becek akibat terangsang berat. Sejenak Pak Anton mendiamkan Sasha sebelum kembali membuka lebar bibir vagina Sasha dengan tangannya yang lain.

“Ahaakh... Awwh...” Sasha merintih saat merasakan jari telunjuk Pak Anton kini juga ikut memasuki vaginanya. Setelah memastikan bahwa kedua jarinya itu sudah masuk sepenuhnya kedalam vagina Sasha, Pak Anton segera menggerakkan kedua jarinya maju mundur dengan cepat sehingga Sasha menjerit-jerit penuh kenikmatan. Tidak ketinggalan, Pak Anton juga menggunakan jari telunjuknya yang lain untuk mempermainkan klitoris Sasha.

“Kya! Haah! Akh! Aww... aww...” jerit Sasha saat merasakan gerakan cepat dari kedua jari Pak Anton yang memberinya sensasi kenikmatan yang luar biasa dalam vaginanya. Denyutan vagina Sasha juga bisa dirasakan dengan jelas oleh Pak Anton lewat jarinya.

Sasha benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan gejolak birahi dalam tubuhnya. Pengaruh obat perangsang itu juga begitu hebat karena setiap kali vaginanya ditusuk oleh jari-jari Pak Anton, ada sensasi rasa nyaman yang sedikit memberi kelegaan yang memancar dari vagina Sasha kesetiap simpul sarafnya. Apalagi dengan kiltorisnya yang digesek-gesek oleh jari Pak Anton semakin membuatnya menggeliat liar. Tiba-tiba, Sasha dan Pak Anton melihat cahaya lampu menyala di teras villa tetangga yang berjarak sekitar 50 meter dari villa Pak Anton.

Pak Anton segera menghentikan aksinya sejenak, sehingga Sasha langsung ambruk kelelahan di pagar balkon villanya.

“Ahh...” Sasha terengah-engah kelelahan sambil berusaha menghirup udara segar untuk mengistirahatkan sendi tubuhnya.

Seorang laki-laki paruh baya lalu keluar ke teras villa itu sambil membawa koran sore hari; ia segera duduk di sofa teras villanya, memasang earphone di telinganya untuk mendengarkan musik sambil membaca koran itu. Mungkin karena ia sangat berkonsentrasi membaca koran itu, ia tidak menyadari kalau Sasha sedang dipermainkan oleh Pak Anton tepat di sebelahnya. Padahal apabila ia menoleh ke kiri, sudah tentu ia bisa melihat dengan jelas pemandangan Sasha yang sedang menungging kelelahan dengan tangan-tangan Pak Anton yang masih melekat di vagina Sasha. Pak Anton kembali mendapatkan ide licik. Mendadak tangannya kembali bergerak mengocok vagina Sasha tanpa aba-aba.

“Hymphh!” Sasha yang hendak menjerit segera menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya sehingga suara jeritannya teredam.

Walaupun mabuk berat, setidaknya Sasha masih bisa mempertahankan akal sehatnya untuk tidak menjerit-jerit dihadapan Pak Halim, tetangga Pak Anton itu. Sarung tangan satin Sasha tampak cukup efektif untuk meredam suaranya. Pak Anton terkekeh-kekeh berusaha menahan tawa saat melihat Sasha menutup mulutnya.

“Lho? Kenapa kamu tutup mulut? Ayo dong, nyanyi lagi seperti barusan! Supaya didengar Pak Halim!” ejek Pak Anton lewat bisikan di telinga Sasha sambil mempercepat gerakan jarinya sehingga Sasha makin kewalahan menahan suaranya.

“Hhrmphh... mmmphh!! Mph!!” Suara-suara tertahan kian bergema didalam mulut Sasha. Walaupun tangannya kian erat menutupi mulutnya, namun Sasha tidak mampu untuk menahan suaranya lebih lama lagi, apalagi saat merasakan orgasmenya kian mendekat. Suara-suara jeritan Sasha sesekali terdengar saat ada celah di jari-jari Sasha. Namun suara itu juga tidak begitu jelas terdengar. Andaikata Pak Halim tidak ada disitu, Sasha sudah pasti menjerit-jerit dengan keras karena kenikmatan di vaginanya itu.

Pak Anton terus berusaha untuk membuat Sasha takluk dan menjerit untuk mempermalukan Sasha, namun tetap saja Sasha bersikeras untuk menutup mulutnya. Anehnya, suasana tegang karena takut ketahuan justru memberikan dorongan seksual tersendiri bagi Sasha.

“HMPP...PPF!! MMM!!!” Dengan diiringi lenguhan tertahan yang keras, mata Sasha membelalak, seluruh otot tubuhnya menegang dan punggungnya melengkung ke atas.

Pak Anton terkejut saat jarinya tiba-tiba terasa terjepit oleh dinding-dinding vagina Sasha sebelum dibasahi oleh hangatnya cairan cinta Sasha yang mengucur dengan deras dari vagina Sasha. Rupanya Sasha berhasil mencapai orgasmenya sekali lagi. Sasha menyandarkan kepalanya ke pagar balkon villa itu untuk beristirahat. Nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan.

“Wah, hebat juga orgasmenya! Ayo, kita lanjut ke ronde dua!” Dengan penuh semangat, Pak Anton melucuti seluruh celananya sehingga penisnya yang besar langsung mengacung tegak dihadapan vagina Sasha yang masih tertungging lemas di pagar balkon.

Diolesinya penisnya dengan cairan cinta Sasha yang masih tersisa di telapak tangannya sambil sesekali mengurut penisnya, Pak Anton sesekali juga mencolek-colek vagina Sasha untuk mengambil cairan cinta Sasha untuk kemudian dipergunakannya cairan itu sebagai pelumas penisnya. Setelah beberapa lama, penis Pak Anton pun kembali berkilauan akibat olesan dari cairan cinta Sasha. Pak Anton segera merangkul pinggang Sasha sambil memposisikan kepala penisnya dibibir vagina Sasha.

“Ookh... Oohh!” tanpa sadar Sasha lupa untuk menutup mulutnya dengan tangan sehingga terdengarlah suara lenguhannya saat penis besar Pak Anton memasuki vaginanya. Pak Anton terdiam sejenak karena sadar bahwa suara itu bisa saja terdengar oleh Pak Halim. Namun anehnya, Pak Halim masih sibuk membaca korannya dengan wajahnya yang tertutup lembar-lembar koran itu. Sepertinya earphone di telinganya disetel dengan volume yang tinggi sehingga ia sulit mendengar suara disekitarnya.

Belum puas mengerjai Sasha, Pak Anton menarik pinggang Sasha kearah kanan plafon itu sehingga kini posisi Sasha menungging tepat didepan balkon Pak Halim. Seolah hendak memamerkan caranya menggagahi pengantinnya itu kepada Pak Halim.

“Eeghmmm...” desah Sasha sambil sedikit menutup mulutnya kembali saat Pak Anton memajukan pantatnya perlahan sehingga penisnya semakin terbenam di dalam lubang pipis Sasha.

Sasha tidak merasa begitu sakit lagi karena lubang vaginanya terbuka lebih lebar sedikit akibat dionani dengan dua jari Pak Anton sebelumnya. Malah Sasha merasa nikmat sekali dengan sensasi gesekan antara dinding vaginanya dengan penis besar milik Pak Anton. Rasa sesak akibat diameter penis Pak Anton yang memenuhi rongga vagina Sasha juga memberi sensasi tersendiri yang merangsang syaraf-syaraf vagina Sasha.

“Hmmm...” Sasha mendesah pelan dengan mulut tertutup saat Pak Anton perlahan-lahan menarik keluar penisnya dari vagina Sasha hingga hanya tersisa pangkal penisnya yang masih terbenam dalam vagina Sasha. Rasa gesekan di klitoris Sasha yang tergesek saat penis itu ditarik mundur memberi sensasi rasa geli yang menggelitik tiap syaraf di vagina Sasha.

“MMMPH!” Sasha menjerit saat tiba- tiba Pak Anton menghentakkan pinggangnya maju kedepan sehingga penisnya langsung tertancap membenam hingga kedasar liang vagina Sasha.

Pak Anton lalu mencengkeram pinggang Sasha dan menggoyangkannya pelan-pelan sehingga penisnya mengaduk-aduk kemaluan Sasha. Pak Anton juga kembali memijat pinggang Sasha seperti sebelumnya sehingga Sasha semakin kewalahan akibat tambahan rasa nikmat yang mendera tubuhnya.

“Mmm... mmm... mmm...” Sasha hanya menggoyang-goyangkan kepalanya menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya itu sementara kedua tangannya masih sibuk menutupi mulutnya dengan erat. Pak Anton membiarkan Sasha terbiasa dengan sensasi akibat goyangan pinggangnya selama beberapa menit sebelum ia tiba-tiba melepaskan pinggang Sasha.

“Hmm?” Sasha terkejut sesaat. Sasha segera menoleh kebelakang melihat Pak Anton dengan raut wajah kecewa karena kenikmatannya terhenti.

“Ayo, giliran kamu yang goyang!” perintah Pak Anton.

Tanpa ragu lagi, Sasha segera menggoyangkan pantatnya untuk mempermainkan penis Pak Anton dengan vaginanya. Pantat Sasha bergoyang naik-turun menarik keluar sebagian penis Pak Anton sebelum Sasha menghentakkan pantatnya mundur tiba-tiba sehingga penis Pak Anton langsung terbenam dengan cepat ke dalam vaginanya.

“Huaah... aagh... egh...” Pak Anton mendesah penuh kenikmatan saat merasakan rasa hangat dan lembut dalam vagina Sasha yang terus memainkan penisnya dengan goyangan-goyangan erotis pantatnya.

Pak Anton terus meresapi kenikmatan dalam rongga vagina pengantin cantiknya itu. Betapa bangganya Pak Anton saat mengingat kesuksesannya untuk mendapatkan layanan khusus dari liang vagina Sasha yang begitu banyak diincar oleh para lelaki di kantor mereka. Lama kelamaan, Pak Anton merasa bosan dengan goyangan Sasha walaupun penisnya terasa cukup nikmat. Pak Anton sudah cukup bersabar dengan goyangan Sasha dari tadi untuk menarik perhatian Pak Halim yang dari tadi masih saja menempelkan matanya di koran. Harapannya untuk mempermalukan Sasha dengan cara mempertontonkan adegan dimana Sasha yang masih berbusana pengantin sedang memompa penisnya maju mundur kepada Pak Halim mulai sirna.

“Sialan si Halim itu! Padahal ada pemandangan bagus begini, malah koran yang dilihatnya! Dasar kutu buku tolol! Buta apa?!” umpat Pak Anton dalam hati.

Pak Anton yang sudah tidak sabar lagi segera mencengkeram pinggang Sasha dan menghentakkan pinggangnya dengan keras kedalam vagina Sasha.

“AAH!” Sasha menjerit keras.

Karena dilakukan secara mendadak, Sasha yang terkejut tanpa sadar melepaskan tangannya sehingga suara jeritannya meledak. Pak Anton yang kesal terus menghentak-hentakkan penisnya didalam vagina Sasha. Sasha tahu tangannya kini tidak akan cukup lagi untuk mehanan suaranya, sehingga Sasha tidak punya pilihan lain selain menyumpal mulutnya dengan kain slayer yang tersibak kewajahnya dan menggigit kain itu sekeras mungkin untuk menahan jeritan histerisnya yang siap untuk meledak kapan saja. Selama 5 menit, Pak Anton memompa penisnya keluar masuk dari vagina Sasha. Suara yang keluar dari mulut Sasha sudah tidak jelas sama sekali apakah itu suara desahan, jeritan atau erangan. Sasha benar-benar merasa tersiksa karena jeritannya tertahan dan rasa sakit di tenggorokannya akibat suaranya diredam paksa.

“Hrggh... Eerghh...” Pak Anton tidak bisa lagi berlama-lama menahan dirinya. Dengan diiringi sebuah hentakan keras ke dalam vagina Sasha, Pak Anton pun menggeram keras dan menyemburlah sperma Pak Anton kedalam vagina Sasha.

“Hmm... phh??” Sasha terkejut sejenak saat merasakan sperma Pak Anton menyemprot hingga ke dasar vaginanya. Pak Anton membiarkan penisnya tertancap kedalam vagina Sasha sejenak untuk mengeluarkan seluruh spermanya itu.

Saat penis itu tercabut dari vagina Sasha, tampak lelehan putih sperma Pak Anton ikut keluar dari celah-celah vagina Sasha yang masih menungging itu. Pak Anton tersenyum puas dan dibelainya tubuh Sasha. Namun tiba-tiba ia merasakan tubuh Sasha bergetar pelan seperti menggigil ssat membelai Sasha. Pak Anton dengan perasaan cemas segera melihat keadaan Sasha. Betapa terkejutnya Pak Anton saat melihat wajah Sasha yang sudah berlinangan air mata sedang menangis sesunggukan dengan slayer yang masih tersumpal didalam mulutnya. Entah bagaimana, hati Pak Anton terasa sakit dan kasihan melihat Sasha yang tampak tersiksa itu. Bagaimanapun juga ia menikahi Sasha atas dasar rasa cintanya pada wanita itu sejak dulu dan mungkin perbuatannya untuk balas dendam dengan mempermalukan Sasha sudah kelewatan sehingga malah menyakiti wanita yang dicintainya itu. Pak Anton segera mengusap airmata dari wajah Sasha dan merangkulnya dari belakang. Dilepasnya slayer yang masih digigit oleh Sasha dengan pelan. Pak Anton bisa merasakan getaran tubuh Sasha dan juga peluh yang membasahi sekujur tubuh wanita malang itu.

Part 5


EmoticonEmoticon