Serbubet - Nah, sekarang kamu sudah wangi dan bersih! Ayo, kita bersiap-siap! tegas Pak Anton yang kembali menggandeng Sasha keluar dari kamar mandi itu dan membawanya ke kamar tidur.
Sesampainya di kamar, Pak Anton segera melepas handuk Sasha sehingga tubuh telanjang bulat milik Sasha kembali terpampang jelas. Pak Anton merangkul punggung Sasha dan mendorongnya kearah depan sambil membenamkan wajahnya dibelahan dada Sasha yang indah dan wangi itu. Sasha membiarkan Pak Anton menikmati dadanya yang empuk sepuas hati. Kedua puting payudara Sasha lalu dicubit-cubit pelan oleh Pak Anton sambil sesekali meremas kuat dada Sasha dengan gemas. Pak Anton menggosok-gosokkan wajahnya dengan pelan untuk membelai payudara Sasha sehingga kulit payudara Sasha terasa geli saat kumis Pak Anton menggosok permukaan payudaranya itu. Setelah puas bermain-main dengan dada empuk Sasha, Pak Anton lalu membongkar koper milik Sasha. Dipilihnya sehelai celana dalam mini semi transparan dari nilon yang berwarna putih lembut dengan renda-renda feminin dan sebuah bra strapless berwarna putih susu untuk dipakai Sasha. Pak Anton juga mengeluarkan sebuah stocking jala berwarna putih dari koper Sasha. Tangan Sasha direntangkan dan Pak Anton segera memakaikan bra strapless itu untuk menutupi dada Sasha. Pak Anton sengaja memasangkan kait bra Sasha 1 tingkat lebih erat, sehingga kedua payudara Sasha terhimpit dan menampilkan belahan dada Sasha yang begitu indah. Dada Sasha terasa sesak akibat tekanan bra itu. Sasha juga dipakaikan celana dalam mini yang diambil Pak Anton. Celana dalam Sasha menampilkan bayangan pantatnya yang bulat dan montok karena celana dalam itu semi transparan. Andai saja tidak ada sulaman renda dibagian depan celana dalam itu, sudah pasti vagina Sasha terpampang dengan amat jelas. Celana dalam itu merupakan celana dalam favorit Sasha yang sering dipakainya sebelum bercinta dengan Aldy. Setelah bra dan celana dalam Sasha terpasang, Pak Anton segera memakaikan stocking jaring milik Sasha. Pak Anton berulangkali menelan ludah saat meraba paha Sasha yang mulus ketika memasangkan stocking Sasha itu. Setelah semua pakaian dalam Sasha terpasang ditubuh molek itu, Pak Anton tersenyum puas melihat Sasha yang berdiri di hadapannya dengan busana yang begitu seksi dan menggoda.
Nah, kamu tunggu dulu sebentar di dalam sini! Saya sudah memanggilkan juru rias khusus untukmu. Biar nanti dia yang mengurus soal tata riasmu! ujar Pak Anton sambil meninggalkan Sasha didalam kamar itu.
Begitu pintu kamar itu tertutup, Sasha segera jatuh terduduk di ranjang tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Air matanya menetes dan perasaannya campur aduk menyiksa batinnya. Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan sekarang? Sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, seharusnya ia dengan setia menunggu kepulangan Aldy di rumah. Namun saat ini ia malah berada di villa megah atasannya sendiri dan bersiap-siap untuk mengkhianati suami yang dicintainya sekaligus merendahkan martabatnya dengan menerima tawaran menikah siri dari atasannya itu. Sasha pun semakin terhanyutkan oleh pikirannya. Apakah yang dilakukannya ini salah? Sebenarnya ia hanya melakukan yang terbaik demi keutuhan rumah tangganya. Lagipula, andai saja Aldy bekerja dengan jujur, maka ia tidak perlu mengalami hal seperti ini.
Sasha, ingat kalau masalah ini adalah akibat ulah Aldy! Untuk apa kamu tetap setia padanya?! Dia yang membuatmu mendapat masalah seperti ini, bukan?! Kembali pernyataan Pak Anton beberapa hari yang lalu itu terngiang di kepala Sasha. Sesaat Sasha tersentak sejenak mengingat pernyataan itu.
Memang benar! Ini semua salah Aldy! Yang kulakukan ini juga demi dirinya dan demi keluargaku! Lagipula, Aldy sudah tidak jujur padaku! Untuk apa pula aku harus jujur padanya?! pikir Sasha.
Lama kelamaan, pikiran itu semakin menguasai otak Sasha yang berusaha mencari pembenaran atas perbuatannya itu. Akhirnya, Sasha membulatkan tekadnya untuk memberontak dan mengkhianati Aldy sebagai hukuman atas ketidakjujuran Aldy padanya. Bahkan Sasha pun melolosi cincin nikah yang diberikan Aldy padanya dari jari manisnya. Cincin itu pun dilempar Sasha masuk ke dalam kopernya. Pintu kamar itu tiba-tiba diketuk dan dibuka. Masuklah seorang laki-laki feminin yang membawa sekotak alat rias lengkap dan sebuah koper.
Em... Bu Sasha ya? tanyanya agak ragu.
I... iya! jawab Sasha dengan gagap karena agak terkejut dengan kehadiran laki-laki bernama Boyke itu.
Saya Boyke, penata rias anda! Mmm... Anda sudah siap? tanya Boyke itu.
Ya! jawab Sasha mantap.
Bagus deh! Ini, ada beberapa aksesoris yang dipesan Pak Anton untuk Bu Sasha! Katanya, Bu Sasha dipersilakan untuk memilih apapun yang ibu suka. Ujar Boyke sambil membuka koper di tangannya.
Sasha takjub melihat berbagai macam pilihan perhiasan indah yang berkilauan yang terpampang didalam koper itu. Betapa perhatiannya Pak Anton! pikir Sasha. Banyak perhiasan mahal yang sudah lama ingin dibeli Sasha namun tidak kesampaian karena dilarang oleh Aldy. Namun kini, perhiasan-perhiasan itu terpampang jelas di hadapannya dan Sasha boleh memilih sesuka hatinya!
Pak Anton perhatian ya, Bu! Ini semua aksesoris mahal yang khusus diimpor dari luar negeri lhoo! puji Boyke.
Hati Sasha pun luluh mendengar pujian Boyke. Pak Anton rela bersusah payah membelikannya perhiasan-perhiasan yang indah dari luar negeri yang pastinya amat mahal. Aldy saja cerewet apabila Sasha mau membeli perhiasan lokal. Padahal Aldy memiliki uang hasil penggelapan pajak itu. Sasha mulai menyesal mengapa ia mengacuhkan Pak Anton yang rupanya amat menyayanginya? Bahkan melebihi Aldy, suaminya sendiri. Tekad Sasha pun semakin bulat untuk menerima pinangan Pak Anton.
Mas Boyke! Tolong rias saya sebaik mungkin! Saya mau menjadi pengantin yang pantas untuk Pak Anton! perintah Sasha kepada Boyke, yang hanya tertawa kecil melihat kesiapan Sasha.
Beres deeh! Ayo, busana pengantinnya sudah siap kan, Bu? tanya Boyke yang dibalas dengan anggukan mantap Sasha.
Ya! Akan kutunjukkan! Walaupun aku seorang wanita, aku juga bisa berontak! Kalau Aldy tidak jujur padaku, maka ia harus menerima akibatnya sendiri! teriak Sasha dalam hatinya sambil menghapus bekas air mata di pipinya.
Sasha sekarang sudah tidak peduli lagi dengan tampang maupun usia Pak Anton. Sekarang yang tersisa dalam hatinya hanyalah kebencian yang menggantikan cintanya pada Aldy dan keinginan kuat untuk memberontak dan memberi pelajaran atas ketidakjujuran Aldy. Jam sudah menunjukkan waktu pukul setengah empat sore, sementara Pak Anton yang kini tampak gagah dengan tuksedo hitammnya dengan sabar menunggu di paviliun villa itu. Paviliun itu terletak dibelakang bangunan utama yang dikelilingi taman bunga dan sebuah kolam kecil. Di paviliun kecil itu sudah disiapkan berbagai macam keperluan pernikahan mereka.
Taman villa itu sudah didekorasi untuk pesta taman yang dilengkapi pula dengan sebuah bangku putih yang dihiasi rangkaian bunga untuk singgasana pengantin. Pak Anton juga sudah mengatur ruang tamunya sedemikian rupa untuk acara pesta dalam rumah. Belasan orang berkeliaran disekitar villa itu sambil mempersiapkan kebutuhan pesta untuk acara pernikahan Pak Anton dan Sasha. Beberapa orang undangan mulai berdatangan ke villa Pak Anton. Para undangan itu semuanya merupakan kerabat, relasi maupun kenalan Pak Anton, termasuk para tetangga di sekitar villa itu. Tidak ada satupun karyawan kantor mereka yang diundang karena Pak Anton telah berjanji untuk merahasiakan pernikahan mereka dari para pegawai kantor itu. Pak Anton dengan gembira menyambut para tamunya itu dan berbincang-bincang sejenak dengan mereka sambil menunggu Sasha. Setelah beberapa lama, akhirnya penghulu mereka tiba dan segera memasuki paviliun itu untuk memulai upacara pernikahan, namun Sasha belum juga muncul. Selama sepuluh menit setelah penghulu pernikahan itu tiba, Sasha masih belum juga menampakkan dirinya, sehingga para undangan bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sang mempelai wanita yang masih belum sempat ditemui oleh mereka. Rasa penasaran menyelimuti para undangan yang tidak sabar untuk melihat penampilan dan kemunculan sang mempelai wanita. Alyssa yang sudah bangun juga dipakaikan sebuah ball gown putih dan ikut menunggu kemunculan Sasha sambil digendong oleh seorang baby sitter khusus yang disewa Pak Anton untuk menyaksikan pernikahan kembali ibunya itu. Pak Anton mulai risih menunggu Sasha. Pak Anton sedikit cemas karena takut Sasha akan membangkang. Ia pun berniat untuk menemui Sasha untuk melihat keadaan Sasha dan menyeretnya ke pelaminan bila perlu. Namun, belum sempat Pak Anton beranjak pergi, terdengarlah melodi lagu pernikahan yang merdu dari speaker-speaker yang terpasang disekitar villa itu. Pak Anton dan segenap hadirin terpana saat melihat penampilan Sasha sebagai seorang pengantin wanita sedang berdiri dipintu belakang villa itu sambil digandeng oleh Boyke.
Suasana mendadak hening sejenak saat Sasha perlahan-lahan berjalan menuju paviliun tempat Pak Anton berdiri, hanya terdengar melodi syahdu dari lagu pernikahan yang mengalun mengiringi langkah anggun Sasha. Suara detakan dari langkah Sasha yang bersepatu hak tinggi terdengar berirama. Para hadirin hanya tertegun dan takjub melihat penampilan Sasha yang bagaikan seorang dewi itu. Bahkan Alyssa yang tadinya agak rewel, ikut terdiam sejenak melihat penampilan ibunya itu. Tatapan matanya seolah tidak bisa lepas dari tubuh Sasha yang terus berjalan menuju paviliun tempat calon suaminya itu menunggu. Sasha kembali mengenakan gaun pengantin yang terakhir kali dikenakannya saat menikah dengan Aldy. Gaun pengantin yang berbahan satin dan berwarna putih terang dengan model strap tampak serasi dengan warna kulit Sasha yang putih mulus. Pundak Sasha digantungi strap gaunnya yang dihiasi dengan bunga-bunga mawar putih kecil yang terbuat dari satin sehingga atasan gaun itu tampak seperti sebuah bra dengan tali-tali yang tersusun dari rangkaian bunga. Sebuah pita chiffon putih dengan sebutir permata pink imitasi ditengahnya tampak terpasang didada Sasha, menghiasi belahan dada cantik milik Sasha. Sulaman manik-manik yang berbentuk bunga-bunga kecil tampak bertaburan menghiasi atasan gaun itu. Dengan jahitan polos di bagian pinggang, lekuk pinggang ramping Sasha yang elok tampak terpampang jelas. Hiasan gaun dipinggang Sasha berupa sebuah jahitan dua helai kain sutra berwarna pink lembut yang melebar disisi kanan-kiri rok gaun Sasha yang berwarna putih dan disatukan oleh pita berbentuk bunga di pinggul Sasha, sehingga rok Sasha seolah tampak bersayap. Rok gaun Sasha yang halus dan lembut bermodel lipatan seperti sebuah tirai, namun rok yang tampak mengembang akibat petticoat yang dipakai Sasha sebagai rok dalam itu terjuntai hingga menutupi kaki Sasha itu tampak cantik dengan sulaman pita-pita kecil yang mengelilingi rok gaun itu. Sepasang sarung tangan satin putih yang panjangnya selengan menutupi kedua tangan Sasha seolah melindungi lengan halus dan jari-jari lentik sang bidadari yang sedang mengggenggam serangkaian bunga-bunga putih.
Pergelangan tangan Sasha tampak dipasangi dengan seuntai gelang perak dengan giring-giring kecil disekeliling gelang itu yang bergemerincing kecil saat Sasha berjalan. Seuntai kalung mutiara dari Jepang melingkari jenjang leher Sasha, sementara sebuah tiara perak bertaburkan permata kecubung berwarna pink yang diimpor dari Italia menghiasi dahi Sasha. Rambut Sasha yang panjang dibiarkan tergerai bebas dan sehelai slayer sutra putih yang berpita diselipkan di sela-sela rambut Sasha untuk menutupi wajahnya. Walaupun wajah Sasha tertutup oleh motif bunga-bunga slayer itu, para hadirin masih bisa melihat kecantikan wajah Sasha. Aroma mawar yang terpancar dari tubuh Sasha diperkuat lagi dengan semprotan parfum mawar di gaunnya itu. Sasha akhirnya tiba di paviliun itu. Pak Anton masih tampak terkesima, namun lamunannya segera buyar saat Sasha mengulurkan sikunya untuk digandeng oleh Pak Anton. Tanpa menunggu lebih lama, Pak Anton segera menyambut uluran tangan Sasha dan mereka berdua pun berjalan bergandengan kehadapan penghulu yang sudah berdiri didepan sebuah meja yang ditata untuk keperluan upacara itu. Sesampainya di hadapan penghulu, kedua mempelai lalu berlutut didepan meja itu. Suasana hening kembali menyelimuti paviliun itu saat mereka mengheningkan cipta sejenak yang dilanjutkan dengan upacara pemberkatan kedua pengantin. Sasha tidak begitu menyimak perkataan-perkataan dari penghulu itu. Ia hanya terdiam melamun, merenungkan keadaannya sekarang dan kesiapan dirinya untuk melayani Pak Anton sebagai seorang istri setelah upacara ini selesai. Menit-menit upacara itu pun berlalu tanpa disadari Sasha. Wajahnya yang tertutup oleh slayer mengakibatkan orang-orang disekitarnya tidak sadar bahwa Sasha sedang melamun.
Nona Izumi Toyama? tiba-tiba penghulu itu memanggil Sasha dengan nama aslinya.
Eh? Sasha terkejut dan lamunannya pun buyar dalam sekejap saat mendengar nama aslinya disebut oleh penghulu itu. Maklumlah, tidak ada yang memanggilnya dengan nama Izumi selain orang tuanya.
Apakah anda bersedia menerima Anton Adiharyono sebagai suami anda? tanya penghulu itu dengan serius. Rupanya acara pengukuhan janji pernikahan sudah dimulai.
I... iya! jawab Sasha gagap, masih dalam keadaan terkejut. Pak Anton hanya tersenyum melihat tingkah pengantinnya itu.
Bersediakah anda menerima dan hidup bersamanya dalam suka-duka hingga maut memisahkan?
Ya, saya bersedia. Jawab Sasha.
Mantri itu menyodorkan sehelai surat nikah kontrak kepada kedua mempelai itu. Pak Anton lalu membaca sejenak surat itu sebelum menandatangani nama Anton Adiharyono di surat itu. Surat itu beserta sebuah bolpen lalu disodorkan ke hadapan Sasha. Tanpa membaca lebih lanjut isi surat itu, Sasha segera membubuhkan tandatangannya diatas nama Izumi Toyama.
Ayo kita mulai, Sasha. ujar Pak Anton sambil menarik pelan pergelangan tangan Sasha sehingga tangan Sasha mengulur kehadapan Pak Anton.
Salah seorang saksi laki-laki menyodorkan dua kotak cincin. Pak Anton mengambil salah satu kotak itu dan membukanya. Mata Sasha berbinar melihat isi kotak itu yang berupa sebuah cincin nikah dari emas murni yang bertahtakan berlian. Sementara itu, seorang saksi yang lain melepaskan sarung tangan di tangan kanan Sasha, sehingga tampaklah jari-jari lentik Sasha yang terulur dihadapan Pak Anton. Pak Anton segera memasangkan cincin itu ke jari manis Sasha, di mana dulunya terpasang cincin kawin Aldy-Sasha. Sasha kemudian membuka kotak cincin lainnya dan memasangkan sebuah cincin platina di jari manis Pak Anton.
Nah, Bapak Anton Adiharyono, dipersilahkan untuk membuka tudung pengantin Nona Izumi! ujar penghulu itu pada Pak Anton.
Pak Anton mendekat dan mengangkat tudung pengantin Sasha melewati kepala Sasha. Sejenak Pak Anton dan para hadirin terkesima melihat kecantikan wajah Sasha seutuhnya. Alis hitam Sasha yang ditebalkan sedikit oleh Boyke dengan eye-pencil tampak sangat serasi dengan bulu-bulu mata Sasha yang dilentikkan dan dipercantik dengan sapuan warna eye-shadow pink yang lembut berkilau dikelopak mata Sasha. Dengan riasan make-up di pipi Sasha, pipinya tampak merah merona alami sehingga kian memancarkan kombinasi yang indah dengan bibir mungilnya yang diolesi lipstik pink tipis. Riasan wajah Sasha yang sederhana itu justru semakin memunculkan pesona kecantikannya yang alami. Sasha lalu membuka matanya yang masih tertutup dan Pak Anton semakin terpesona melihat sepasang bola mata indah berwarna biru cemerlang dari lensa kontak yang dipasangkan di mata Sasha.
Silahkan mencium pengantin anda, Pak! ujar penghulu itu sambil tersenyum. Cium! Cium! terdengar pula seruan-seruan dari para hadirin yang mengikuti prosesi pernikahan itu dari tadi.
Sasha melihat wajah Pak Anton sejenak dan tersenyum manis. Matanya kembali ditutup dan bibirnya dibuka sedikit. Pak Anton pun segera merangkul pinggang Sasha dan mendekatkan wajah Sasha sebelum akhirnya sebuah ciuman didaratkannya di bibir mungil sang pengantin wanita disertai dengan tepuk tangan meriah dan sorakan yang riuh dari para undangan.
Pesta pun dimulai hingga malam harinya. Para undangan ikut memberi komentar tentang kecantikan Sasha dan betapa beruntungnya Pak Anton yang bisa memperistri seorang wanita secantik itu. Banyak rekan Pak Anton yang mengucapkan selamat dan beberapa diantaranya menghadiahkan berbagai kado untuk Pak Anton. Sasha hanya terduduk di singgasana pengantinnya sambil berusaha untuk bersikap ramah pada para undangan itu, walaupun sebenarnya ia amat kebingungan dan merasa asing karena tidak ada seorangpun yang ia kenal hadir di pesta itu. Akhirnya pesta itu usai, semua undangan dan pelayan pun sudah pulang sehingga dirumah itu kini hanya ada Pak Anton, Sasha dan Alyssa. Alyssa sudah tertidur di kamar Pak Anton dan Sasha. Sementara itu, Pak Anton dan Sasha yang masih berbusana pengantin sedang berduaan di balkon kamar itu sambil menikmati pemandangan malam yang romantis. Sambil menatap panorama alam yang indah itu, Sasha juga mengutarakan perasaannya sekarang tentang Aldy pada Pak Anton, sehingga Pak Anton semakin bahagia mengetahui kalau Sasha dengan tulus menerima kawin kontrak itu dan tidak ada bayangan Aldy yang mengusik hati Sasha saat ini. Pak Anton memeluk tubuh Sasha dari belakang sambil meresapi aroma wangi yang terpancar dari tubuh pengantinnya itu dan mengelus-elus gaun satin Sasha. Sasha sendiri hanya menyandarkan kepalanya ke dada Pak Anton sambil menatap langit, sehingga jenjang lehernya yang indah terpampang jelas dihadapan Pak Anton. Walaupun tampak santai, namun Pak Anton sudah tidak sabar membendung gejolak birahinya yang ditekannya dari tadi. Apalagi sekarang Sasha sudah sah menjadi istrinya lewat kawin kontrak. Tentu saja ia amat bodoh apabila menyia-nyiakan kesempatan ini! Tapi, Sasha tampak mesra didalam pelukannya dan Pak Anton pun tidak mau membuat Sasha marah dengan menyuruh Sasha melayaninya tiba-tiba. Bisa-bisa ia dianggap memperkosa Sasha, padahal Pak Anton mau menyuburkan benih-benih rasa cinta yang dengan susah-payah berhasil ditanamnya didalam hati Sasha lewat pemberian berbagai perhiasan yang mahal untuk Sasha. Pak Anton terus memutar otaknya untuk mencari cara yang tepat agar Sasha bisa melayaninya sepenuh hati. Tiba-tiba, Pak Anton menemukan sebuah ide bagus.
Sasha, kamu haus? tanya Pak Anton dengan nada penuh perhatian.
Sedikit... jawab Sasha tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sebentar ya, kamu duduk saja dulu. Saya punya minuman yang spesial untukmu. Ujar Pak Anton sambil masuk ke dalam villa meninggalkan Sasha yang terduduk sendiri di balkon kamar villa itu.
Sasha kembali terhanyut dalam lamunan saat melihat panorama indah dari balkon itu. Pak Anton lalu memutar lagu sehingga sayup-sayup terdengar alunan lagu romantis dari dalam villa itu. Mendengar melodi lagu-lagu cinta itu, Sasha pun segera ikut bernyanyi mengikuti irama lagu itu, sehingga suara merdunya terdengar jelas hingga kedalam villa dari balkon tempatnya terduduk. Pak Anton semakin kagum dengan Sasha yang rupanya memiliki suara yang amat merdu. Pak Anton berhasil menemukan sebotol red wine yang sengaja dibelinya untuk acara itu. namun ia tidak buru-buru menghidangkannya untuk Sasha. Dibiarkannya Sasha bernyanyi sepuas hati dulu. Setelah beberapa menit berlalu dan suara Sasha mulai terdengar pelan karena haus, Pak Anton segera beraksi. Diolesinya pinggiran gelas Sasha dengan obat perangsang cair dan dua butir pil perangsang lainnya dicampurkan kedalam wine itu.
Bagaimana? Sudah selesai konsernya? tanya Pak Anton sambil tersenyum saat memasuki balkon itu. Suara kamu merdu sekali! Sudah pernah ke dapur rekaman? goda Pak Anton sehingga Sasha tampak tersipu-sipu malu. Pak Anton menuangkan wine ke sepasang gelas yang diletakkan diatas meja.
Kamu haus kan? Nah, ini dia! Pasti enak! kata Pak Anton sambil menyodorkan segelas wine ke Sasha.
Eh? Ini... ini wine ya, Pak? tanya Sasha dengan nada ragu-ragu.
Iyalah! Ini khusus saya beli untuk kamu! Memangnya kenapa?
Mmm... Saya... tidak tahan dengan alkohol Pak... jawab Sasha murung.
Aah, sudahlah! Coba saja dulu, enak kok! Kamu haus kan? ujar Pak Anton sambil mereguk segelas wine di tangannya. Sasha hanya terdiam ragu-ragu sambil mengamati wine yang masih tersimpan di gelasnya, warna ungu kemerahan berkilau dan aroma anggur yang pekat tercium dari wine itu. Sasha merasa agak pusing saat menghirup aroma wine itu. Sasha memang benar-benar lemah dengan alkohol sejak kecil dan gampang mabuk, bahkan saat mencicipi sedikit minuman beralkohol.
Lho, kok bingung? Ayo dicoba dulu, kan cuma sedikit! Kalau kamu tidak suka, saya tidak akan memberimu wine lagi. bujuk Pak Anton.
Sasha agak ragu, namun akhirnya diminumnya juga wine itu. Rasa manis anggur dan sensasi melayang sejenak terasa di kepalanya. Baru kali ini Sasha merasakan kepalanya berputar seperti itu. Anehnya lagi, sekujur tubuh Sasha mulai terasa panas dan jantungnya secara perlahan mulai berdegup dengan kencang.
Bagaimana, enak tidak?
Eeh? Rasanya aneeh... jawab Sasha yang kebingungan dengan reaksi tubuhnya.
Ah masa? Ayo coba lagi! kata Pak Anton sambil menuangkan wine itu ke gelas Sasha sekali lagi.
Tanpa sadar, Sasha kembali mereguk wine itu dan sekali lagi kepalanya terasa berputar. Lama kelamaan, tanpa sadar Sasha sudah meminum 5 gelas wine itu. Sudah pasti, bagi wanita yang lemah dengan alkohol, 5 gelas red wine sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mabuk berat. Wajah Sasha sudah merah merona akibat mabuk dan badannya juga terasa amat panas, seperti ada api yang berkobar didalam tubuhnya. Nafas Sasha mulai terdengar tersengal-sengal mengiringi detak jantungnya yang amat kencang. Namun, hal yang paling aneh yang dirasakan oleh Sasha di tubuhnya adalah vaginanya yang mulai berdenyut-denyut dengan kencang dan gejolak birahinya yang terbangkitkan mendadak seiring dengan denyutan di vaginanya.
Part 4

EmoticonEmoticon