Serbubet - Namanya Inah, seorang wanita janda desa berasal dari kampung. Suaminya
meninggal tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu anaknya
juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Inah
berwajah cukup manis, lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita. rambut
sepundak lebih, hampir seumur adikku. Ia sebagian besar bertugas
mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu
satu temannya bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti
itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang dapat memahami apa yang
diperintahkan adikku, kasihan memang.
Aku termasuk cukup sering berkunjung ke rumah adik. Karena suaminya
sering ke luar kota, sehingga aku terkadang diminta untuk menemani atau
bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah.
Sikapku terhadap Inah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus.
Mereka pun demikian. Inah berpakaian biasa – biasa saja bila di rumah
adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang
kaos yang dipakai Inah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan
badan, sedikit terlihat belahan payudara dada bahkan tetek gunung
kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku
mencuri – curi kesempatan itu.
Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan
pergi hingga sore dan Inah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya
yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah
datang di sana.
“Mas..Inah di rumah, perutnya agak kurang beres. adikku memberi tahu.
“Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas
memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Inah lalu mengunci pagar. Aku
masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena
suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya. Mengecek
email; cari info ini itu dlsb..he3x. 10 menit kemudian Inah menyajikan
segelas es teh untukku. “Makasih ya Tin“, begitu panggilanku terhadap
inah. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Inah. Pembantu – pembantu adikku
memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya,
padahal terdengar sedikit asing di telinga. Inah lalu kembali ke dapur,
aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau
agak mendung.
/cerita dewasa janda desa/ – Inah kembali memasuki ruang keluarga,
merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan
yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan
hal itu. Semula mataku menatap layar komputer di situs DS. Saat Inah
mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru aku
menyadarinya. Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini.
Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara
– gara masuk situs DS jadi mikir macem-macem..hi3x“, pikiranku berkata –
kata. Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Inah bersimpuh
di lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit
longgar memperlihatkan bentuk keindahan yang terbungkus penutup warna
biru. Inah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap
sebagian keindahan tubuhnya.
“Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke
kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer
kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar
mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka celana dan cd lalu
mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan penis yang sedikit
tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada
orang lain kok“, aku mendinginkan diri.
Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer,
melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi
lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan
ngenet. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan
selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry,
“Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku
tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan
dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Inah
sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran
roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan
kamar mandi mereka. 2detik aku dan Inah bertatapan mata, tidak ada
sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Inah sedang mencuci
perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak
ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku
belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi
dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya
tertuju pada air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati
kamar mandi pembantu ada yang special di sana.
”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga
gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya,
setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya
baru aku ngeh..Inah sedang mandi. ”Duhh..kesempatan sangat – sangat
langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin
masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan
dan melewati kamar mandi Inah. Tiba – tiba ”Ahh..ada
kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana.
”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas
saat melewati kamar mandi.
”Pak..Pak”, Inah memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”.
”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya
Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya. Sejak Inah bersuara,
aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak
yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya.
Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo
dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak
masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Inah
tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin
bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah
lagi”, Inah kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena
kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil
sandal dulu”. Sambil tetap menimbang. Aku menaruh gelas di meja makan
lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu. Entah rejeki atau
kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu
diriku. ”Masuk aja Pak”, Inah tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi
sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka
lebih lagi oleh Inah.
Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak
kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Inah
berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan
handuk. Terlihat paha, pundak dan daging susunya. Serta rambut yang
diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya
menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang
disangga tangan kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku
pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku
memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak
ada orang lain lagi di rumah.
”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar
masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu
melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”.
”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Inah tersenyum. ”Bapak nggak cuci
tangan sekalian..di sini saja”, tawar Inah. ”Wah..ini. Makin bikin dag
dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang
ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Inah. Aku menengok ke
belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun,
”Maaf Pak..ini sabunnya”. Inah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun
yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan.
”Makasih ya”, ujarku.
Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak
nggak..sekalian mandi”, tanya Inah. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah
gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini
yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”.
”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”.
”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah
nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di
kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku.
”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya
Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu
yang minta gitu”, jawabku.
/Cerita Ngentot Janda Desa/ – Entah mengapa aku merasa canggung saat
akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke
pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi
dan kuletakkan di meja makan. Posisi Inah masih tetap di belakang pintu,
dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka. Kembali ke
kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di
tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku
sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah
Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Inah. Lalu kubuka jinsku,
kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup
tubuhku, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya.
“Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan
tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja
kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Inah sedikit membesar.
Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Inah menyampirkan handuk
biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih
ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”,
kataku pada sang penis sambil kuelus.
Inah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan.
“Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar,
areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata
dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin
mengembang dan itu jelas dilihat Inah. Kembali sebisa mungkin kutahan
perkembangannya. Inah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak
membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya
mandiin dulu ya”, kata Inah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum.
Inah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan
pundak. Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung
ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher;
pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air
lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku.
“Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”.
Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok
dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan
tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya
lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan
kaki lalu digosoknya. Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi,
kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil
segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari
sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Inah. Kutahan keinginanku untuk
membalas perlakuannya, “biar Inah yang pegang kendali”.
“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian
bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi
belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan
meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“.
Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku
lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah.
Jantungku makin berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Inah. “Makasih ya Tin“.
“Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan
permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya
nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur
ke tubuh depannya. Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun
yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi.
Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan
kugosokkan ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. Kutatap
matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil –
pentilnya. Inah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an
kumainkan pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya
sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan
kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya
kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun
sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan
ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya.
Sedikit berguncang. Dua tangan Inah memegang pinggir bak mandi, mulai erat.
Kumainkan lagi pentil – pentilnya….,Aku merundukkan badan dan kukecup
pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan
kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Inah mulai
mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan
bernada protes, tapi Inah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur
punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat.
Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang.
Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Inah
sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku
senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang
lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan
”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Inah mendesah lagi. Dua pucuk
bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar –
putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan Inah mencengkeram paha
depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung
air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya
dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Inah.
Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan
seiring kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun
telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah
menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai
menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan
kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan –
tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”.
Kuku – kuku jemari Inah terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa
Inah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih
kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada
2 kecup 1 masukkan lidah. Inah terkejut, matanya sedikit membesar tapi
kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama.
Inah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan
”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin
hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya
menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian
berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”,
dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan
”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya
kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.
Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu
kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Inah agak malu rupanya,
tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina
luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai
geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua
tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan
lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari
tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu
kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn
Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak
membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava
kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap
erat Inah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas.
Kepalaku tetap diusap –usap oleh Inah.
/Cerita Hot Ngentot Janda Kampung/ – Ia menarik kepalaku dan menciumnya
ganas. Lambat laun Inah dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas
dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Inah. ”Biasa kok
Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan
bola – bolaku. Inah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang
penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya dulu
sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas. ”Kamu mau ngemut
burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya
nggak usah..nggak pa – pa”. Inah menatapku dan kubelai rambutnya.
Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Inah mulai membuka
mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Inah menatapku
lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju
mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya
muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai
dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis
atau di lubang kencing yang bergaris panjang
ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.
Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling
meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan lagi
tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak
mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Inah. Penisku yang telah
panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup
pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya
terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke
sana kemari.
Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku
mempermainkan rangsangan pada Inah.
”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku
kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya
makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya.
Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang.
”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan –
pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih kuat. Dua
tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya
dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan dalam – dalam.
Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas
bibirnya. Dinding vagina Inah makin hangat dan banjir sepertinya. Dua
tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.Sekarang tanpa hitungan,
kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh..
oohh…hhmmppffftt..”, erang Inah berulang. Sedang aku sedikit menggeram
dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg
Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Inah makin rapat.
Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada
suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat
dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”.
”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di
llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaalllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa
mmassihh aaddaa..”, jawab Inah.
Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku
remas. Dua tangan Inah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram
paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”.
Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan
”ooouuggghhh..”, desah Inah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri
penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak
mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher
belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam –
dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali.
”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya
dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.
Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak
banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra
bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di hangatnya
vagina Inah. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi
sama orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak.
Burung Bapak pas di mpek saya”, Inah menjawab dan mencium bibirku pula.
”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya,
”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu
laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin
mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak kencing
tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas
keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu.
Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya.
”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Inah.
Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi
bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”.
”Heeh..iya Pak”, Inah menjawab sambil tersenyum manis.
Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap
– usap punggung serta kepalanya.

EmoticonEmoticon